Yup! “Lock Screen” Itu Jauh Lebih Baik

Merupakan hal yang lumrah, sebuah handphone menyediakan fasilitas “lock screen” pada tampilannya. Fungsi ini membantu pengguna handphone untuk mengamankan konten handphone-nya dari tangan-tangan selainnya; yang ingin melongok apa isinya. Ada beragam model dan tingkat keamanan “lock screen” ini. Mulai dari menekan tombol * dan #, menggeser layar, mengetikkan kode beberapa angka atau huruf, atau cukup dengan menyentuhkan sidik ibu jari kita. Maka handphone pun siap diakses.

 

Jika sebuah handphone saja memiliki fitur keamanan, bagaimana pulalah dengan diri kita. Diri kita tentu memiliki lebih banyak konten rahasia. Mulai ibadah harian, sedekah yang disembunyikan, aib-aib masa silam, hingga urusan ranjang dengan pasangan. Maka berusahalah untuk menutup rahasia-rahasia itu serapat-rapatnya. Kuncilah lisan kita dari menyombongkan amalan sendiri. Terlebih lagi mengumbar aib diri. Bukankah kita ingin cukup Allah jualah yg mengetahui?

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.” [1]

Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan shalih walaupun hanya sebesar dzarrah. Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?” [1]

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.” (Lihat Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afaniy,hal. 230-232,Darul ‘Afani, cetakan pertama, 1421 H) [1]

Tak hanya amalan shalih, aib-aib diri pun juga bukan hal yang membanggakan tuk disebarluaskan. Dari Abu Barzah Al-Aslamiy; ia berkata, “Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai sekalian manusia yang telah beriman dengan lisannya namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin, dan jangan kalian mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barang siapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya akan disingkap kejelekannya meskipun di rumahnya sendiri.’” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4880; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 3:197; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1, 1419 H). [2]

Jikalau para salaful ummah yang notabene amalan shalihnya saja menggunung lagi aib-aibnya pun sedikit, mereka berusaha sekuat tenaga menyembunyikan keduanya, maka bagaimana pulalah kita manusia akhir zaman yang amalan shalihnya tak seberapa banyak namun dosa-dosanya begitu menggunung? Banggakah kita dengan amal yg sedikit itu? Sukakah kita dengan tersebarnya aib-aib kita itu?

Maka … sungguh jagalah kunci itu erat-erat.

 

Referensi:

[1] http://rumaysho.com/aqidah/tanda-ikhlas-berusaha-menyembunyikan-amalan-656

[2]  http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/03/menutupi-aib-dan-kesalahan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *