Cara supaya Tidak Mudah Berprasangka Buruk pada Orang Lain

Di Malaysia dulu, kami sekeluarga sempat merasakan tarawih bulan Ramadhan penuh dengan diimami seorang utusan negeri Saudi. Pemerintah Saudi mengirim beberapa orang yang berkompeten untuk menjadi imam tarawih dan mengisi kultum-kultum di beberapa wilayah Malaysia. Alhamdulillah, masjid USM (Universiti Sains Malaysia) — tempat kami biasanya melaksanakan shalat tarawih — adalah salah satu masjid yang secara full diimami oleh utusan dari Saudi tersebut. Kadang saja beliau digantikan oleh imam masjid USM, bila beliau sedang memenuhi undangan untuk menjadi imam di masjid lain di wilayah Pulau Pinang.

Nama imam tersebut adalah Syaikh Ahmad. Beliau menginap di guest house yang terletak di kompleks masjid. Menurut cerita suami saya, Syaikh Ahmad ini tiap berangkat shalat zuhur ke masjid pasti memakai kacamata hitam. Anda tahu, kacamata anti-silau itu. Andai orang tak tahu alasan beliau memakainya, mungkin dia akan berprasangka buruk, “Ih, gaya amat sih!”

Anda tahu, masih menurut cerita suami saya, ternyata Syaikh Ahmad pakai kacamata pada siang hari — dengan jarak tempuh yang mungkin ukurannya hanya satu sisi lapangan futsal — karena beliau merasa silau. Iya, silau. Mata kita, yang memang sudah sejak lahir terbiasa berjalan di tengah silaunya matahari, barangkali tidak perlu dengan kacamata jenis itu.

Seperti cerita Syaikh Ahmad, saya juga mengenal seorang ibu yang berumur sekitar 65 tahun. Beliau ini lebih sering berdiam di rumah kalau matahari sudah meninggi. Jam 5.30 pagi, beliau masih keluar rumah untuk ikut belanja sayur di Mamang penjual sayur keliling. Tapi kalau sudah jam 9 pagi sampai menjelang Ashar, beliau hanya akan keluar rumah bila ada hal penting. Itu pun dengan kacamata hitam berlensa lebar. Andai orang tak tahu alasan beliau memakainya, mungkin orang itu akan berprasangka buruk, “Ih, nenek-nenek kok gaya kayak artis aja!”

Anda tahu, beliau pernah bercerita ke saya tentang riwayat diabetes yang “diwariskan” turun-temurun di keluarganya. “Nurun dari bapak saya.” Beliau meneruskan, “Efeknya ke mata ini. Jadinya saya kalau siang nggak tahan ama matahari. Mesti pakai kacamata hitam.”

See? Karena beliau punya penyakit. Kacamatanya bukan buat gaya-gayaan.

Ada juga cerita lain — masih dari suami saya — tentang temannya yang mesti pakai kacamata hitam. Orang Indonesia tulen. Wong Cilacap. Mirip dengan Syaikh Ahmad, teman suami saya ini juga tak tahan dengan sinar matahari. Untuk kita yang normal, cahaya segitu mah nggak seberapa. Tapi buat beliau, haduh … mana kuat.

Misalnya kita pergi ke pantai, matahari pantai jam 12-an memang terik tapi mata kita insyaallah masih kuat melihat pohon-pohon dan air laut tanpa berkacamata hitam. Kalau menantang untuk menatap matahari di langit, nah saat itulah mungkin kita baru perlu pakai kacamata hitam.

Tapi untuk beliau, jalan dari parkiran mobil ke bibir pantai aja mesti pakai kacamata hitam. Gaya pakai sunglasses? Nope! Mata beliau memang sakit.

Be wise

Bergaul dengan berbagai macam orang akan memperluas cakrawala kita. Bukan hanya sebatas khatulistiwa yang menyeberang di ufuk Pontianak. Tapi garis khatulistiwa yang menyisir belahan timur bumi hingga belahan barat.

Kadang buruk sangka di benak kita terbangun karena asumsi tanpa bukti. Karena kita terlatih untuk menghakimi dulu sebelum re-check.

Umar pun pernah mendapat info tentang “sesuatu”, mengenai diri Shafiyah binti Huyay. Tapi sebelum prasangka buruk menguasai dirinya, Umar memilih untuk mengecek terlebih dahulu kebenaran berita yang sampai ke telinganya. Inilah kisah tersebut.

ٍ[ أن جارية عندها أتت عمر بن الخطاب – رضى اللَّه عنه – فقالت له : «إن صفية تحب السبت وتصِل اليهود» ، فبعث إليها فسألها عن ذلك، فقالت : أما السبت فإنى لم أحبه، فقد أبدلنى اللَّه خيرًا منه وهو الجمعة، وأما اليهود فإن لى فيهم رحمًا لذلك أصلها. ثم قالت للجارية : ما حَمَلكِ على هذا ؟ قالت الجارية : الشيطان. فقالت لها السيدة صفية – رضي الله عنها – : [اذهبى فأنت حرة].[ذكره ابن عبد البر في الإستيعاب 4/1871] .

Seorang budak wanita milik Ummul Mukminin Shafiyah mendatangi Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Dia mengadu, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Shafiyah menyukai hari sabtu dan dia juga bersilaturahmi dengan orang Yahudi.”

Umar bin Khathab pun mengirim utusan kepada Shafiyah untuk menanyakan hal itu.

Shafiyah menjelaskan, ”Tentang hari Sabtu, aku tidak lagi menyenanginya setelah Allah menggantinya dengan hari Jumat. Sedangkan tentang orang Yahudi, aku mempunyai kerabat dari kalangan mereka dan aku hendak menyambung tali kekeluargaan dengan mereka.”

Kemudian dia menanyai budaknya, “Mengapa engkau berani berbuat begini (yaitu menuduh bahwa dia Shafiyah demikian)?” Budak itu menjawab, “Itu adalah bisikan setan.” Akhirnya Shafiyah radhiyallahu ‘anhu memutuskan, ”Pergilah, kini engkau telah kumerdekakan!” (Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab, 4:1871) Lihat http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=1791

Jauhilah buruk sangka. Caranya? Perluaslah cakrawala dan re-check berita yang berhembus sampai ke kita.

Bisikan-bisikan di hati, ah … dicek dulu. Jangan sampai kita lalai seperti budaknya Shafiyah.

***

Jogja, 8 Dzulhijjah 1436 | 22/9/2015
Athirah Mustadjab

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *