Mahligai Cinta

Dua hati itu kini bersatu dalam mahligai cinta. Dalam ikatan suci yang Allah telah menghalalkan antara keduanya. Keduanya telah ikhlas untuk menjadi pendamping hidup satu sama lain. Ikatan itu telah menyempurnakan sebagian agama.

Bukan ikatan yang terlarang tanpa status dan ketidakpastian, yang bisa mendorong ke dalam jurang kemaksiatan. Tak ada ikatan sebelumnya, hanya berawal dari selembar kertas yang namanya biodata dan di bawa oleh sang perantara. Ta’aruf adalah langkah selanjutnya, untuk saling mengenal antara keduanya. Bukan berdua-duaan, apalagi bersepi sepian di taman.

Ketika Allah telah memberikan kecondongan hati keduanya maka bersegera melangkah untuk meminang, melamar dan menikah. Dengan berbekal ilmu syar’i tentang adab adab sebelum dan setelah pernikahan yang harus dipahami keduanya.

Ada sebuah cerita dari sepasang muda-mudi yang kini telah menjadi sepasang suami istri, ketika sang pemuda meminang sang pemudi menjawab dengan basmalah dan pemuda pun mengucap hamdalah.

Tak butuh waktu berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun untuk saling mengenal. Tak ada kata pacaran, tak ada juga kata cinta-cintaan.

Cinta adalah sebuah rasa yang bisa ditumbuhkan dan dibina dalam kehidupan rumah tangga. Tapi cinta adalah rasa yang bisa pudar bahkan sirna, jika tak pandai memupuk dan merawatnya.

Rasa cinta yang lahir karena harta, jabatan, dan paras yang menawan sewaktu waktu bisa sirna. Jabatan bisa saja lepas dari genggaman, harta bisa saja hilang atau pun berkurang, dan paras yang menawan bisa luntur seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Akan tetapi, cinta sejati nan abadi bisa diraih jika lahir dari keimanan, ketakwaan, amal salih, dan akhlak yang mulia. Meski raga telah renta atau ajal memisahkan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibandingkan selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika cinta hadir dikarenakan iman dan akhlak yang mulia semoga segala kekurangan yang ada pada diri pasangan akan tertutupi. Semoga rumah tangga yang dibina mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, cinta dan kasih sayang, serta melahirkan keturunan yang senantiasa patuh dan taat kepada Allah dan bisa mendoakan kedua orang tuanya.

Wallahu a’lam bish shawab.

**

Oleh: Ummu Syifa’

Artikel UmmiUmmi.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *