subscribe: Posts | Comments | Email

Pelajaran dari Bu Ruqiya

9 comments
Bu Ruqiya namanya. Beliau adalah seorang wanita keturunan Afrika. Saya mengenalnya saat datang ke kelas iqro’ dan membaca Al-Qur’an untuk ibu-ibu. Iqro? Ya benar, iqro’ yang populer di Indonesia untuk belajar membaca Al-Quran juga digunakan di sini (Boise, Idaho) karena kebetulan ketua takmir masjidnya adalah orang Indonesia.
kitab
Kembali ke Bu Ruqiya. Bu Ruqiya berputra 6. Setiap ke masjid, hampir seluruh putranya dibawa, minimal saya selalu melihat 4 orang putra-putrinya. Yang sulung berusia belasan tahun, yang bungsu sekitar belasan bulan. Saat Bu Ruqiya mengecekkan bacaan iqro’ kepada gurunya, si sulung bertugas mengasuh si bungsu. Kalau belum giliran mengecekkan bacaan ke guru, Bu Ruqiya berlatih mengecekkan hafalannya kepada putri sulungnya. Si sulung sudah lebih mahir daripada ibunya, ia di level 5, sedang Bu Ruqiya masih di level 3.
Bu Ruqiya semangat sekali mengikuti kajian fikih di masjid. Tiap kali pertemuan, adaa saja pertanyaannya. Bahkan mungkin pertanyaan yang terdengar agak konyol bagi kita. Berikut ini contohnya (kebetulan belakangan ini kita sedang belajar bab Masjid).
  • “Kenapa masjid Nabawi awal-awalnya kok nggak ada atapnya?” celetuknya heran saat pemateri menjelaskan awal mula dibangunnya masjid Nabawi. Akhirnya sang pemateri mengingatkan bahwa kaum muslimin saat baru saja hijrah, tentunya mereka membangun masjid dengan berdasarkan kemampuan mereka saat itu.
  • “Kenapa Rasulullah shallallahu alayhi wasallam dimakamkan di rumahnya, bukan di pekuburan seperti pada umumnya. Kok istrinya ga takut?” Ya akhirnya kita jadi mengerti bahwa para nabi dimakamkan di tempat mereka wafat. Dan juga, sekalian meluruskan bahwa ‘hantu’ itu ga ada, yang ada itu jin.
  • Pertanyaan terakhir yang menarik juga, yaitu ritual-ritual yang harus dilakukan seorang istri saat ditinggal mati suaminya. Bu Ruqiya bercerita tentang budaya masyarakat Afrika di mana sang istri harus memakai pakaian tertentu dan tidur dengan posisi tertentu di hari-hari awal setelah suaminya wafat. Beliau ingin tahu apakah ini ada dasarnya dalam Islam. Saat itu ada seorang muslimah nyeletuk, “Udah, nanti aku aja yang njelasin ke kamu,” tapi Bu Ruqiya ngotot ingin penjelasan dari sang pemateri, katanya, “Aku ingin memastikan jika nantinya aku mengalami hal tersebut, aku melakukan sesuatu yang benar.”‘

 

Saat suatu ketika kajian fikih tidak dapat diadakan, Bu Ruqiya sangat kecewa. Ia begitu kecewa karena tak bisa mendapatkan seteguk ilmu dari kajian favoritnya.

 

Beberapa pelajaran:
  • Walaupun sibuk mengurusi rumah tangga dan 6 anaknya,, Bu Ruqiya tetap menyempatkan diri datang kajian, walaupun hanya seminggu sekali. Pelajaran buat ibu-ibu yang putranya masih sedikit, ayo semangat kajian yuk. Insya Allah banyak cara di masa sekarang ini untuk mengikuti kajian.
  • Supaya saat kajian kelas bisa fokus, Bu Ruqiya berbagi tugas dengan anaknya yang sudah besar untuk membantu mengasuh/ mengawasi si kecil (Kalau anak-anaknya masih kecil semua, bagi tugas dengan suami boleh juga kaan?).
  • Bu Ruqiya tak malu belajar dari anaknya, karena anaknya dalam hal ini lebih punya pengalaman/ilmu.
  • Semangat saat ngikutin kajian (bukannya ngobrol sana-sini, ups..).
  • Semangat untuk mengamalkan Islam dengan benar.
Sekian saja, semoga bermanfaat.
  1. Masya Allah! Nohok pisan, euy.
    Betul, semangat itu memang harus dilecut dari diri sendiri.
    Ana yang belum punya anak aja kadang masih kalah semangat dibanding Ibu-ibu luar biasa seperti Bu Ruqiya itu.
    Di Riyadh juga banyak menemukan sosok semacam Bu Ruqiya.
    Teman sebis ana ke sekolah, contohnya.
    Dia punya tiga atau empat anak. Dua yang terkecil dibawa ikut ke sekolah.
    Selama perjalanan, sambil nyusuin bayinya, dia murajaah hapalan Quran.
    Atau mengecek hapalan doa dan Quran anaknya yang berusia 5 tahun.
    Semoga Allah menganugerahi kita semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

  2. MasyaAllah, semangatnya bisa jadi teladan untuk kita.
    Enak deh kalau anak-anak bisa diajak kerjasama membantu pekerjaan ibunya agar ibu bisa tetap belajar dan ta’lim. Semoga anak2 saya kelak bisa seperti itu jga..

  3. ummu hudzaifah says:

    artikel yang menambah semangat untuk ana..jazakillah

  4. inspiratif, maasyaa Allah.. Baarakallahu fiihaa..

  5. HI Rina, Pls contact me Aminah, I need your help in completing a copyright form.

    Thank you
    Aminah

  6. ummu salman says:

    Rina, assalamualaikum. Masiih tggl di US? Tinggal dimananya? Salam buat Abdurrahman ya

  7. ummu salman says:

    Afwan, klo Rina kurang bekenan tolong di hapus comment iin tsb di atas. Td spontan menyapa pas aq baca nama penulisnya famliar (secara jarang yg namanya Fiftarina), jdi langsung iin drop comment sekate-kate:-).

  8. @ UmmuSalman: iya, masih di US. Kotanya di Boise (ID), itu disebut di artikel. Btw, sun buat Salman n salam bwt mb Yona yah. Sdh kangen berat ni sama Batam.

  9. ummu salman says:

    Lapor, dah disampaikan k kak Yona salamnya, wa’alaikumsalam jawabnya:-) tulis lagi artikel yg lain ok

Leave a Reply