Satu Ciuman, Sebuah Hadiah Istimewa

Saya tidak tahu apa yang ada di benak Asiyah tentang “hadiah”. Beberapa kali saya memberinya kado istimewa. Tak lupa saya sampaikan kepadanya bahwa itu “hadiah”.

Mungkin baginya, hadiah bukan perkara barang. Tapi, lebih kepada bahagia dalam dada.

Karena meski saya dekatkan “hadiah” itu untuknya,
Tak tampak matanya yang kedap-kedip pertanda ge-er.
Tidak juga tangan kanan dan kirinya yang dikibas-kibas layaknya sayap pinguin.
Atau lompatan girang berulang kali seperti pegas yang melenting.

Tapi, beda ceritanya kalau sebuah ciuman manis sudah saya lekatkan ke pipinya.
Apalagi kalau double, pipi kanan dan pipi kiri. Wiiiihh …
Terlebih jika dahinya juga ikut dikecup.

Bonus sebuah senyuman lebar dari bibirnya. Dan itu pertanda bahagianya.

Sesederhana itu.

Kita pernah merasakan masa kanak-kanak. Ketika jatuh, rasanya ingin cepat-cepat dipeluk. Ketika menangis, rasanya ingin cepat-cepat dibelai. Ketika malas, rasanya ingin cepat-cepat dirangkul.

Dan hari ini, anak kita pun mungkin merasakan hal yang sama.

Ya, ada kalanya hadiah berwujud barang riil jadi impian anak. Sampai-sampai muncul menjadi bunga tidurnya.

Namun jauh melebihi kesan itu semua; sentuhan, belaian, dan ciuman seringkali sudah cukup mengatakan, “Ini hadiah istimewa untukmu, Nak.

Ciuman istimewa


Bayan Lepas, 9 Juni 2014,
Athirah

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

9 thoughts on “Satu Ciuman, Sebuah Hadiah Istimewa

  1. Subhanallah…kangen sekali dg Asiyah dan Ummu Asiyah, semoga Allah bisa mempertemukan kita kembali…BaarokaLLOH fiikum

  2. Assalaamu’alaikum ummi,
    salam kenal,
    saya suka sekali dg website ini,
    idzin share ke teman” ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *