Teladan pada Mertuaku

mertua sayang

Aku sangat mengagumi ibu mertuaku, mungkin sama halnya dirimu. Salah satu sifatnya yang sangat dicintai dan selalu disebut-sebut oleh bapak mertuaku adalah sifat beliau yang qana’ah. Jika diriku yang ambisius ini berkaca pada beliau, rasanya malu sekali. Dengan meneladani kemurahan hati beliau, aku pun berusaha membulatkan cita-citaku sebagai ibu rumah tangga.

mertua sayang

Beliau ikut suaminya mengais rejeki di ibukota. Berbekal sebuah tikar, sebuah piring dan sebuah sendok. Tinggal di areal kontrakan wilayah Jakarta. Bapak masih bekerja sebagai buruh bangunan. Lalu berpindah menjadi buruh brankas. Yah begitulah, suamiku adalah anak buruh hehe.

Ibu harus pandai-pandai berhemat untuk sekedar makan sehari-sehari. Apalagi sejak awal pernikahannya, ada beberapa saudara dan teman yang ikut numpang di kontrakan beliau. Tidak hanya numpang tidur tapi juga numpang makan. Tak pake bayar lho, gratiiis…. Kadang beliau tidak makan dan minum air putih yang banyak untuk mengisi perut yang kosong. Jika kondisi sedikit membaik, ibu makan bubur kacang ijo. Hati begitu bersyukur saat ibu bisa memasak komplit nasi dan sayur, walau sebuah telur harus dibagi berempat dengan suami dan 2 putranya atau bahkan sekedar bersanding dengan garam dan kecap. Tapi tak keluar sedikit pun ucapan keluh, sedih atau kecewa masyaallah. Ya memang begitulah seharusnya wanita yang cerdas, akalnya selalu bersanding dengan kesabarannya. Pernah sekali ibu ingin bekerja sebagai buruh di pabrik, tapi tidak diperbolehkan oleh bapak. Bapak bilang,”Kasian anak-anak ga ada yang ngurus.” Dan ibu adalah wanita yang penurut pada suaminya.

Saat bapak menjadi supervisor, gaji pun bertambah. Tapi bertambah pula orang-orang yang numpang hidup di kontrakan kecil beliau. Ibu-lah yang pontang-panting sendirian mengurus rumah, merawat 2 putra yang sangat aktif dan memasak makanan untuk saudara-saudara dan teman-teman bapak. Tak terbayang susahnya, karena zaman itu belum ada pospak apalagi clodi, belum ada mesin cuci dan rice cooker, air pun harus ditimba di sumur dengan katrol yang berkarat yang jika ember jatuh ke sumur, maka air di tali mencipratkan bekas karat ke baju. Kadang orang-orang yang numpang itu mau membantu beres-beres tapi kadang juga cuek saja. Dan sekali lagi beliau tak mengeluh dan menuntut. Padahal bapak tidak bisa membantu karena hanya bisa pulang 2 hari sekali. Gaji tak akan cukup jika pulang tiap hari. Itu pun masih kurang karena kebutuhan makan teman-reman bapak mencapai 1,5 kali gajinya. Alhamdulillah  rumah selalu bersih dan rapi, anak-anak pun selalu diawasi dan dididik dengan kasih sayang. Memang begitulah wanita yang cerdas, akalnya selalu bersanding dengan kelembutannya.

Saat bapak dipecat akibat difitnah, ibu selalu setia menemani dan tak ragu sedikit pun pada suaminya sampai akhirnya fitnah tersebut terbongkar. Namun kemudian bapak memilih untuk memulai dari nol.  Produksi dan menjualnya sendiri. Dan ibu selalu mendukung bapak. Ya hingga akhirnya seperti sekarang.

Kelihatannya dengan kesibukan dan kesulitan seperti itu akan sulit untuk beribadah. Tapi ibu selalu mendorong bapak untuk berpuasa sunnah. Bapak pun sering kudengar tilawahnya ketika shalat malam. Ibu sangat disiplin mendidik anak-anaknya shalat dan membaca Al-Quran. HIngga saat ini putra putrinya selalu memuji-muji masakan, kelembutan, kecerdasan dan sifat qana’ah beliau.

Seringkali terpikir olehku, kok bisa siiiih…. Kuncinya adalah selalu yakin pada Allah dan percaya pada suami ^^ Pelajaran yang bisa kupetik dari kisah beliau adalah jika kita memberikan lebih dari yang seharusnya kita berikan, pasti Allah akan membalas nilai lebih itu. Sejauh mana kita mampu berkorban dengan ikhlas sebagai ibu rumah tangga, maka akan terlihat sebesar apa hasil yang akan kita dapatkan. Hati-hati  jika kita terlalu perhitungan terhadap apa yang kita berikan, karena nanti nasib akan menghitung tegas terhadap apa yang kita dapatkan.

Teriring selalu doa untuk ibu mertuaku, semoga Allah memberikan kehidupan yang baik bagi beliau di dunia dan akhirat.

Dan aku… Semoga aku bisa meneladani beliau sebagai ibu rumah tangga. Aamiiin

 



10 comments on “Teladan pada Mertuaku

  1. ummu khodijah April 6, 2012 7:21 pm

    masyaAllah,ana sampe terharu membaca kisahx.ana jadi kangen dgn ibu mertua.semoga ummiummi yg lainpun dpt mencintai jg mengambil suri tauladan yg baik dr ibu mertuanya…

    • mutianova May 9, 2012 1:41 pm

      Aamiiin…

  2. Cizkah April 7, 2012 3:47 pm

    kalo dipikir2….sedikit sama terjadi sama ibu ana pribadi hehe…sampe kalo cerita waktu itu si mama heran karena hidup di Jakarta kok lebih susah (gak ada listrik waktu ngontrak pertama kali pake teplok)…padahal di rumahnya di daerah adem ayem tentrem.
    Plus lagi…keqonaahan itu masi harus dimiliki..karena sampe sekarang tetep masih ngontrak hehe…

    • mutianova May 9, 2012 1:43 pm

      Iya mba, memang lebih payah di kota besar. Ga ada istirahatnya bahkan ibu rumah tangga juga jarang istirahat hehe…
      Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan istri yang sabar

  3. ummu hudzaifah April 19, 2012 9:11 pm

    jadi…malu sama diri sendiri yang masih suka mengeluh….jazakillah ilmunya ukh..
    pelajaran yang sangat berharga.

    • mutianova May 9, 2012 1:44 pm

      wa ant fa jazakillah khairan….

  4. Ika Kartika April 20, 2012 8:54 pm

    Subhanallaah…. Indahnya qona’ah… Semoga setiap dari kita bisa meneladani beliau…bahkan lebih baik lagi..insya Allaah. Jazaakillaahu khoyron Ummu Sofia..

    • mutianova May 9, 2012 1:45 pm

      Betul, apalagi kita sudah berbekal sedikit dari majlis ilmu. Tentu sebuah nikmat sekaligus tanggung jawab tersendiri untuk belajar qana’ah… wa ant fa jazakillah khairan

  5. Bunda Isa May 8, 2012 2:50 pm

    mbak makasih atas ceritanya, jadi inget sama ibu, dan diri sendiri, musti belajar banyak dari senior, bukan cuma ngeliat, tapi ikut melakukannya, jazakilah khoir, juga buat ibu ibuku di mana mana

    • mutianova May 9, 2012 1:46 pm

      jadi ibu malah jadi tambah banyak belaja ya mba hehe. wa ant fa jazakillah khairan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>