Pengalamanku Mengatasi Baby Blues Syndrome

Saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Semua kakak saya laki-laki. Sejak SMP sampai menikah, saya kost di Jogja. Praktis saya tak pernah tahu cara mengasuh bayi-baru-lahir. Saya hanya biasa momong anak-anak tetangga yang masih batita.

Saat punya anak pertama, saya diminta suami agar tinggal di rumah ibunya. Sungguh dua keluarga yang berbeda dan kultur yang berbeda.

ASI saya mulai keluar hari ke-3, saat pulang dari Rumah Bersalin. Walaupun saya sudah belajar medis, tetapi ternyata untuk menyusui ini beda. Ini praktik yang tidak semudah membalikkan tangan.

Beberapa hari awal di rumah sampai hari aqiqah, banyak saudara dan tetangga berkunjung. Tentu dengan membawa “opini” mereka masing-masing. Sungguh pusing rasanya. Apalagi tiap malam begadang karena anak saya yang pertama itu selalu pup dan ngompol tiap habis nenen (menyusu). Semalaman mungkin bisa pup sepuluh kali dan pipis lebih dari itu. Belum lagi kalau malam, harus gendong jalan mondar-mandir untuk mendiamkan si bayi. Pagi hari selalu mengantuk, padahal orang tua suami saya adalah pekerja keras. Pagi-pagi buta beliau sudah bangun, buka pintu dan jendela, masak selesai sebelum jam 6, kemudian jualan di toko yang terletak di rumah. Tanpa pembantu.

Sedangkan saya baru benar-benar bisa beraktivitas sekitar jam 7 karena anak saya bisa tidur jika menjelang subuh. Kadang baju sudah dicuci oleh ibu mertua. Apa saya senang dengan semua itu? Tentu tidak. Apalagi tiap dengar omongan tetangga, “Mantu yang malas. Ibunya kerja dan nyuciin baju bayinya, kok (mantunya) malah tidur.

Sungguh pengen nangis ….

Satu lagi kebiasaan di sini — jika seorang ibu habis melahirkan, orang-orang akan menyuruhnya makan sayur adas tiap pagi dan minum jamu. Sungguh dua hal yang belum pernah saya makan dan minum. Rasanya tambah enggak doyan makan. Ditambah payudara yang bengkak, badan capek remuk redam, dan jahitan yang masih nyeri. Lengkap sudah rasanya. Lebih berat daripada saya begadang co-ass di NICU 2 hari 2 malam.

Saat puncak-puncaknya stres, akhirnya ada tetangga — seorang ibu muda yang suka membantu menggendong anak saya — yang memanggilkan dukun pijat. Saat mbah dukun pijat itu memijat seluruh badan saya, beliau bilang, “Nangislah, Nduk … kalau mau nangis. Mbah ngerti kamu capek, stres.

Nyes ….

Rasanya seperti baru dapat es teh di tengah siang yang panas.

Sejak saat itu, saya kemudian sadar, “Nah, inilah mungkin yang disebut baby blues syndrome seperti yang pernah saya baca dalam teori.

Saya berusaha kuat dan kemudian meminta pulang ke rumah orang tua saya sendiri. Walaupun mungkin sama-sama tidak ada yang bisa membantu saya mengasuh anak — karena di rumah orang tua saya juga cuma ada Bapak — tapi setidaknya saya bisa lebih mengatur diri saya sesuai kemampuan dan pengetahuan saya.

Sejak saat itu, saya bertekad, jika suatu waktu melahirkan lagi saya harus lebih siap belajar lebih banyak dan bersikap tenang, serta memilih tempat yang paling nyaman menurut saya.

Saya juga bertekad tidak boleh ada orang lain di sekitar saya yang mengalami hal yang serupa dengan saya. Makanya, saat satu-satunya adik suami saya melahirkan, tiap malam saya ikut bangun dan membantu dia menyusui anaknya, karena rumah kami memang bersebelahan. Kalau anaknya masih nangis juga, saya sendiri yang menyusui anaknya supaya anaknya tidur dan bisa ditinggal. Saya tak mau adik ipar saya merasakan hal yang pernah saya rasakan. Tiap pagi saya tanya, “Kamu mau makan apa? Jajan apa?” Yang penting dia nyaman. Saya juga mengupah tukang cuci untuk urusan cuci-mencuci baju-baju bayinya. Alhamdulillah, tidak sampai seminggu, dia bisa menyusui sendiri dengan baik.

Ada satu lagi sebenarnya pesan yang ingin saya sampaikan. Ketika menghadapi masa-masa seperti itu, kita harus benar-benar menjaga ucapan kita terhadap orang tua, karena itu adalah bentuk bakti kita. Jangan sampai karena kita beda pendapat, maka kita orasi atau ngotot-ngototan di depan ibu kita atau ibu mertua kita.

Ibu tetaplah ibu.

Beliaulah yang mengandung dan menyusui kita dan suami kita. Jangan sampai gara-gara terlalu banyak iklan yang memberondong kita dan karena ibu/ibu mertua kita kurang mendapat info, akhirnya kita malah merasa sok pintar dan berkata-kata yang menyakitinya. Kalau pun beda pendapat dan kadang kita dipaksa ini-itu (dalam masalah ASI ini) maka cukup diam, angguk-angguk, dan kerjakan apa yang kita yakini benar. Suatu hari, jika ibu sudah luang waktunya dan lega hatinya, kita bisa mengajak beliau untuk diskusi masalah ASI ini. Tidak harus saat itu juga.

 

**

Oleh: Ummu Ahmad

Artikel UmmiUmmi.Com

4 thoughts on “Pengalamanku Mengatasi Baby Blues Syndrome

  1. pengalaman punya anak pertama itu memang sesuatu yaa hihi…
    setelah pengalaman anak pertama, anak kedua dan ketiga aku juga ga ada bantuan (ortu) mba. Alhamduilllah rasanya malah lebih bisa “kuat”. Soalnya pas butuh istirahat ya istirahat. Makan pilih yang suka dan gak pake malu karena pas masa menyusui kan lapaarrr bangett apalagi awal-awal…
    barokallahu fiik mba yuni…tulisannya menginspirasi masya Allah

  2. Sama mbak, aku juga mengalami baby blues syndrome……bahkan lebih parah…..tinggal dirumah mertua abis operasi sc, saking stressnya air susuku kering dan tekanan darahku naik 240….kepalaku pusing sekali karna tidak bisa tidur nyenyak, dan suami juga tidak ada dirumah…..kalau ingat hal itu jadi pengen nangis, kasihan anak saya karna tidak mendapatkan asi……

    1. Sya anak prtama dari 6brsaudara adik saya yg kelima perempuan skrg lagi ngalamin stres brat tolong bagai mana cara menyembuhkannya

  3. MasyaAllah kisahnya.. Kita yg sudah mengalami tentu akan perih ketika mengingat kembali masa2 itu. Namun akan menyenangkan jika kita bisa membantu yg lain yg di sekitar kita,seperti yg d kisah tdi. Dn bagi yg tidak merasakan sindrom ini, sangat dibutuhkan pengertian dn perhatiannya,terlebih itu orng2 terdekat terutama suami. Betapa itu akan sangat membantu pemulihan diri ibu pasca lahiran. Betapa tinggi perjuangan seorang ibu,maka ikutlah kita berjuang pula bersamanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *