Mengambil Hikmah dari Meninggalnya Seorang Ibu setelah Melahirkan

Beberapa waktu lalu beredar kabar meninggalnya seorang ibu berkebangsaan Malaysia setelah melahirkan anaknya yang ke-6 di Inggris, tempat suaminya melanjutkan studi S-3. Kesedihan pun tergambarkan di beberapa status media sosial para kerabatnya dan orang-orang yang mengenalnya, baik yang ada di negara asalnya maupun dari beberapa belahan dunia.

Kenyataannya sang ibu memang tidak hanya dikenal di dunia nyata sebagai seseorang yang istimewa, namun juga dia cukup populer di dunia maya karena dia seorang penulis. “Maria often found herself writing about natural birth and parenting, and had a passion for homeschooling and autonomous learning.”

Sebuah tulisan tentang pengalaman menulis sang ibu, Maria Zain rahimahallah, di blog Muslimah Writers Alliance, “Five years worth of Maria’s articles (2010-14) can be found at OnIslam.net. She has also been published in Saudi Life (KSA), DinarStandard (USA), SISTERS Magazine (UK), Discovery Magazine (UK), and in several publications throughout her home country.

OnIslam.net pun menuliskan tentangnya, “She was a pure soul who wrote with a lot of motivation, inspiration, hope and enthusiasm. These qualities are reflected in her articles and can be felt in her readers’ comments and feedback.

Belum lagi hilang kesedihan itu, muncul sebuah artikel yang membuat rasa sedih semakin menjadi saja. Artikel tersebut membicarakan penyebab kematian sang ibu.  Isinya berupa asumsi penyebab kematian sang ibu: perdarahan setelah ia melahirkan anaknya yang ke-6 tersebut di rumah, tanpa didampingi tenaga kesehatan, hanya ada suaminya dan lima anaknya.

Tidak sedikit orang yang mengecam proses melahirkan di rumah tanpa asistensi nakes (tenaga kesehatan) — populer disebut “unassisted childbirth (UC)”. Ada yang menganggapnya sebagai tindakan egois yang dilakukan tanpa pikir panjang. “She trusted birth, and it killed her,” begitu judul awal artikel itu.

Terlepas dari kondisi yang sebenarnya terjadi saat itu, saya pribadi sangat prihatin ketika membaca artikel tersebut. Sedih sekali membaca komentar-komentar miring seputarnya. Bukan hanya karena saya mengenal Maria Zain, tapi juga tidak lain karena artikel tersebut ditulis oleh seorang dokter wanita nonmuslim, sedangkan artikelnya membicarakan seorang wanita muslimah, seorang saudari yang satu akidah dengan saya. Terlebih lagi, sang muslimah telah meninggal dunia.

Artikel tersebut ditulis oleh seorang wanita nonmuslim yang tidak mempercayai qadha dan qadar, yang berkhayal bahwa kematian tersebut sebetulnya dapat dicegah, yang telah berburuk sangka kepada Allah atas musibah ini.

Saya tidak akan membahas keputusan sang ibu yang meninggal dunia itu — yang dianggap tidak menghiraukan risiko yang ada untuk UC, terlebih lagi sang ibu sendiri adalah seorang Childbirth Educator (Amani Birth Certified). Saya juga tidak akan membahas reputasi sang dokter penulis artikel tersebut di blognya.

Saya hanya ingin kita semua mengambil hikmah dari kejadian yang saling terkait itu, sebagai bentuk persaudaraan saya dengan Maria Zain dan juga kaum muslimin lainnya baik yang mengenalnya maupun tidak. Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah (damaikanlah) hubungan antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kalian diberi rahmat“. (QS. Al-Hujurat: 10)

1. Jangan mencela orang-orang yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada sesuatu (hasil) yang mereka lakukan.” (HR. Al-Bukhari)

2. Kita tidak tahu bagaimana mati kita, di mana, dengan siapa, dan sedang apa. Kita tidak patut merasa akan mati dalam keadaan yang lebih baik dari ibu yang mati setelah melahirkan itu sehingga kita boleh mengatakan hal yang buruk yang berkaitan dengan kematiannya? Sedangkan seorang ibu yang mati setelah melahirkan itu dinilai syahid, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah (sang perawi hadits) menjawab, “Wahai Rasulullah, merekalah orang yang sabar dan selalu mengharap pahala dari musibahnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan,

شهداء أمتي إذاً لقليل ، القتل في سبيل الله عز وجل شهادة ، والطاعون شهادة ، والغرق شهادة ، والبطن شهادة ، والنفساء يجرها ولدها بسرره إلى الجنة

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah itu syahid. Orang yang mati karena wabah penyakit tha’un itu syahid. Orang yang mati tenggelam itu syahid. Orang yang mati karena sakit perut itu syahid. Wanita yang mati karena nifas akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, no. 15998. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini: shahih li ghairih)

3. Amal kita belum tentu sebanding dengan amal orang yang dicela. Bagaimana kalau kita interospeksi diri kita, apakah kita telah menjadi manfaat bagi orang lain? Bagaimana kalau kita jadikan inspirasi dan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi seperti yang telah Maria Zain usahakan selama hidupnya, bahkan lebih baik lagi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruqutni. Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 3289)

4. Usaha manusia hanya Allah yang tahu. Cukuplah kita menyadari bahwa ada banyak pilihan dalam hal yang bersifat duniawi, dan setiap orang memiliki pilihannya sendiri dengan berbagai pertimbangan yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Tidak layak kita menghakimi seseorang berdasarkan persepsi yang tampak di mata kita saja, apalagi bila hanya persangkaan tanpa bukti. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui dengan detail.” (QS. Luqman: 34)

5. Belum ajal berpantang mati, sudah ajal berpantang hidup. Sungguh menyedihkan bila ada orang yang mengatakan bahwa kematian sang ibu bisa dicegah. Siapakah yang dapat menjamin seandainya hari itu dia ke rumah sakit maka ia akan hidup sampai hari ini?

قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah olehmu, ‘Tolaklah kematian dari diri-diri kalian bila kalian orang-orang yang benar.’ (QS. Ali Imran: 168)

فإن أصا بك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا لكن كذا وكذا, ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل, فإن (لو) تفتح عمل الشيطان

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qadarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah menakdirkan segalanya dan semua hal yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan setan.” (HR. Muslim, dalam Shahih-nya, no. 2664)

6. Menghormati keluarga yang ditinggalkan. Cukup sudah kesedihan yang mereka rasakan setelah kepergian sang ibu. Janganlah tambah kesusahan ke pundak mereka dengan apa pun yg menambah kesedihan mereka. Bahkan Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling tegar menghadapi peperangan, menangis atas kepergian anaknya Ibrahim. Apatah lagi mereka! Bayangkanlah bila itu terjadi pada kita.

فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله ؟! فَقَالَ : (( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ )) ثُمَّ أتْبَعَهَا بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ ))

“Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf berkata, ‘Engkau juga menangis wahai Rasulullah?’ Maka Nabi berkata, ‘Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang).’ Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, ‘Sungguh mata menangis dan hati bersedih, tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu, duhai Ibrahim.'”(HR. Al-Bukhari, no. 1303)

7. Allah akan menjaga keluarganya*. Allah tidak menciptakan sesuatu kecuali dengan hikmahnya. Allah tidaklah membebankan sesuatu kepada seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Insya Allah, anak-anak yang ditinggalkan sang ibu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah. Allah yang mematikan manusia maka Allah-lah yang akan menjaga segala yang ditinggalkannya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ} [سورة الحديد: آية 4].

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Dia mengetahui semua yang masuk ke dalam bumi, semua yang keluar darinya, semua yang turun dari langit, dan semua yang naik kepadanya. Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

الله خـلق كل شىء ۖوهو على كل شىء وكيل

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

8. Beriman kepada qadha dan qadar. Itulah yang sepatutnya kita lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Artinya, ‘Tidak ada musibah yang terjadi di muka bumi atau yang menimpa diri-diri kalian kecuali sudah tertulis di dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. Agar kalian tidak putus asa dari apa yang tidak kalian dapatkan dan tidak bangga dengan apa yang Allah berikan kepada kalian. Dan Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali terjadi atas izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberi petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

9. Jadikan kematian sebagai pengingat bahwa tidak ada manusia yang akan hidup di dunia ini selamanya agar kita tidak terlena dengan kehidupan yang kita jalani sekarang.

الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

10. Jadilah orang cerdik. Ambillah hikmah dari kematian yang tiba-tiba tanpa kita ketahui datangnya dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Beramallah sebanyak-banyaknya. Amal yang tidak hanya baik tapi juga benar. Jauhkanlah diri kita dari amal perbuatan dan perkataan buruk yang hanya akan menyengsarakan kita saja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Siapakah yang paling cerdik dari kalangan kaum mukminin?” Beliau menjawab,

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdik.” (Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 3:164, no. 3335)

Semoga Allah pahamkan kita atas hikmah di balik musibah, baik yang dapat kita ambil hikmahnya maupun yang Dia rahasiakan.

Allahu a’lam.

Kuala Lumpur, 7 Januari 2015,

Mutiara Wahiddin.

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits.

(*) Catatan Redaksi UmmiUmmi.Com:

 

Ini sebagai nasihat bagi kita semua agar yakin dengan kekuasaan Allah. Dia mampu menjaga semua makhluknya. Dia mampu menjaga keluarga kita andai kita tidak lagi di sisi mereka. Di sisi lain, kita juga berusaha menempuh jalan untuk memperoleh kesehatan dan keselamatan jasadi. Tawakal dan ikhtiar, karena tawakal tidaklah kemudian meninggalkan ikhtiar (usaha) dan usaha adalah sia-sia jika meninggalkan tawakal.

Artikel UmmiUmmi.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *