Tantrum Terakhir Jibril

Ini adalah kisah Jibril saat ia berusia 3 tahun, sebuah kejadian paling akhir dari tantrum. Saat itu kami berempat berbelanja di sebuah pertokoan besar, sebuah kegiatan di akhir minggu untuk mencari kebutuhan dapur. Tentunya yang namanya pertokoan seperti itu akan banyak ditemukan jajanan anak-anak yang tinggi kandungan MSG juga gula-gula.

Seperti biasa saat melewati barisan makanan tersebut, Jibril dan Zahra akan berteriak agar kami membelikan mereka makanan tersebut.

Tantrum terakhir jibril

JZ : “Umi..Umi..mau ituu..mau ituu..”
U  : “Itu apa Jibril?”

Sambil terus melangkah menjauh dari barisan makanan tersebut.

Jibril : “Ini..”

Kaget juga karena Jibril sudah memegang bungkusan makanan tersebut. Jibril sudah berjalan sendiri dan Zahra duduk di keranjang.

Kemudian saya duduk jongkok dan memastikan bahwa kami saling menatap mata dan mulut saya saat berbicara setinggi dengan telinga Jibril. Saya katakan bahwa makanan tersebut kurang sehat bahkan membuat kakak Jibril sakit dan Jibril harus mengembalikannya ke tempat dimana ia tadi mengambilnya.

Pada awalnya dia terdiam dan menunduk, lalu tak lama kemudian mulai berkata-kata menunjukkan keinginannya yang keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Saya hanya tersenyum dan terus mengatakan alasan yang sama. Sampai akhirnya, Jibril berteriak-teriak dan menangis yang diikuti dengan perilaku berguling-guling di lantai. Hal ini tidak pernah ia lakukan sebelumnya, namun saya menilai mungkin karena selama ini kami selalu mengatakan tidak maka ia berinisiatif melakukan hal tersebut.

Okay.. Dalam hati saya berkata, “Thats it.. this is enough.” Saya berdiri dan Abu Jibril mengajak kami pergi sambil menguatkan hati untuk meninggalkan Jibril yang sedang ber”tingkah” untuk mendapatkan apa yang ia mau. Kami biarkan Jibril sendiri disana dan kami menjauh dan menjauh. Hati saya hampir melemah, namun Abu Jibril terus menguatkan bahwa apa yang dilakukan bukanlah untuk menyakiti anak melainkan untuk menyelamatkan dia.

Lalu kami bersembunyi di balik keranjang-keranjang besar berisikan kumpulan handuk-handuk, dimana dengan leluasa bisa melihat dan memastikan Jibril aman. Tak berapa lama berselang, Jibril tersadar bahwa dirinya sendirian dan ia melihat ke kanan – ke kiri mencari kami. Lalu, makanan tersebut ia kembalikan dengan tanpa bersuara. Dan mulai menangis secara perlahan sambil mencari kami.

Di sisi lain saat kami melihat Jibril mengembalikan makanan tersebut, kami pun beranjak mendekat. Tak lama kemudian mata saya dan Jibril saling bertumbukan dan saya menatapnya dengan bahagia yang luar biasa serta bangga. Jibril berlari dan berkata “Ummi, kakak sudah kembalikan dan kakak tidak mau karena itu tidak sehat kan ya Ummi?”

Saya hanya diam dan memeluk Jibril dengan erat, sambil membisikkan bahwa kami sangat mencintai Jibril. Dan kejadian ini adalah pengalaman tantrum terakhir bagi Jibril untuk kami. Enam bulan kemudian Zahra juga lulus dari tantrum dengan baik. Fiuhh masa yang sangat berat karena menangani tantrum sekaligus pada dua anak dengan jarak berdekatan. Seringkali rumah jadi seperti pasar, penuh dengan tangisan anak dan barang-barang yang berserakan.

Ahamdulillah hingga saat ini jika diajak membeli jajanan, JZ selalu memilih makanan yg sehat dan hal tersebut membuat kaget baik dari saudara ataupun teman-teman kantor suami.v

dr. Henny Zainal. Ibu dr Jibril, Zahra, Mikail, dan insya Allah dalam penantian kelahiran satu lagi pejuang kecil dalam keluarga. Domisili Jakarta.

2 thoughts on “Tantrum Terakhir Jibril

  1. Terharu bacanya :D
    Ziyad bisa dibilang hampir gak pernah tantrum. Pas sekali tantrum…bingung juga mo gimana. Alhamdulillah dikasih pengertian abinya di jalan, akhirnya ngerti…dan bersikap biasa lagi.

  2. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…
    Afwan umm, mau tanya apa saja yang termasuk kategori jajanan sehat dan tidak sehat?
    jazakunnallah khairan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *