Siapa yang Mau Nyumbang Tanah untuk Anak Indonesia? (Sebuah Curhat tentang Kota Ramah-Anak)

Gedung-gedung menjulang tinggi seakan berlomba menyentuh langit.
Toko-toko menjejali tiap jengkal tanah, tak perlu takut kekurangan pilihan barang.
Jalan-jalan raya mulai diperlebar di sisi kiri dan kanan.
Motor dan mobil melaju kencang tanpa ampun, di jalan raya atau pun di jalan pemukiman.

Tapi …
Anak-anak kita semakin bingung
Mau main layangan di mana?
Mau main sepeda di mana?
Mau main gobak sodor di mana?
Mau main ayunan di mana?

Tahun 90-an,
Kita masih bisa melihat teman-teman kita berlari ke sana ke mari mengejar layangannya yang terputus.
Sore hari, kita bisa main sepedaan di tanah kosong dekat rumah, tanpa perlu khawatir terlindas truk atau tersenggol motor.
Kita masih bisa main masak-masakan pakai batu dan pasir. Pura-puranya, daun sebagai bahan masakan.
Kalau bosan main itu, kita bisa lanjut main gobak sodor, main kejar-kejaran, main petak umpet.
Kita bebas berlarian di tanah yang luas. Kita bebas melompat, bebas memanjat, dan bebas berlari.

Tahun 2016,
Anak-anak kita harus mencari-cari lahan kosong yang masih bisa dipakai main sepakbola.
Anak-anak kita bisa menikmati permainan manjat-lompat-lari hanya di mall-mall, tentunya setelah membayar tiket masuk. Oh, ndak bebas masuk toh?
Jiwa dan raga anak-anak kita kini berpindah ke layar gadget, ke warnet, ke pusat rental PS, ke depan televisi.

Mau bermain di lahan yang luas? Harus punya banyak duit untuk pergi main ke playland, tinggal di kompleks perumahan elit, atau punya rumah pribadi yang pekarangannya luas.
Mau bermain di lahan yang luas tapi tak perlu banyak duit? Tinggal di desa yang masih asri.

Kota ramah-anak

Kalau Anda termasuk orang tua yang merasakan kurangnya lahan terbuka untuk tempat bermain anak, Anda tidak sendiri. Coba deh googling dengan kata kunci “indonesia kekurangan lahan bermain anak”, maka Anda akan menjumpai banyak orang yang sepemikiran dengan Anda.

Berikut ini beberapa di antaranya.

(1)
Menurut Psikolog anak Lina e. Muksin, M.Psi di sela-sela acara Markas Petualangan Taro (MPT) yang digelar bersama Unilever dan Jakarta Green & Clean (JGC) di Jakarta, Selasa, setiap anak memiliki jiwa petualang dan mereka mulai mengenal lingkungan di luar rumah sebagai tempat aktivitas petualangan mereka. Namun sayang, di kota-kota besar lahan ruang bermain bagi anak kian terbatas. (http://www.antaranews.com/print/105102/kurangnya-lahan-bermain-sumbang-peningkatan-anak-jalanan)

(2)
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan kurangnya lahan tempat bermain anak di Jakarta. Dampaknya, anak-anak di Ibu Kota sering kali terpaksa bermain di tempat berbahaya, seperti jalan raya dan rel kereta api.
(http://www.infonitas.com/megapolitan/jakarta-kekurangan-lahan-bermain-anak/2516)

(3)
Anak-anak yang seharusnya aktif belajar dari alam sekitar, kini banyak terpapar area orang dewasa dengan gaya hidup ala perkotaan. Budaya urban atau yang biasa disebut dengan budaya perkotaan cenderung membuat para orang tua sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Kepentingan anak dalam hal mengenal, belajar dan bermain dengan alam menjadi terabaikan. Keterbatasan lahan bermain ini mengakibatkan anak-anak Indonesia cenderung gemar bermain komputer games, atau menonton TV. Padahal di negara lain anak-anak dapat mengimbangi kegemarannya dalam menonton TV atau bermain games dengan permainan di alam yang sifatnya olahraga. (http://www.kompasiana.com/yunisalya/selamatkan-anak-indonesia-dari-nature-deficit-disorder_552a73eaf17e61e10fd623a8)

Tanggung jawab siapa?

Mau bilang “tanggung jawab pemerintah?” Hehe ….

Ya, itu jelas.

Oleh sebab itulah, kita membuat ulasan-ulasan semacam ini, siapa tahu ‘kan curhatan ini bisa mampir di beranda Facebook istri Pak Walikota atau numpang lewat di timeline twitter Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Lalu, tahu-tahu pekan depan udah ada tuh siaran di TV, “Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bekerja sama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta para gubernur, walikota, dan bupati di seluruh Indonesia, akan mencanangkan pembangunan taman-taman terbuka di tiap kota dan kabupaten.”

Ngimpi ndak apa-apa toh, Bu. ‘Kan gratis : D

Udah … udah … kita kembali serius. Nah, memang taman-taman kota itu adalah wewenang dan tanggung jawab pemerintah. Eh tapi, bisa loh kalau ada di antara kita yang memang berkecukupan lalu membangun sendiri taman-taman bermain yang terbuka untuk anak-anak. Kita wakafkan tanah itu untuk orang banyak. Yang punya lahan kosong, yo ayo … kita bikin taman bermain untuk anak. Kalau pun belum bisa dilengkapi dengan fasilitas permainan, minimal anak-anak sudah punya satu lahan bebas. Di sana mereka bebas berlari, bebas main layangan, bebas bersepeda, beban main pasir. Wiiiihhhhhhhh…. kebanyanglah asyiknya!

Selesai sudah curhatan ibu-ibu. Semoga ada gayung bersambut ya. #teteup-ngarep.

Barakallahu fikum.

~
Indonesia, 2/8/2016,
Athirah Mustadjab

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *