Nasib Iman di Dada

1396667_16342328 daisies on a line

إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم كما يخلق الثوب

فاسألوا الله تعالىأن يجدد الإيمان في قلوبكم

Sesungguhnya iman itu benar-benar bisa usang di dada salah seorang di antara kalian sebagaimana usangnya baju. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di hati kalian.”

(Hadits shahih; diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ath-Thabrani; lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir)

 —

Baju yang usang bisa diperindah dengan menyeterikanya, atau diganti dengan yang baru. Iman yang usang bisa diperbarui dengan ilmu din dan amal shalih.

Pengabdian tanpa ujung

Ibu rumah tangga: sebuah pengabdian yang berpangkal, namun tak berujung. Selama jasad seorang muslimah masih menyatu dengan ruhnya. Sepanjang kakinya telah berpijak di rumah suaminya.

Tetaplah belajar

Belajar adalah kegiatan sepanjang hayat. Sebagaimana teladan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau ungkapkan kedekatannya dengan pena dan kertas untuk mencatat ilmu,

مع المحبرة إلى المقبرة

Bersama wadah tinta hingga ke liang kubur.”

Seorang muslimah mempelajari ilmu din untuk menyuburkan amal shalihnya.
Memutihkan baik-baik keikhlasannya.
Menjaga benar-benar mutaba’ahnya.
Merawat keistiqamahannya.

Ilmu din di dadanya.
Menyinari pakaian ketakwaan di jasadnya.

Jangan terpenjara oleh pekerjaan rumah tangga

Pekerjaan rumah tangga berkisar pada rutinitas yang tak jauh berbeda setiap hari. Apalagi bila telah dikaruniai buah hati, daftar tugas pun bertambah.

Jika tak pandai mencermati waktu, hanya pekerjaan rumah yang akan terselesaikan. Lalu, bagaimana kiranya nasib iman di dada?

Semoga kita tergolong hamba Allah yang pandai memanfaatkan waktu. Dalam setiap periode 24 jam, hendaklah seorang muslimah mampu menyelesaikan tugasnya di rumah, sekaligus meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.

Kerjakan dengan gesit dan terkelola.
Kerjakan dengan target dan perhitungan.
Abaikan yang tidak penting.
Segera selesaikan yang penting.

 

Jangan sampai rumah kinclong tapi hati suram.
Jangan sampai perut kenyang tapi jiwa keroncongan.

 

Mesti ada waktu untuk menghadiri majelis ilmu.
Mesti ada waktu untuk membuka buku.
Mesti ada waktu untuk mendengar rekaman pengajian.
Minimal setiap hari ada aktivitas belajar diniyah yang dilakukan.

 

Berjejaring sosial ala kadarnya

Ini dia godaan akhir zaman: jejaring sosial. Bayang-bayangnya selalu menghantui. Di laptop, di desktop, di gadget mana pun. Tinggal klik, langsung terkoneksi. Tinggal sentuh, langsung up-date.

Bijak dalam berjejaring sosial. Ambil yang bermanfaat, namun batasi penggunaannya. Terlalu banyak berjejaring sosial bisa menggelincirkan seseorang pada fudhulul mukhalathah (berlebihan dalam bergaul). Hal tersebut bisa mematikan hati.

Efek lainnya, waktu yang berharga akan habis tak terasa. Sia-sia.

Alokasikan masa luang untuk membuka buku atau mendengar rekaman kajian. Ada sebuah ungkapan,

خير صديق عند الجلوس كتاب

Sebaik-baik kawan duduk adalah buku.”

Khatimah

Sampai kita di ujung jumpa sekilas ini. Semoga menjadi tanashuh lillah ‘ala al-hubbi fillah.

Bayan Lepas, 18 Oktober 2013,
Athirah

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

4 thoughts on “Nasib Iman di Dada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *