Prolonged Jaundice: Sakit Kuning Berkepanjangan pada Bayi-Baru-Lahir

April, 2010

Itu pertama kalinya saya merawat seorang bayi. Tanpa kelas antenatal, tanpa pengetahuan medis yang memadai. Cukup dengan tawakal kepada Allah, kemudian bermodalkan insting sebagai seorang ibu.

Di tangan saya yang amatiran, dia dimandikan dan disusui. Lekat-lekat saya pandangi setiap gerak-geriknya. Siapa tahu ada hal berbahaya yang menimpanya.

Sekitar hari ke-3 kelahirannya, insting saya merasa, “Ada yang aneh.” Wajahnya mulai tampak kuning.

Perawat Klinik Kesihatan Kerajaan sudah mulai melakukan lawatan sejak hari ke-2.

Sudah menjadi prosedur pemerintah, setiap bayi yang baru lahir akan dilawat oleh perawat Klinik Kesihatan Kerajaan yang terdekat dari tempat tinggalnya. Perawat yang datang akan berganti setiap hari, tergantung jadwal tugas.

Suatu hari, perawat tersebut meminta saya menggendong si kecil di dekat pintu. Agar wajahnya terkena cahaya. Lalu si perawat menekan kening Asiyah dengan lembut. Perawat tersebut tak berkata apa-apa, hanya menulis keterangan pada buku Rekod Kesihatan miliknya.

Waktu terus berjalan. Meski suami meyakinkan bahwa keadaan baik-baik saja, saya semakin gelisah. Warna kuning di wajah si kecil semakin jelas. Bahkan, lidah dan bibirnya pun ikut menguning.

Pada hari ke-4, perawat yang lain melakukan lawatan rutin. Kecemasan hilang, berganti bimbang. Bayi mungil kami harus menjalani tes darah untuk mengetahui skor serum bilirubin (SB)-nya. Hasilnya, 15 mg/dL. Sore itu juga, dia harus langsung dirawat-inap di rumah sakit.

Pikiran saya berubah abu-abu. Tak tahu-menahu perihal sakit yang menimpa si kecil. Harus seberapa panikkah saya? Apakah ini penyakit yang parah? Akan mengancam nyawa buah hati saya?

Alhamdulillah, cukup satu malam saja dia bermandikan cahaya phototerapy. Dokter memutuskan bahwa dia boleh pulang ketika skor SB-nya sudah mencapai 12 mg/dL. Sebuah skor dalam kisaran normal untuk bayi yang lahir cukup-bulan, berat badan normal, dan G6PD normal, meski lahir dengan bantuan vacuum.

Di Malaysia, penyakit seperti itu disebut jaundis. Di Indonesia biasanya disebut sakit kuning. Secara medis disebut neonatal jaundice.

phototeraphy 1Sumber gambar: http://www.babyfaq.info/images/phototherapy.png

Januari 2013

Januari 2013, si sulung dikaruniai seorang adik lelaki.

Kelahiran si sulung dan adiknya punya tiga kesamaan. Pertama, golongan darah mereka berbeda dengan saya. Kedua, mereka lahir cukup-bulan namun lebih cepat dari HPL (hari perkiraan kelahiran). Ketiga, posisi janin yang sulit menyebabkan persalinan harus dibantu dengan vacuum extraction.

Bisa ditebak kelanjutannya ‘kan?

Ya, si adik mengalami neonatal jaundice. Skor SB-nya mencapai 17 mg/dL pada hari ke-7. Akhirnya, dia pun merasakan siraman cahaya phototerapy selama 3 hari.

Setiap hari dokter memantau skor SB si adik. Apakah skornya naik atau turun? Jika turun, apakah penurunannya cukup signifikan?

Selepas dirawat-inap, dia masih harus menjalani tes darah pada hari ke-12 dan ke-13. Penurunan skor SB yang kurang signifikan membuatnya harus tes darah lagi pada hari ke-16.

Hasilnya? Saya mendapat istilah baru, prolonged jaundice. Jaundis berkepanjangan yang menimpa bayi ke-2 kami ini membuatnya harus menjalani tes darah yang lebih detail. Bukan sekadar cek skor SB, tapi juga cek fungsi hati (liver function test) dan cek urin.

phototeraphy 2Sumber gambar: http://anaesthetist.com/icu/specl/neonate/index.htm

Pengetahuan baru

Di Malaysia, pemerintah cukup ketat memantau kondisi setiap bayi-baru-lahir. Di antara hal yang sangat dicermati dalam setiap lawatan adalah: apakah bayi tersebut tampak kuning (di kulit, bola mata, dan mulut)?

Karena itulah, sudah banyak asam-garam yang saya kecap tentang jaundis. Ada referensi dari buku teks medis, ada yang bersumber dari internet, ada hasil diskusi dengan dokter, dan ada pula dari obrolan sesama ibu.

1. Neonatal jaundice

Neonatal jaundice or Neonatal hyperbilirubinemia, or Neonatal icterus (from the Greek word ἴκτερος), attributive adjective: icteric, is a yellowing of the skin and other tissues of a newborn infant. A bilirubin level of more than 85 μmol/l (5 mg/dL) leads to a jaundiced appearance in neonates whereas in adults a level of 34 μmol/l (2 mg/dL) is needed for this to occur. In newborns, jaundice is detected by blanching the skin with pressure applied by a finger so that it reveals underlying skin and subcutaneous tissue. Jaundiced newborns have yellow discoloration of the white part of the eye, and yellowing of the face, extending down onto the chest. (https://en.wikipedia.org/wiki/Neonatal_jaundice)

2. Dipantau hingga hari ke-14

Warna kuning di kulit dan bola mata akan tampak bila hati seseorang tidak berfungsi baik. Pada kasus bayi-baru-lahir, biasanya warna tersebut akan hilang dalam 14 hari sejak kelahiran si bayi. Namun bila masih terlihat selama lebih dari 14 hari dikhawatirkan bayi tersebut mengalami gangguan fungsi hati.

Di sisi lain, pada usia belum genap 14 hari, otak bayi masih belum matang. Kadar bilirubin yang berlebihan bisa membahayakan sarafnya.

Itulah sebabnya, dokter akan menguji refleks-moro bayi ketika si bayi tampak kuning. Bayi yang masih normal akan memberi refleks-moro ketika dikejutkan. Artinya, pendengaran dan sarafnya masih berfungsi baik. Jika tidak ada respon, berarti kondisi si bayi cukup mengkhawatirkan.

3. Phototerapy

Ada juga jasa penyewaan phototerapy. Alat phototeraphy bisa dibawa ke rumah. Yang menawarkan jasa ini biasanya klinik atau perusahaan swasta. Kelebihannya, orang tua bisa lebih nyaman menjaga anaknya semasa perawatan. Yang agak repot, tiap cek skor SB atau konsultasi ke dokter, si bayi mesti dibawa ke klinik/rumah sakit.

Pada masa anak pertama kami, alat phototeraphy yang digunakan hanya 1 buah. Tapi pada adiknya, digunakan 2 alat phototeraphy karena kondisi jaundisnya lebih berat.

4. Breastmilk jaundice dan breastfeeding jaundice

Breast milk jaundice is a type of neonatal jaundice associated with breastfeeding. It is characterized by indirect hyperbilirubinemia in a breastfed newborn that develops after the first 4-7 days of life, persists longer than physiologic jaundice, and has no other identifiable cause. It should be differentiated from breastfeeding jaundice, which manifests in the first 3 days of life and is caused by insufficient production or intake of breast milk. (http://emedicine.medscape.com/article/973629-overview)

5. Prolonged Jaundice

Jika skor SB bayi masih cukup tinggi maka bayi divonis mengalami prolonged jaundice. Dokter akan merujuk pasien (si bayi) untuk menjalani tes darah yang lebih detail serta tes urin. Tujuan tes-detail darah untuk memperoleh hasil tes fungsi hati. Adapun tes urin bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bakteri dalam urin atau tidak.

Selain itu, dokter akan menanyakan warna feses si bayi. Warna kuning cerah menunjukkan tak ada gangguan hati. Adapun warna kuning pucat (mirip warna stik es krim) menunjukkan masalah hati.

Prolonged jaundice bisa disebabkan oleh gangguan fungsi hati atau semata breastmilk jaundice. Jika semata karena breastmilk jaundice, insyaallah warna kuning di tubuh bayi akan hilang berangsur-angsur. Mungkin hingga 1 bulan.

Dokter yang menangani anak kedua kami menjelaskan, bila ternyata tes-fungsi-hati menunjukkan bahwa hati bayi tersebut bermasalah, pada usia 5 bulan si bayi mesti menjalani operasi.

Demikianlah sedikit pengalaman kami tentang jaundis (sakit-kuning). Semoga bermanfaat.

Referensi:

***

Oleh: Athirah Mustadjab

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *