Popok Sekali Pakai Itu…

“Abii diompolin Hafizh !! Huaaaa… Baju untuk sholat ganti lagi deh. Hafizh dipakein Pampers donk”
Ilustrasi diatas kerap kali tejadi saat suami saya menggendong Hafizh. Oleh karena itu, suami saya selalu meminta saya memakaikan popok sekali pakai (pospak) kepada Hafizh saat ia dirumah.

diaper

Eeiiiit tunggu dulu…

Well, sebagai seorang gadis yang baru saja menjadi ibu, saya sangat selektif dalam segala hal yang berhubungan dengan Hafizh. Mulai dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya. Contoh: minyak rambut yang ia gunakan, baju, kaos dalam, makanan, obat dari dokter, gunting kukunya, bak mandi, mainan, apalagi saat suami saya menyuruh saya untuk memakaikan pospak pada Hafizh.

Saya akui saya dalah tipe ibu zaman kuno. Zamanya mbah buyut, mbah uti, dan ibu saya zaman dahulu kala. Sangat asing sekali dengan teknologi modern saat ini. Bagi saya menggunakan popok kain atau celana kain lebih saya sukai dibandingkan dengan menggunakan diaper. Walaupun cucian banyak dan menumpuk (kan ada mesin cuci), setrikaan juga segunung (It’s Ok, bisa dicicil) intuisi saya sebagai seorang ibu tetap tertuju pada popok kain ini.

Berilmu Sebelum Beramal

Prinsip ini yang selalu saya gunakan di kehidupan rumah tangga saya. Apalagi saat Hafizh hadir di tengah-tengah kami. Saya mencoba untuk mencari tahu tentang pospak dengan googling. Sangat mengejutkan, banyak sekali fakta yang sebelumnya tidak saya ketahui dari penggunaan dan bahan pembuatan pampers.

Berikut sebagian hasil yang saya dapat :

  1. Dalam artikelnya “The Diaper Drama,” Heather L. Sanders, pendiri American Cloth Diaper Association (Asosiasi Popok Kain Amerika), mengatakan bahwa proses pemutihan (bleaching) untuk membuat popok plastik sekali-buang menjadi super-putih menggunakan produk semacam dioxins dan furans (organochlorines), yang “sangat susah dihilangkan dan beracun.” [1]
  2. EPA (environmental protection agency) menggolongkan dioxins seperti halnya karsinogen (zat penyebab kanker), yang menyebabkan “efek kesehatan non-kanker yang merugikan” pada manusia dan binatang yakni perubahan di sistem hormon, perubahan dalam perkembangan janin, mengurangi kapasitas reproduktif, dan imunosupresi (suatu tindakan untuk menekan respons imun) [2]. Jonathan Cambpell seorang konsultan kesehatan di Boston, Massachusetts, merekomendasikan untuk, “Hindari semua bahan-kimia organik yang mengandung kata ‘chloro’ sebagai bagian dari nama mereka”. Dia menyatakan dalam situsnya bahwa dioxins adalah substansi paling beracun yang dikenal manusia [3].
  3. Dioxin ini dapat terakumulasi di dalam tubuh seseorang seumur hidupnya, sehingga dengan adanya Dioxin ini maka sistem kekebalan tubuh akan terganggu. Artinya “they will never be as strong as they should have been”. Dioxin juga bertanggung jawab atas terjadinya kangker dan hormone yang tidak seimbang. Kebanyakan bayi modern masa kini berhadapan dengan dioxin 24 jam, dan masyarakat heran mengapa anak perempuan mulai puber lebih muda dari biasanya, dan gangguan hormonal menjadi makin umum pada anak-anak. [4]
  4. Sodium polyacrylate (SAP) adalah senyawa kimia berbahaya lain yang terkandung di dalam popok plastik sekali-buang, senyawa ini ditambahkan untuk menjadikan popok berdaya-serap tinggi. Ditambahkan dalam bentuk bubuk di dalam lapisan popok, dan berubah menjadi ‘gel’ ketika dia bersentuhan dengan cairan [5]. Pada 1985 substansi ini dilarang pengunaannya pada produk tampon di Amerika Serikat, setelah ditemukan adanya keterkaitan substansi tersebut dengan toxic shock syndrome (penyakit yang disebabkan oleh toksin bakteri, jarang terjadi tetapi berpotensi fatal) [1].
  5. Ada klaim bahwa para pekerja pabrik dimana SAP diproduksi, menderita kerusakan organ dalam wanita, kelelahan, dan penurunan berat badan, menyebabkan kekhawatiran atas ketiadaan studi jangka panjang yang memperkirakan resiko jangka panjang pemakaian substansi ini pada alat kelamin bayi yang peka [6]. Semua popok mengandung SAP, bahkan pada produk yang “bersahabat dengan lingkungan” [7]..
  6. Sanders menegaskan bahwa kualitas super-absorbent (penyerap super) tidak hanya menyerap air seni namun juga kelembaban alami kulit bayi, menciptakan kepekaan terhadap kekeringan dan iritasi kulit [1]. Sanders juga menyebutkan bahwa menurut Journal of Pediatrics, 54 persen bayi berusia satu bulan yang menggunakan popok sekali-buang mengalami iritasi dan 16 persen menderita ruam yang parah [1].
  7. Pada tahun 2000 beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melsayakan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melsayakan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.[8]

Pertimbangan lainnya :
Pospaksangat mahal nilainya, tidak hanya bagi bayi yang secara konstan terkontaminasi bahan kimia, tetapi juga bagi kami, para orang tua. Seorang bayi memakai popok antara 7,000 sampai 9,000 buah (10 popok sehari bagi bayi yang baru lahir dan 8 popok bagi balita yang baru belajar berjalan) pada 2,5 hingga 3,5 tahun pertama usia mereka.[10] kecuali jika mereka diajarkan pispot lebih awal.

Masalah lingkungan juga perlu diperhatikan. Pada tahun 1955, 100 persen bayi Amerika mengenakan popok katun. Namun pada tahun 1991, hanya 10 persen. [11] Perkiraan terbaru mengklaim bahwa 27.4 milyar popok sekali pakai digunakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, menghasilkan kira-kira 3.4 juta ton sampah padat tambahan di tempat pembuangan sampah. Sekarang, 3 persen sampah dari tempat pembuangan sampah di negara bagian Amerika Serikat berisi popok sekali-pakai. Itu berarti membutuhkan 3.5 milyar galon minyak [12], 82,000 ton plastik, dan 1.3 juta ton bubur kayu (250,000 pohon) untuk membuat 18 juta popok. [13] Dan setelah menggunakannya hanya satu kali, popok itu lantas dibuang dan diangkut ke tempat pembuangan sampah, di mana mereka membutuhkan waktu 500 tahun untuk menguraikannya. [13] Hal ini berarti menyebabkan masalah lingkungan yang sangat serius bagi planet kita, karena popok sekali pakai digunakan secara meluas. Usaha untuk mendaur ulang popok sekali pakai dan menjadikannya pupuk kompos belum berhasil dan tidak hemat biaya. [12] Popok kain merupakan alternatif yang bagus untuk digunakan. Popok tersebut dapat digunakan kembali beratus-ratus kali dan dapat diuraikan oleh alam (biodegradable).

Begitu banyak kemajuan teknologi yang ada yang belum tentu baik bagi kita. Menelitinya ulang sebelum menggunakannya merupakan pilihan bijak yang bisa digunakan. Apalagi jika teknologi itu berhubungan dengan anak kita. Maka, berhati-hati tanpa harus mengikuti tren yang ada itulah seharusnya.
Memakaikan pospak untuk Hafizh masih tetap saya lakukan, namun jika hanya berpergian saja. Karena bagi saya Hafizh begitu mahal, jika hanya dibandingkan dengan sepotong disposable diapers.

Referensi :
1. Sanders, Heather L. The Diaper Drama. Scene3: Cloth Diapers and Your Child’s Health. Oct. 31, 2008
2.Dioxins and Furans. www.epa.gov. Nov. 11, 2008 www.epa.gov/pbt/pubs/dioxins.htm
3.Campbell, Jonathan. Personal Page. Toxic Alert. Nov. 11, 2008 http://www.cqs.com/edioxin.htm
4.http://healthwyze.org/index.php/component/content/article/475-toxins-in-disposable-diapers-dioxin-and-sodium-polyacrylate.html diakses terakhir pada 11 mei 2012 pukul 2.46 am
5.Goates, Wayne. geocities.com/CapeCanveral/Cockpit/8107/superabsorbers.html?20083
6.Scary ’Sposies: The Real Dangers of Disposable Nappies. www.babiesnappies.co.uk Nov. 12, 2008 www.babiesnappies.co.uk/scary-sposies/
7.Mullen August, Angelina. Diaper Rash: Comparing Diaper Choices. www.realdiaperassociation.org August 2005. [Article from the Real Diaper Association Quarterly Newsletter] Nov. 12, 2008 www.realdiaperassociation.org/real-diape r-news/quarterly_article_mullen_dia per-rash-comparing-diaper-choices.htm
8.http://renatashopshop.multiply.com/journal/item/42/Apa_dengan_DISPOSABLE_DIAPER diakses terakhir pada 11 mei 2012 pukul 2.46 am
9.http://fluffybums.blogspot.com/2011/05/pampers-response-what-is-in-your.html diakses terakhir pada 11 mei 2012 pukul 2.46 am
10.1.    McConnell, Jane. “The Joy of Cloth Diapers” www.mothering magazine.com Issue 88 May–June 1998. Nov. 19, 2008, www.motherin g.com/articles/new_baby/diapers/joy-of-cloth.html
11.Becker, Kim “Why Use Cloth Diapers?” Nov. 2003 babymarketplace.com/whyuseclothdiapers.pdf
12.The Politics of Diapers: A Timeline of Recovered History.” Mothering.com Issue 116, Jan.–Feb. 2003. Nov. 3, 2008 mothering.com/articles/new_baby/diapers/politics.html
13.Meadows, Donella H. “The Great Disposable Diaper Debate.” www.sustainer.org The Donella Meadows Archive: Voice of a Global Citizen Aug. 5, 2008 sustainer.org/dhm_archive/index.php?display_article=vn321diapersed

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

11 comments on “Popok Sekali Pakai Itu…

  1. mutianova June 3, 2012 11:03 am

    Hmm mungkin kita butuh informasi yang lebih berimbang de mengenai dioxin. Proses pemutihan menggunakan klorin memang menghasilkan produk sampingan berupa dioxin. Karena berbahayanya dioxin ini maka di USA sudah tidak boleh melakukan pemutihan dengan klorin lagi. Ada kok pemutihan tanpa klorin.

  2. mutianova June 3, 2012 11:15 am

    Kalo diaper, ana belum banyak survei produknya de. Tapi kalo pembalut, dari produk Kotex sendiri menggunakan Elemental Chlorine Free (ECF) yang tidak meninggalkan jejak dioxin. Saya pribadi berpendapat, kemungkinan industri besar tidak akan gegabah menggunakan klorin sebagai pemutih mengingat kesadaran masyarakat yang semakin tinggi mengenai dioxin dan pelanggarannya akan memasuki wilayah hukum. Selain masih perlunya pengawasan dari pihak yang berwenang terhadap produk yang beredar sekarang. Mohon masukannya bagi yang lebih paham

    • Cizkah June 3, 2012 3:11 pm

      nice comment tia : D

  3. putrisia June 12, 2012 10:41 am

    menurut saya “mencegah lebih baik daripada mengobati” mba..

    tafadhal..

    • Cizkah June 12, 2012 11:35 am

      hehe…sebenarnya kalo lebih konsisten lagi bisa pake alternatif cloth diaper put.
      Atau pakai metode yang “sekalian” dari awal memang sudah diaper free. Ana blum nyoba karena juga baru tahu ilmunya. Jadi juga belum bisa nulis tentang itu. Nama metodenya Elimination Communication (EC). Mudah2an anak ketiga nanti bisa pakai metode ini insyaAllah.

  4. mutianova June 14, 2012 4:32 pm

    De, merek pampers, mamypoko dan huggies tidak mengandung dioxin.

  5. shofie bundanya rayya June 23, 2012 1:46 pm

    iya put…pk clodi aja…untuk jangka panjang kerasa ngirit nya…^^

  6. athirah July 1, 2012 10:19 pm

    kl menurut sy, pendapat dek putri dan muti sama2 benar kl dilihat dari sisinya masing2.

    - dek putri membahas klorin pada popok secara umum, gak sebut merek.
    - di sisi lain, muti melihat bahwa artikel ini perlu dilengkapi dengan penjelasan bahwa ada juga produk popok dan pembalut di pasaran yang bebas klorin.

    jd, imho, artikel dek putri dan komen tia bisa saling melengkapi..

    jazakillahu khayran untuk jerih payah dek putri menulis artikel ini. jazakillahu khayran untuk muti atas tambahan komennya yang sangat menambah wawasan…

    * melihat dari 2 sisi mata uang. maaf kl justru sy yang salah paham ^^

    • Cizkah July 17, 2012 11:41 am

      iya thir…bagaimanapun tanpa dispo diaper itu sebenernya lebih baik dengan alasan lain2nya.

  7. dina ummu aisyah June 4, 2014 8:58 pm

    ktemu ummiummi.com ini alhamdulillah nambah wawasan.. mau sedikit komen walaupun sdh telat banget ya, he3… saya memilh pakai popok kain untuk anak saya.. terlepas dari masalah ada merek pospak yang bebas dioxin, sy lebih memilih pakai popok kain karena alasan lingkungan, setelah lihat langsung sendiri pospak ternyata masuk dalam sampah yg kategori tidak terurai dan tidak dapat di daur ulang.. terlebih lagi banyak ibu yang membuang pospak berisi kotoran bayinya ke sungai menjadi penyebaran utama e. coli… setelah sekian lama pakai popok kain atau clodi, sesekali saat clodi blum kering pakai pospak ternyata merasa bersalah terhadap bumi dan anak sendiri.. karena pertimbangan saya adalah berusaha menjaga bumi juga untuk kelak kehidupan anak cucu, in syaa Allah…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>