Parsial

Kita hidup pada masa ponsel sudah dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi. Tiap orang bisa memotret bagian hidupnya, dari angle yang bikin tampilan foto itu tampak ciamik, lalu diedit sedikit untuk memberi kesan soft, bright, classic, dan lain-lain.

Kemudian, disimpan lalu di-posting.

Bagi kita yang mungkin pernah melakukan hal di atas, kita pasti tahu bahwa tampilan foto hanya salah satu titik dari seluruh keadaan di sekitarnya. Misalnya, kita memotret masakan kita. Ya, tampilannya memesona betul. Eh, tapi … sekelilingnya penuh dengan “eksotisme”: wajan kotor, panci gosong, ulekan yang belum dicuci, cipratan minyak dan bumbu. Dan, oh ya … suara anak kita yang sedang rewel juga tidak terjepret oleh lensa kamera..

Lalu, “eksotisme” itu bagaimana? Hehe … Itu mah rahasia dapur. Penonton kebagian lihat masakan yang kece aja.

“Mbak, pinter amat sih masaknya. Kelihatannya enak banget tuh. Bagi resepnya dong!”
“Aduh, Mbak ini bikin ngiri deh. Saya nggak bisa masak opor yang enak kayak gitu. Hiks ….”

Hehe … Belum tahu dia!

(Atau)

Mungkin kita punya online-shop. Jepret sini, jepret situ. Pilih foto yang bagus, edit sedikit, lalu posting. Cihuy!

“Mbak, wadah makanan yang itu harganya berapa? Cantik banget.”
“Tasnya cantik, Mbak. Naksir, deh. Tolong inbox harganya ya.”

Wah, belum tahu dia! Di dekat spot foto itu, remah-remah makanan anak saya berceceran kayak pasir. Di dekatnya juga, dua anak saya sedang rebutan mainan. Di belakang sana, cucian kotor saya sedang numpuk, karena udah tiga hari nggak dicuci. Dan, (rahasia ya), udah seminggu ini saya belum baca Al-Quran saking sibuknya menyediakan stok barang dan melayani order pembeli.

Jangan memandang secara parsial

Inilah kehidupan, Ibu-ibu.

Kita sebagai manusia kadang lebih suka mengkhayal betapa indahnya kehidupan orang lain. Kehidupan orang lain yang tak pernah kita lihat seutuhnya. Kehidupan orang lain yang hanya kita lihat melalui “jepretan” dari angle yang membuatnya tampak sangat bagus.

Kita tidak melihat rahasia dapur mereka. Kita tidak melihat sisi kiri dan sisi kanan yang tidak tertangkap cakupan lensa kamera. Kita hanya melihat gambar, tak mendengar kegaduhan. Kita hanya melihat gambar, tak mendengar suara tangis.

Inilah kehidupan, Ibu-ibu.

Kehidupan kita, itulah sebenarnya fokus kita.
Kita tahu 100% kondisi kita. Kita tahu segala kelebihan dan kekurangan kita. Kita tahu harapan-harapan kita. Kita tahu cita-cita kita.

Kehidupan orang lain, kita tak tahu utuhnya seperti apa. Kita hanya melihatnya secara parsial.

Bersyukurlah dengan kehidupan yang diberikan Allah kepada kita.

Suami Anda mungkin tak pernah sekali pun memberi buket bunga sepulang kerja. Tak seperti suami Mbak A; kemarin di FB, Mbak A posting buket bunga dari suaminya.

Namun, suami Anda adalah lelaki yang ringan sekali membantu kerjaan istri di rumah. Bila cucian piring menumpuk, bila anak rewel, bila rumah laksana “kapal pecah” … dia tak pernah menunggu Anda memelas minta tolong. Pasti dia segera membantu hal yang dia bisa. Entah menggendong anak supaya tangisnya reda, memunguti mainan anak yang berhamburan di lantai, atau pada malam hari tanpa diminta dia memijat tubuh Anda yang terasa pegal-pegal.

Suami Anda mungkin bukan lelaki yang super tajir bermobil Lamborghini. Namun, dialah suami yang setia dengan motor-bebeknya mengantar Anda dari satu tempat pengajian ke tempat pengajian yang lain. Dialah suami yang rela membawa kantong-kantong plastik belanjaan Anda yang berisi ikan yang amis, lele yang berlendir, bahkan tulang sumsum yang menyembul penuh lemak.

Suami Anda mungkin bukan lelaki yang hafal kutubus sittah atau kutubut tis’ah. Namun, dialah lelaki yang tak suka hasad kepada orang lain. Dialah lelaki yang perhatian sekali dengan kondisi hatinya. Dialah lelaki yang rajin membaca Al-Quran. Dialah lelaki yang mendoakan Anda dalam sujud panjangnya pada malam hari.

Anak Anda mungkin belum pandai membaca pada usia balita. Bahkan, lancar berbicara saja baru ketika umurnya 3 tahun. Namun, dialah anak yang menerima Anda dengan kelapangan dada yang begitu luas. Bagi dia, semua masakan Ummi pasti enak (sekacau apa pun rasanya), Ummi adalah perempuan yang sangat cantik (sekucel apa pun Anda), dan Ummi adalah ibu terbaik di hatinya (meski berkali-kali Anda mengabaikan haknya sebagai anak).

Anak Anda mungkin masih tertatih-tatih menghafal Al-Quran. Bahkan, dalam sehari dia hanya mampu menghafal 1 baris. Itu pun makhrajnya belum pas, tajwidnya masih sering salah. Akan tetapi, dialah anak yang mendekap Anda ketika Anda tampak sedih. Dia meminta maaf ketika dia tak patuh kepada Anda. Dialah anak yang sering mengucapkan, “Aku sayang Ummi.”

Inilah kehidupan, Ibu-ibu.

Mari kita jadikan kehidupan orang lain sebagai pelajaran. Kita ambil yang baiknya, jangan ditiru yang buruknya. Kehidupan orang lain bukan harga mati yang harus kita tiru plek plek plek.

Kita jalani kehidupan kita. Kita kenali potensi kita. Kita syukuri semua nikmat yang telah Allah berikan. Kita tentukan tujuan kita. Kita gantungkan cita-cita kita setinggi-tingginya. Kita bertawakal kepada Allah. Dan, kita jalani semuanya dengan fokus. Fokus!

Ini aku.
Ini kehidupanku.
Aku harus tahu apa saja yang Allah suka.
Aku harus tahu apa saja yang Allah benci.

Ini aku.
Ini kehidupanku.
Aku ingin menjalaninya seperti yang Allah perintahkan.
Karena aku ingin hidup bahagia hari ini, dan di surga nanti.

***

Kamis, 28 Shafar 1437 H (10 Desember 2015 M),
Athirah Mustadjab

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

3 thoughts on “Parsial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *