subscribe: Posts | Comments | Email

Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak (4): Disgrafia

0 comments

Definisi disgrafia

Gangguan disgrafia mengacu kepada anak yang mengalamai hambatan dalam menulis, meskipun intelegensianya normal (bahkan ada yang di atas rata-rata) dan dia tidak mengalami gangguan dalam motorik maupun visual. Gangguan ini juga bukan diakibatkan oleh masalah ekonomi dan sosial tetapi merupakan hambatan neurologis dalam kemampuan menulis, yang meliputi hambatan fisik, seperti: tidak dapat memegang pensil dengan benar atau tulisannya jelek. Anak dengan gangguan disgrafia mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka. Berikut ini ciri-ciri yang bisa dikenali dari penderita disgrafia.

  1. Tidak konsisten dalam membuat bentuk huruf.
  2. Penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
  3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
  4. Kesulitan dalam mengomunikasikan satu ide, pangetahuan, atau pemahamannya dalam bentuk tulisan.
  5. Sulit memegang pensil dengan mantap. Biasanya posisi tangan hampir menempel dengan kertas.
  6. Berbicara kepada diri sendiri ketika sedang menulis atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis
  7. Cara menulis tidak konsisten dan tidak mengikuti alur.
  8. Walaupun hanya diminta menyalin contoh tulisan, anak tetap mengalami kesulitan.

Penanganan disgrafia

Dari delapan ciri disgrafia yang bisa dikenali, para psikolog sudah menguraikan beberapa tahapan penanggulangan yang bisa dilakukan.

1. Pahami keadaan anak
Upayakan untuk tidak membandingkan anak yang mengalami gangguan ini dengan anak lain yang normal. Membanding-bandingkannya hanya akan membuat anak merasa stres dan frustasi.

2. Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar menuangkan ide-idenya dengan menggunakan media komputer. Penggunaan komputer memungkinakan anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar dia mengetahui kesalahannya secara langsung.

3. Bangun rasa percaya diri anak
Berilah pujian pada saat yang tepat dan wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Selain itu, jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan hal-hal yang sedang dilakukan anak karena itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustasi. Jika ini yang terjadi, akan terjadi kontradiksi dengan upaya penanggulangan hambatannya dan ini akan sulit kembali membangun rasa percaya diri anak.

4. Latih anak terus menulis
Upayakan setiap peristwa menjadi saat-saat latihan bagi anak untuk menulis. Berikan tugas-tugas yang menarik, seperti: menulis surat untuk teman, untuk orang tua, menulis dalam selembar kartu pos, dan yang sejenisnya. Upaya-upaya ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menunangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan nyata.

Sumber: 12 Permainan untuk Meningkatkan Intelegensia Anak, Dyan R. Helmi dan Saiful Zama, S.Psi., Cetakan Pertama, Januari, 2009, Penerbit: Visimedia, Jakarta Selatan.

Leave a Reply