Apa yang Terjadi pada Pengantin Baru setelah Empat Minggu?

Dalam hidup ini, dikenal istilah “keseimbangan”. Ada hak, ada kewajiban. Ada amal, ada hisab.

Namun bagi pasangan pengantin baru, dunia itu hanya ada indahnya. Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma numpang. Ke mana-mana jalan berdua. Hampir tiap waktu bertemu muka. Kalau sedang tidak bersama, kangennya minta ampun. Betul begitu? : )

Tapi, apa yang terjadi setelah empat minggu masa hidup bersama?

Biasanya setelah empat minggu, satu sama lain mulai kembali ke alam nyata. Kakinya sudah menapak di tanah dan akalnya kembali normal. Dia sadar bahwa pasangan hidupnya ternyata masih punya celah kekurangan. Seselektif apa pun dia memilih calon pasangan hidup, tetap saja yang dia nikahi adalah manusia – yang notabene bukan malaikat.

Saat itulah, angin mulai bertiup.

Layar berjuang menjaga laju bahtera. Bagi Anda yang sudah bertahun-tahun menikah, insyaallah masa-masa itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Momen masa lalu itu telah menempa kedewasaan Anda dan pasangan Anda. Ketika telah berhasil melalui periode ujian awal, bahtera kembali berjalan mulus. Semua itu berkat taufik dan pertolongan Allah Ta’ala. Alhamdulillah.

Bagi Anda yang baruuuu saja menikah – dan mungkin tengah berada dalam periode ujian awal ini – maka mari kembali menengok ke belakang, “Apa sih sebenarnya tujuanku menikah?”

Anda – bila sekarang sedang cemberut dengan pasangan Anda – perlu merenungi kembali tujuan suci sebuah pernikahan.

Adakah pernikahan sebatas memuaskan kebutuhan perut dan yang sedikit di bawah perut?
Adakah pernikahan semata untuk menyelamatkan Anda dari status “bujang lapuk” atau “perawan tua”?
Adakah pernikahan hanya setakat empat minggu masa “bulan madu”?

Bila Anda seorang istri, sadarilah bahwa jalan menuju surga itu banyak. Pernikahan adalah salah satu jalan utama menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

“Jika seorang wanita mendirikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana pun yang engkau mau.'” (Shahih; HR. Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah)

Bila Anda seorang suami, ingat-ingat kembali betapa kemuliaan Anda dilihat dari cara Anda bergaul dengan istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan akulah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (Shahih; HR. At-Tirmidzi. Ibnu Majah, dan Ad-Darimi)

Menikah itu tujuannya apa?

Agar lebih mudah diingat, mari kita susun dalam sebuah daftar:

  • Berharap pahala dari Allah.
  • Menjaga kehormatan diri.
  • Menempuh cara yang halal dalam memenuhi kebutuhan biologis.
  • Memperbanyak umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Membuka kesempatan untuk masuk surga lewat pintu pernikahan.
  • Memperoleh anak shalih, sebagai simpanan pahala.
  • Membangun generasi Islam dengan mendidik anak sendiri (jika telah memiliki anak).
  • Mendapat teman seperjuangan untuk berdakwah di keluarga.
  • Membuka sarana menuju banyak amal shalih.
  • … (silakan isi sendiri).
  • … (silakan isi sendiri).
  • … (silakan isi sendiri).

Ingat tiga hal

Para suami dan para istri, bila Anda sedang melewati masa ujian awal ini, dan bahtera Anda mulai oleng dan nyaris tenggelam, ingat tiga hal:

  1. Belajar lagi,
  2. introspeksi diri,
  3. doa.

Belajar lagi. Buka lagi buku-buku agama tentang hak dan kewajiban suami-istri. Rajin-rajin hadir di majelis ta’lim. Karena ilmu adalah cahaya, insyaallah bisa membantu Anda menemukan opsi-opsi solusi.

Jangan saling menyalahkan. Introspeksi diri masing-masing.

Berdoa, semoga Allah beri taufik kepada Anda berdua.

Satu lagi, khusus untuk yang punya akun media sosial, jangan sindir pasangan Anda lewat postingan di medsos. Apalagi sampai bertengkar di dunia maya, malu!

Bicara langsung dengan pasangan Anda. Bila enggan, tulis lewat kertas. Bila enggan, berwudhu dan shalatlah. Semoga hati Anda melembut dan siap berbicara dengan tenang.

Sabar dan cerdas

Tidak setiap kali ban motor kempes maka Anda mesti membeli motor baru. Tidak setiap kali spionnya rusak maka Anda mesti membeli motor baru. Tidak setiap kali satu bagian saja yang rusak maka Anda harus mengganti dengan motor baru.

Selama masih bisa diperbaiki, berusaha perbaiki. Bersabarlah dan bersikap cerdaslah. Kalau baru jalan sedekat ini saja Anda sudah kalah, apa jadinya? Tiap orang punya masalah, namun cara mengatasinya membuat orang berbeda. Jika Anda sabar dan mampu bersikap cerdas, insyaallah pintu solusi akan terbuka lebar.

Ayolah, masa’ baru empat minggu sudah nyerah!

pengantin baru

 

***
Athirah Mustadjab
Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *