subscribe: Posts | Comments | Email

Yang Diingat Saat Capek Mengurus Rumah

11 comments

Berapa banyak buku pernikahan yang sudah anda baca? Saya yakin banyak di antara anda yang sudah sering membaca tulisan-tulisan berisi tanggung jawab dan hak istri. Bahkan sebagian lagi mungkin sudah hapal dengan dalil-dali syar’inya sekaligus.

Dua tahun lebih saya menikah. Ya, belum tiga tahun. Saya merasakan betapa besarnya tanggung jawab seorang istri. Itu baru jadi istri. Karena saya belum jadi ibu.

saya-capek-ngurus-rumah

Mungkin terlalu remeh temeh bagi yang sudah bertahun-tahun menikah. Bisa juga sangat membosankan bagi mereka yang sebelum menikah punya segudang aktivitas beragam. Tapi boleh jadi sangat melelahkan bagi para “puteri” yang terbiasa dilayani pembantu ketika masih serumah dengan orang tua.

Di luar kacamata syar’i menikah bagi saya semacam tantangan. Namun lebih utama sebagai pembelajaran. Tantangan bagaimana bisa membuat mood suami selalu bagus ketika di rumah. Tantangan bagaimana keluarga suami harus jatuh cinta ke saya. Tantangan untuk bisa jadi wanita multi-tasking meski belum punya anak.

Di satu sisi menikah juga membuat kita belajar banyak hal.

Belajar sifat-sifat dan watak suami. Belajar bersabar. Belajar berkompromi dengan keadaan ketika idealitas kita jauh dari kenyataan. Belajar mengatur keuangan. Belajar mengatur waktu untuk bisa mewujudkan obsesi pribadi kita di sela-sela kegiatan mengurus rumah. Ya, itu hanya secuil. Sebab masih banyak lagi yang akan kita pelajari pasca-menikah.

Saya yakin mereka para istri terkadang dilanda rasa capek. Tak terkecuali saya. Kegiatan mengurus rumah, melayani suami, belajar di sekolah, menyelesaikan PR, muraja’ah pelajaran (itu nikmat belum punya anak, begitu kata teman Pakistan saya), muraja’ah hapalan qur’an untuk setoran di sekolah. Benar-benar cukup menyita waktu. Bagaimana kalau punya anak banyak ya? Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya.

Nah, saya punya cara ampuh untuk mengatasi penat yang menyerang, sementara pekerjaan  masih banyak yang harus diselesaikan. Di antara anda mungkin banyak yang sudah sering mempraktekannya.

Ketika lelah biasanya saya akan istirahat sebentar. Kemudian saya paksa jiwa saya untuk memberi nasihat.

“Wajarlah La kalo capek. Dunia kan tempat bercapek-capek. Kalau mau istirahat enak ya di surga sana. Tapi jangan mimpi bisa enak-enakan di surga sebelum ngrasain capek seperti ini.”

Subhanallah, energi saya terasa mulai menyala kembali.

“Emang kamu pikir caramu bisa masuk surga seperti apa? Ya, kayak ginilah. Ngurus rumah, bikin suami senang, patuh sama suamimu, sholat, puasa, dll.”

Oops, oke oke. Akhirnya, saya pun bersemangat lagi melanjutkan pekerjaan. Cara ini bisa juga meredam keinginan kita untuk banyak berkeluh kesah. Satu hal yang patut diingat, lakukanlah semuanya dengan meraih kecintaan Allah dan surga-Nya. Semua keletihan insya Allah terobati.

Bukankah dunia tempat untuk menanam dan akhirat tempat untuk menuai?

Bukankah dunia tempat persinggahan sedangkan akhirat negeri yang abadi?

Di mana lagi tempat para istri menanam pahala untuk akhiratnya kalau bukan di rumahnya?

Jadi, jangan pernah bosan membangun surga di rumah kita.

 

Riyadh, 5 Dzulqa’dah 1432

Selesai ditulis dengan penuh rasa cinta.

  1. Verawaty Lihawa says:

    Afwan, di sini editornya siapa ya? Ini kan tulisan saya tapi kok nama penulisnya beda ya? Kemarin saya juga sudah dikonfirmasi untuk memasukkan tulisan ini ke ummiummi.com. Mohon dicek lagi. Barakallahu fiik.

    -Verawaty Lihawa-

    • heheh…afwan la..kemaren ana ngeschedule postingannya, baru sempet add user sama ngedit artikelnya…selalu kelupaan ganti “author” di bagian bawah dashboard.
      Biasanya keliatan kalo view post…e….krn schedule kemaren gak liat2 lagi…
      afwan yaa..

      *lagian bukan ana banget, la wong ditulis di Riyadh* : D

    • Wuih, dikomplain lho.

  2. Ummu Rumman says:

    Nyantai Mba. Ana pikir editornya bukan Mba Siska.
    Jadi agak2 bingung jg kemarin :)

  3. Ummu 'Abdillah says:

    Subhanalloh… tulisan yg memotivasi bgt. ana yg br merasakan jd istri 4 bulan aja kmrn udah kecapean, padahal g kerja d luar n cm bljr bhs arab. Sempat jatuh bangun tiap menyemangati diri, tp dg tulisan ini jd smakin “panas” lg utk membangun jannah d rumah….^^

    Jazakumullohu khoiron…

  4. yang ini jg suka banget…isinya ibu2 banget deh pokoknya,jazakillah khoir

  5. br 4 bulan ya…sy jg baru….6 thn..3 anak kecil2, tp sdh banyak melalui kisah sedih nan mengiris hati…alhamdulilah happy ending jg..krn pertolongan Allah yang Maha berkuasa menganugerahi kebahagiaan di hati..jd capek asal hati senang ga terlalu berat

  6. ummu Ibrahim Aiman wa Isa says:

    Whuaaaah gak kuaaatt, saya jauuuh banget ketinggalannya, (celingak celinguk cari temen) jazakillahu khoir, dikasih obat buat semakin maju ke depan. Mau juga dunks sharing ibu-ibu yang alin, biar bisa ikutan mensiasati kalo kebanjiran kerjaan tapi juga tetep menuju akhirat. (anak baru 3 udah terengah-engah, padahal ibu-ibu jaman dulu 12, jaman sekarang juga ada ding)

  7. bagusz, semoga bisa memotivasi ibu2 lainnya supaya tetap SEMANGAT menikmati pekerjaan rumahnya

  8. Saya jg baru 6 tahun,2 anak…Kadang sering nangis sendiri karena ngiri sm teman2 yg bs minta tolong ortu,karena ortu d pulau seberang,jd g bs minta tolong,apalagi pas anak sakit,kalang kabut.tapi Alhamdulillah setiap ngerasa ud g kuat, selesai sholat ngadu sm ALLAH,nangis sesegukan sampai mata g bs melek,walaupun g ada jawaban langsung tapi hati pasti akan lebih ringan,dan bersiap memulai hari lagi dengan baterai penuh,tersenyum lagi untuk dua putri kecilku. Semoga selalu di beri kekuatan…

Leave a Reply