Tips: Marah vs Sedih

Termasuk salah satu kesalahan mendidik pada anak adalah memberi rasa takut yang tidak pada tempatnya pada anak. Salah satunya misalnya dengan berkata, “Nanti abi marah!” atau “Nanti ummi marah!”

Efek apa yang timbul dari kata-kata (yang bisa dibilang bernada ancaman) ini? Anak mungkin tidak jadi melakukan hal yang kita larang. Tapi secara tidak sadar, anak melakukan hal tersebut sekedar karena tidak ingin dimarahi. Mencari aman. Tidak ada empati.

moon

Coba jika kita ganti kata “marah” tersebut dengan “sedih.

Hasilnya bisa dikatakan sangat bertolak belakang.

Saya contohkan satu kejadian. Biasanya saat sore hari, saya disibukkan membereskan rumah. Agar saat suami pulang, perasaan suami nyaman rumah tidak seperti kapal pecah. Saat itu, saya minta bantuan Ziyad membereskan mainannya.

“Ziyad, ayo beresin mainannya. Nanti abi sedih kalo rumahnya berantakan.”

Kata-kata ini bisa dilanjutkan dengan, “Ayo bantuin ummi. Biar dapat pahala. Kalau abi gak sedih kan Ziyad juga dapat pahala insyaAllah.”

Permainan kata-kata bisa diterapkan pada kejadian lainnya. Misalnya saat anak merusak suatu barang milik orang tua. Bedakan antara kalimat,

“Ya Allah… Abi kayanya bakal sedih deh…Nanti minta maaf ya.”

dengan kalimat,

“Ya Allah…Abi nanti marah lho!”

Dan kelanjutan kalimat bisa jadi berubah total  hanya karena pilihan satu kata yang berbeda ini.

Dengan mengganti kata “sedih” pada kalimat yang biasanya  menggunakan kata “marah”,  yang timbul pada diri anak adalah rasa empati. Bukan rasa takut ataupun kehilangan rasa aman.

Ada yang punya ide kata pengganti lainnya :)?

***

Artikel ummiummi.com
Oleh: cizkah
 

 

IRT. Homeschooler dari tiga anak (Ziyad, Thoriq dan Luma). Web dan graphic designer. Suka membuat media belajar anak (khususnya untuk pendidikan anak Islam) yang dapat dilihat di www.lumalumi.com.

3 thoughts on “Tips: Marah vs Sedih

  1. Diya’ul Haq Jazakillah khoir, Afwan nggih Ukhti, ana mau tambahin semoga bermanfaat…Salah satu tips adalah ‘pentingnya mendengar”Tentu saja anak tak bisa curhat begitu saja pd orangtuanya,kalau orang tua tak bisa mendengarkan dan menyimak pembicaraan anaknya sejak kecil, ia akan sungkan untuk berbicara, Jika anak merasa dekat dgn orangtuanya dgn sendirinya ia akan berbicara krn merasa yakin didengarkan dan dimengerti…Wollohu a’alam bish Shawab.smile

  2. Ikut menambahkan ya Umm,semoga bermanfaat…

    Hindari juga kata’jangan’ karena kata ‘jangan’ bisa membuat anak ragu dan kurang percaya diri…contoh kalimat,

    Ketika melihat Ziyad sedang mewarnai daun,tiba-tiba Umminya berkata,”Ziyad,kalau menggambar daun jangan memakai warna hitam.”

    Biasanya ketika mendengar kata’jangan’seorang anak akan berhenti,kemudian diganti dengan warna lain yang tidak sesuai dengan yang ada dalam benaknya,ini berarti memupus kreatifitasnya.

    Lain bila kalimatnya, ” Subhaanallah,daunnya warna hitam,bagus ya,Ziyad yang sholih,coba Ummi kasihtahu mengapa Ziyad menggambar daunnya memakai warna hitam.”

    Insyaa Allah dengan gembira Ziyad akan memberitahu alasan-alasan luar biasa yang kadang tidak terlintas dalam benak kita,misalnya daun yang digambar terjadi pada malam hari,atau daunnya gosong karena habis terbakar…Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *