Minimal Kita Tidak Dibodoh-Bodohi Orang

Hidup adalah perjalanan belajar tiada henti. Belajar itu bukan hanya dengan duduk manis di bangku sekolah. Eksplorasi anak-anak tentang semut di lantai adalah sebuah proses belajar. Uji coba resep baru adalah sebuah proses belajar. Menjadi istri – sekaligus ibu, anak, saudari, dan anggota masyarakat – juga sebuah proses belajar.

Tiap orang pasti punya cerita tentang proses belajarnya. Saya juga begitu. Banyak sekali suka-duka yang telah berbekas di hati. Dan, terkenang sebagai memori.

Teringat pada masa TK. Awal mencoba perosotan, ibu guru memegang tangan saya yang meluncur canggung. Itu perosotan baru, sih. Sebelumnya, perosotan di TK kami tidak setinggi itu. Agak lama saya beradaptasi dengan si perosotan. Sebuah proses belajar yang sungguh manis :)

Masa SD, ada kenangan juga. Waktu itu saya sempat menghilangkan bola karet milik teman kelas. Bola itu seukuran bola pingpong. Bisa dipakai untuk untuk bola bekel. Selama beberapa hari saya bimbang, bagaimana cara mengutarakan ke Mama, “Saya mau minta uang. Untuk ganti bola teman yang saya hilangkan.” Sebuah proses belajar. Di satu sisi, saya belajar cara menyampaikan keinginan ke Mama. Di sisi lain, saya belajar untuk segera bertanggung jawab mengganti barang teman yang saya hilangkan.

Salah satu memori paling berkesan ketika usia saya belasan adalah teori derivatif dan integral. Pernah saya tanyakan ke pak guru, “Pak, untuk apa kita belajar ini?” Waktu itu, saya merasa kurang mendapat feel. Di benak saya kala itu, terbayang derivatif dan integral bagai udara yang tak tampak wujudnya. Beda sekali rasanya dengan belajar teori trigonometri. Trigonometri bisa diterapkan pada pelajaran fisika, untuk menghitung kecepatan benda yang jatuh pada bidang luncur dengan kemiringan tertentu. Beda juga dengan pelajaran seni lukis, ketika kami dilatih untuk ulet dan rapi menggaris puluhan garis tipis – tanpa penggaris dan tak boleh terputus di tiap garisnya. Juga tak sama dengan penjelasan biologis tentang sistem peredaran darah, karena saya nyata bisa meraba jantung berdetak, pertanda ia sedang memompa darah.

Teka-teki derivatif dan integral itu akhirnya terjawab setelah usia saya mencapai kepala dua. Salah satu aplikasi sederhananya adalah dalam menghitung kecepatan dan percepatan. Contoh lain, dalam menghitung luas dan volume benda.

“Senang! Bahagia!” seperti itu sensasi ketika ada ilmu baru yang saya dapat. Dulunya tidak tahu, kemudian menjadi tahu. Betapa bahagianya bisa menghindari satu lagi lubang bahaya dalam hidup. Bersebab punya sebuah tambahan ilmu untuk mengayun langkah dengan lebih cermat :)

Jauh melampaui itu semua, ada salah satu momen yang menjadi sebab perubahan yang sangat besar dalam hidup saya. 180 derajat.

**

Ceritanya, saya pernah berada sepesawat dengan seseorang – yang setelah ngobrol singkat, saya tahu kalau dia sepupu kakak kelas saya. Awalnya saya pikir dia adalah kawan berbincang yang baik. Namun, lambat laun dia semakin menyebalkan. Coba Anda bayangkan, sudah nyata dia lihat saya berjilbab, tapi selama 100 menit penerbangan, ia terus menceramahi saya tentang konsep agamanya: trinitas. Ya, ia seorang kristiani. Sebodoh-bodohnya saya, tak mungkin saya tinggal diam kala agama saya dikuliti habis dalam percakapan dua muka seperti itu. Saya sampaikan sebisa saya.

Hingga batin saya terhenyak sewaktu dia bertanya, “Kenapa dalam Al-Quran Allah menggunakan kata ‘kami’? Bukankah itu menunjukkan bahwa Allah mengakui tuhan itu lebih dari satu?”

Aduh, kenapa ya?

Terlintas sebuah jawaban di kepala saya. Tepatnya, jawaban yang pernah saya dengar dari seorang trainer. Dengan rasa ragu, tetap saya sampaikan kepadanya.

Sewaktu pesawat mendarat dengan selamat, cepat-cepat saya ambil langkah menjauhinya. Sambil berjalan sendirian, batin saya merunduk, “Bodoh sekali saya! Saya harus lebih giat lagi belajar agama. Bagaimana mungkin saya tidak tahu agama saya? Pokoknya, saya mesti sungguh-sungguh belajar bahasa Arab.”

Iya, beberapa bulan sebelum itu sebenarnya sudah banyak sinyal yang menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah kunci memahami Islam. Kalau bisa bahasa Arab, insyaallah bisa paham Al-Quran. Lengkap dengan rasa bahasanya. Kalau bisa bahasa Arab, insyaallah bisa terhanyut dalam lautan faedah hadits Nabi. Itu akan jauh melebihi puluhan episode show motivator kenamaan di TV. Satu hal yang akan paling membahagiakan: kalau bisa bahasa Arab, insyaallah bisa lebih menghayati tiap bacaan shalat. Kita sering mendengar ayat Al-Quran (yang artinya), “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Kalau tak paham bacaan doa dalam shalat, betapa susahnya membuat shalat merasuk ke jiwa. Betapa susahnya menghayati tiap peringatan dan kabar gembira yang termuat dalam ayat-ayat Al-Quran.

Sekadar berbagi kebahagiaan, akan saya sampaikan jawaban yang lebih tepat tentang pernyataan orang di pesawat itu, “Kenapa dalam Al-Quran Allah menyebut dirinya dengan ‘kami’?”

Oh … oh … oh, jawabannya ternyata ada dalam ilmu bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab, kata “kami” menunjukkan penghormatan. Berarti, ketika dalam Al-Quran Allah menyebut dirinya dengan “kami”, itu artinya Allah sangat mulia.

Boleh Anda perhatikan, dalam beberapa keadaan, seorang lelaki akan memanggil lelaki lain dengan sapaan “Antum”, bukan “Anta”. Padahal, antum artinya “kalian”, sedangkan anta berarti “Anda”. Nah, itu artinya sapaan tersebut menunjukkan penghormatan. Jadi, Allah itu Maha Esa, ya. Tidak punya anak, tidak punya orang tua. Allah Maha Esa. Catat!

Kurang lengkap penjelasan ini. Jika Anda ingin lebih dalam menyelami, ayo dong belajar bahasa Arab :))

**

Selain bahasa Arab, ilmu-ilmu agama lain juga wajib dipelajari loh. Aqidah, fikih, adab dan akhlak, dan lain-lain. Bukan berarti tiap orang wajib jadi ustadz atau ustadzah. Bukan … bukan begitu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Belajar agama wajib dilakukan oleh setiap muslim.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah dan selainnya)

Ada ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim, misalnya: ilmu tentang Allah (mempelajari hak-hak Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tata cara shalat sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jenis-jenis najis, dll.

Ada juga ilmu yang wajib dipelajari oleh seorang muslim, tapi tidak wajib untuk muslim yang lain. Misalnya, seorang pedagang mesti belajar tuntunan Islam tentang jual-beli, seorang dokter mesti belajar ilmu fikih tentang ilmu kedokteran, seseorang yang akan menikah mesti belajar ilmu tentang nikah dan talak, seseorang yang akan menunaikan haji atau umrah mesti belajar tentang tuntunan haji dan umrah, dan seterusnya.

Kalau kita renungkan, belajar itu sebenarnya untuk diri kita sendiri. Manfaatnya, kembali ke diri kita.

Proses belajar – yang kita jalani sejak lahir hingga sekarang – insyaallah sudah terasa manfaatnya hari ini. Semenjak kita belajar telungkup, berdiri, berjalan, membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya.

Bayangkan kalau kita tidak belajar membaca sewaktu kecil, apakah sekarang membaca buku akan terasa nikmat?
Bila kita tidak belajar menulis, tentu susah sekali kita hari ini.
Bila kita tak pernah belajar berhitung, mungkin kita kesulitan membandingkan mana yang lebih hemat: beli barang ukuran kecil atau ukuran besar :)

Maka, ukhti muslimah … Belajar agama, yuk! Belajar bahasa Arab, yuk!

Bila kita punya ilmu, insyaallah kita tidak mudah dikibuli orang. Minimal kita tidak dibodoh-bodohi orang :)

Barakallahu fikunna.

***

Jogja, 30 Rabi’uts Tsani 1436 H (19/02/2015 M),
Athirah

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

One thought on “Minimal Kita Tidak Dibodoh-Bodohi Orang

  1. Syukron utk artikely sangat bermanfaat dan sangat memotivasi sy utk lbih yakin lagi dlm bljr ilmu agama… ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *