Tom Yam: Olahan Seafood dari Negeri Gajah Putih

Sumber gambar:

http://en.wikipedia.org/wiki/Tom_yum

#

Terkadang keterbatasan mampu “memaksa” kita untuk berusaha lebih keras. Salah satunya adalah saya.

Ceritanya, selama di Malaysia dulu, salah satu menu olahan seafood favorit keluarga saya adalah Tom Yam. Selain dicampur dengan beberapa bumbu dasar, cube atau pes tom yam hampir tak pernah ketinggalan. Rasanya memang lebih mantap.

Nah, setelah kembali ke tanah air, rasanya kok kangen ya makan Tom Yam. Tapi, sebelum meninggalkan Malaysia pada bulan Juli kemarin, saya lupa membeli cube maupun pes tom yam. Jadi, mau tidak mau, saya mesti menghadapi tantangan masak kali ini dengan jiwa berani :D

“Eksperimen” pertama

Bulan lalu, saya nekat membuat tom yam tanpa “persiapan”. Tanpa merenung, langsung main masak aja. Udang, ayam, bawang merah, bawang putih, serai, laos (lengkuas), jeruk nipis, dan garam langsung masuk ke panci berisi air. Tapi ketika sudah matang, lidah tak bisa berbohong, “Kok kurang mantap ya. Beda dengan yang biasa saya buat di Malaysia dulu.

Oh, ternyata tanpa cube atau pes. Oke, permisif! Ternyata bukan salah saya. Hehehe, menghibur diri.

“Eksperimen” kedua

Senin kemarin, tiba- tiba kepikiran pengen bikin tom yam lagi. Gegara udang yang baru dibeli dari pasar benar-benar segar, masya Allah. Kulit udangnya masih keras dan warnanya mengkilap. Mmh … sayang juga ya kalau gagal mengolahnya.

Baiklah, saya akan lebih mempersiapkan acara masak tom yam kali ini. Langkah pertama, membayangkan rasa tom yam dan wujudnya. Merah, asam, pedas. Tapi, bagaimana ya supaya rasanya bisa mantap tanpa harus bergantung pada cube dan pes?

Aha! Teringat kata teman saya di Malaysia dulu, “Mbak P bikin tom yam nggak pake cube loh. Tetap enak kok!

Nah, orang lain saja bisa, masak sih saya nyerah.

Langkah selanjutnya, googling resep tom yam. Kata om google, bumbunya: bawang putih, serai, minyak ikan, daun ketumbar, daun jeruk, cabai rawit, dan cabai merah.

Ah, ternyata ada cabai ya. Pantas saja tom yam di eksperimen pertama kurang mantap rasanya, kurang cabai toh. Pernah dengar petuah dari kawan Indonesia yang jago masak, “Rawit itu sendiri ‘kan merupakan bumbu.” Iya juga ya, cabai rawit maupun cabai besar punya rasa khas sendiri; bukan cuma bikin pedas makanan.

Eksperimen kedua pun dimulai. Saya rebus air lalu masukkan udang kupas kulit dan ayam (sayap). Kulit udang nggak langsung saya buang, tapi saya rendam di air sambil diremas pelan-pelan dengan tangan (boleh juga pakai sendok, kalau takut terkena mulut udang yang lancip itu). Air remasan kulit udang ikut dicampur ke dalam air bersama bahan lain. Masukkan serai (dimemarkan) dan daun jeruk. Sambil itu, saya ulek bumbunya: bawang putih, bawang merah, cabai rawit, cabai merah besar, dan garam.

Alhamdulillah, setelah dicoba … PAS! Ini dia tom yam yang mantap.

Oh ya, ada beberapa catatan yang saya peroleh dari hasil eksperimen kali ini:

  1. Bawang merah tetap mesti ada. Kalau cuma bawang putih, rasanya hambar.
  2. Kemarin saya pakai 4 cabai merah besar dan 2 cabai rawit. Alhamdulillah anak-anak makan dengan lahap. Tanpa komentar, “Ummi, pedas ….
  3. Tambahkan gula pasir sebagai pengganti MSG. Secukupnya aja ya. kalau kebanyakan, nanti manisnya malah saingan sama kolak :D
  4. Untuk rasa lebih asam, biasanya saya menambahkan air jeruk nipis. Tapi berhubung stok jeruk nipis di warung sayur sedang kosong, saya mencukupkan aroma dan rasa asam lewat daun jeruk yang agak banyak.
  5. Selain jeruk nipis, saya juga tidak punya minyak ikan dan daun ketumbar. Jadi, ekseperimen kedua ini dijalankan tanpa minyak ikan dan daun ketumbar.
  6. Saya tidak menggunakan laos. Dulu sih biasanya pakai. Tapi di eksperimen kedua kemarin saya mau mencoba gimana rasanya tom yam tanpa laos (lengkuas). Padahal dalam resep aslinya dari Thailand, laos adalah salah satu bumbu dasar Tom Yam loh.
  7. Selain udang, saya biasanya mengolah tom yam dari ayam, cumi, atau daging. Di beberapa kedai makan di Malaysia, biasanya ada pilihan menu “tom yam campur”. Itu artinya, di kuah tom yam akan “berenang” 4 bahan dasar: udang, daging, ayam, dan cumi.
  8. Pada eksperimen kedua, saya tambahkan ayam supaya kuahnya lebih maknyus. Efek dari kaldu ayam.
  9. Ternyata, warna merah yang saya lihat dari tom yam selama ini adalah perpaduan antara kaldu udang dan ulekan cabai merah. Kalau nggak pakai cabai merah, warnanya kurang merah dan rasanya kurang “menggigit” di lidah.
  10. Semasa di Malaysia dulu, saya biasa melihat beberapa versi bumbu tambahan tom yam: (i) cube tom yam (kaldu berbentuk kotak; itulah sebabnya disebut “cube“), (ii) pes tom yam (berasal dari kata “paste” a.k.a “pasta”; bentuknya pasta kental, bukan cube), (iii) bumbu tom yam putih (rasanya kurang pedas, sepertinya karena tidak ada campuran cabainya; itu juga sebabnya sehingga warnanya menjadi putih, bukan merah).
  11. Tambahan bumbu kaldu instan membuat saya dulunya “manja”. Ketika terbentur oleh keterbatasan, ternyata terbuktilah bahwa saya tidak harus tergantung dengan kaldu tom yam versi instan. Dalam status Whatsapp seorang kawan saya, tertulis, You’ll never know how strong you are until being strong is the only choice you have.

Alhamdulillah, what a cooking moment!

Jogja, 25 Shafar 1436 H (18/12/14 M)
Athirah

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

One thought on “Tom Yam: Olahan Seafood dari Negeri Gajah Putih

  1. Pernah coba pakai beginning wuluh kah? Untuk masak udang, belimbing wuluh memberi rasa Asam yang lumayan mantap Ukhti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *