Kuterima Engkau Apa Adanya, Anakku …

anak-anak

Teknologi berlari cepat sekali. Sedangkan kita adalah penggunanya. Kita bagai mendorong troli belanjaan sambil bersepatu roda. Sangat cepat! Kita ambil informasi, kemudian taruh dalam troli belanjaan. Kita ambil, lalu taruh. Ambil, taruh.

Apalagi soal media sosial: jejaring sosial, situs, blog. Mulai dari yang pemiliknya kita kenal, sampai yang tak kita kenal. Kita bisa tahu kehidupan setiap orang, dinamika kesehariannya, juga bahagia serta dukanya.

Tapi kasihan bila informasi langsung diambil semua. Tak dipilah-pilih. Ujung-ujungnya bisa gundah seperti ini:

Anak orang lain bisa berjalan umur segini. Anakku gimana?
Anak orang lain bisa bicara umur segini. Anakku kok belum.
Anak orang lain bisa membaca umur segini. Anakku belum bisa.
Anak orang lain bisa berhitung umur segini. Anakku? Belum bisa.

Ranjau hati

Membanding-bandingkan adalah perkara yang sah-sah saja, asalkan benar penempatannya. Jika mengarah kepada hal positif yang membangun, itu yang ideal. Masalahnya, kalau perbandingan itu dibuat dalam rangka unggul-unggulan. Untuk unjuk gigi. Niatnya bukan lagi untuk memperbaiki diri. Tapi semata ingin dipuji. Supaya martabatnya terangkat tinggi-tinggi.

Kurang lebih, kondisi ini bisa disebut “ranjau hati”. Seorang ibu secara tidak sadar menanam ranjau dalam hatinya. Jika suatu saat dia tidak sadar menginjak ranjau itu, binasalah dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Secara riil, seorang ibu membangun pola-pikir “unggul-unggulan” dalam benaknya. Suatu saat, ketika dia sudah tidak sabaran melihat anaknya tak bisa menyalip keterampilan dan kecerdasan anak lain, emosinya membuncah. Ambisinya tak kesampaian. Dadanya meledak! Anaknya jadi sasaran kedongkolan. Suaminya ikut-ikutan kena serpihan kekesalan.

Apalagi kalau ketemuan dengan sesama ibu secara intens. Entah pas ngantar-jemput anak sekolah, di ta’lim, di WhatsApp, di Facebook. Rasanya hati panas kalau anak sendiri enggak bisa lebih unggul dari anak lain. Minimal, bisa sehebat mereka lah ….

Lalu, solusinya bagaimana dong? Tu-Ja-Fo-Do:

1. Tujuan

Tetapkan tujuan, yang lurus dan benar. Mendidik anak tujuannya apa? Memperoleh anak shalih lagi mushlih (atau shalihah lagi mushlihah), sebagai salah satu sebab memasuki surga Allah tanpa hisab dan tanpa azab.

2. Jalan

Jalan apa yang bisa mengantarkan sampai ke tujuan?

  • Mendidik anak sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bacalah buku-buku sirah nabawiah, kitab tarikh, buku tentang akhlak dan adab. Dengarlah kajian-kajian mengenai tema tersebut. Insyaalloh akan Anda dapati bekal yang memadai.
  • Mendidik anak dalam perkara-wajib baginya sebagai muslim/muslimah. Serta dalam perkara sunnah dan mubah yang bisa mengantarkan kepada poin pertama (TUJUAN).
  • Menyesuaikan jalan dengan bakat dan kecenderungan anak. Ingatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabat berdasarkan tingkat pemahaman mereka. Akan berbeda caranya ketika beliau men-tarbiyah Abu Bakar dengan tarbiyah beliau terhadap seorang Badui yang kencing di masjid. Akan berbeda tarbiyah beliau kepada seseorang yang telah lama masuk Islam dengan seseorang yang baru saja masuk Islam. Akan berbeda tarbiyah beliau terhadap orang yang kuat menghafal dan cerdas memahami, dibandingkan yang lemah dalam hal tersebut.

3. Fokus

Fokus! Jangan paksakan seorang Bilal bin Rabah menjadi serupa identik dengan Abu Hurairah. Jangan paksakan seorang ‘Abdullah bin Ummi Maktum menjadi serupa identik dengan Khalid bin Walid. Jangan paksakan seorang ‘Umar bin Khaththab menjadi serupa identik dengan ‘Utsman bin ‘Affan.

Bukankah terompah Bilal terdengar di surga? Karena shalat sunnah yang dikerjakannya selepas berwudhu.

 

Adapun Abu Hurairah berderajat mulia dengan khazanah ilmu dan kecemerlangan daya hafalnya.

 

Bukankah ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta adalah mu’azzin pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dan mu’azzin adalah orang yang mulia di Yaumil Akhir kelak. Kisah lainnya pun terekam di sebalik surah ‘Abasa.

 

Adapun Khalid bin Walid, dialah prajurit kenamaan di medan peperangan melawan kaum kuffar. Siapa yang tak mengenalnya?

 

Bukankah sifat keras ‘Umar menjadi salah satu sebab terangkatnya izzah kaum muslimin?

 

Sedangkan ‘Utsman begitu pemalu, hingga malaikat pun malu terhadapnya.

 

Dan mereka adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mulia di sisi Allah Jalla Jalaluh.

 

Allah telah membagi amalan, agar tiap orang bisa berikhtiar menggapai surga berbekal potensinya masing-masing. Keberanian, ketabahan, kedermawanan, kecerdasan, keikhlasan, ketawadhu’an, kegigihan. Senada dengan itu: kuat dalam daya ingat, kuat dalam perhitungan, kuat dalam pemahaman, kuat dalam kemampuan motorik.

Fokuslah terhadap potensi anak Anda. Senantiasa bersabarlah untuk tetap fokus. Jadikan keunggulan anak lain sekadar sebagai inspirasi untuk Anda, bukan harga-mati yang mesti plek sama dengan itu.

4. Doa

Doa, wahai Ibu! Doa. Sesuatu yang abstrak kekuatannya, namun riil hasilnya. Insyaalloh.

وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيّاً

… Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, wahai Rabbku.” (Q.s. Maryam:4)

Fitnah dunia

Duhai Ibu, semoga Allah sayang kepadamu ….

Tidakkah kita pernah melihat ayat ini dalam Kitabullah,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ

ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.s. Al-Hadid:20)

Berkaca kepada diri sendiri

Sejujurnya, tulisan ini lahir dari hasil pergumulan batin saya sendiri.

Ketika saya melihat perkembangan Asiyah tidak sepesat anak lain dalam beberapa hal: berbicara, membaca, berhitung.

Padahal dalam hal lain, saya sepatutnya bersyukur kepada Allah karena Asiyah bisa menyenangkan hati saya.

Seorang sahabat saya membahasakannya sebagai “terjebak”. Ya, terjebak oleh ranjau hati yang saya tanam sendiri. Alhamdulillah ranjau itu belum lagi sempat meledak. Ketika saya tersadar akan kesalahan itu, cepat-cepat saya gali lagi hati ini, lalu saya enyahkan ranjau itu.

Alhamdulillah, saya sepatutnya bersyukur meski pada usia 3,5 tahun ini pelajaran iqra’ Asiyah baru sampai huruf dal. Dia sama sekali belum bisa membaca aksara latin. Namun di balik itu semua, saya percaya bahwa Asiyah — yang termasuk susah duduk diam ini — telah bersabar melalui sebuah proses panjang.

*

Untuk dikau yang kusayang
Dalam darahmu mengalir darahku
Kutahu bahwa dirimu adalah bagian diriku

Allah anugerahkan engkau untukku
Terlahirlah engkau ke dunia
Dengan segala sifat yang mewarnaimu
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu

Ayo, kita lejitkan potensimu!
Ayo, kita perbaiki kekuranganmu!
Ini tangan Ibu, gandenglah!

Kuterima engkau apa adanya,
Anakku …. 

 

Bayan Lepas, 20 Oktober 2013,
Athirah

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

30 thoughts on “Kuterima Engkau Apa Adanya, Anakku …

  1. bagus thir masya Allah…
    makanya juga gak suka terlalu nanya2 si fulan bisa apa dll..ana lebih suka denger cerita ini bisa begini..caranya begini dan begitu..siapa tahu jadi bisa diterapin hehe..

    Btw…gak usah khawatir yang berkaitan dengan perkembangan kognitif (baca tulis hitung).
    ziyad walaupun mulai belajar iqro umur 3,5 th, tapi perkembangannya lambat. Pas umur 5 tahun ana ngulang lagi loh thir dari iqro 1. Alhamdulillah 2 bulan lancar dan lebih mantab ingatan ke hurufnya sampe di iqro 3 lagi deh.

    Belajar ngitung yg teratur Ziyad juga baru umur 6 tahun ini thir…kelihatan kalo emang otaknya in sya Allah udah sanggup nangkep.

  2. masyaAllah artikel yg bagus mba thir. Every child is special. Salam manis utk asiyyah dan adiknya dari Nafisa dan Fauzan.

  3. Tulisan yang sungguh menggugah hati.. pencerahan untuk seorang ibu..
    Jazakillah Athirah untuk postingannya..

  4. Baarakallahu fiiki ath tulisan yg mnarik dan riil. Smga blh sy gandakan utk teman2 sy disini. Jazaakillahu khayran

  5. bismillaah.
    alhamdulillah…tulisan yang bagus tir.lagian gara2 merhatiin anak org lain,kita jadi semakin sulit ngatur niat dalam mendidik anak. baarakallahu fiik…
    semoga kita diberi taufik untuk selalu mengiklaskan niat dalam mendidik anak. insyaa Allah itulah kunci suksesnya.

  6. Terima kasih artikel ini menggugah saya….hanya saja terkadang dari sisi sekolah yang membuat saya tidak sabar..dengan laporan bahwa anak saya tidak mampu mengikuti pelajaran,karena anak saya belum lancar membaca dan menulis..

  7. @ mba septi

    Makasih atas sharingnya, mba. Apa yg mba bilang emang bener banget. Terkadang kita memecut anak berlebihan karena faktor di luar diri kita sendiri.

    Tapi bgmnpun, selama kita percaya pada kemampuannya, insyaalloh dia tidak akan menyerah :)

    Selama kita terus menyemangatinya, insyaalloh dia akan terus berusaha :)

    Dan tentunya banyak berdoa kepada Allah.

    Semangat, mba septi..

  8. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh mb athirah…masyaaAllah…artikelnya bagus banget…mb minta ijin ya untuk copy artikel2nya…

  9. Saya selalu berdoa agar diberikan jalan keluar oleh Allah atas kegundahan hati saya yg persis seperti cerita diatas. Alhamdulillah Allah menunjukkan lewat cerita diatas. Terimakasih penulis

  10. subhaanallah… semoga saya bisa menjadi ibu yg baik untuk anak saya kelak…

  11. Assalamualaikum Wr wb ….. mba …artikel nya menggugah hati bangettt…..
    izin copas ya….
    mudah2an bermanfaat neh utk para orang tua yang lain …

    biarkan anak kita tumbuh sesuai dengan bakat nya …. :)

  12. Assalamualaikum Wr wb …..
    artikel nya menggugah hati bangettt…..
    izin copas ya….
    mudah2an bermanfaat neh utk para orang tua yang lain …

    biarkan anak kita tumbuh sesuai dengan bakat nya …. :)

  13. Assalamualaikum..wr..wb
    entah kenapa airmata saya tiba2 mengalir membaca tulisan mbak,..ini bukan saya melebih-lebihkan,.melainkan saya seperti mendapat teguran karena ternyata saya juga sudah meletakkan “ranjau hati’ di hatiku mbak,.ya Allah,..ampuni aku,..
    izin copas puisinya ya mbak :)

    1. Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh

      Hidup ini memang perjalanan untuk belajar tiada henti ya, Mba :)
      Kemarin kita masih kurang di sisi ini, hari ini insya Allah kita perbaiki.

      Silakan di-copas, Mba. Semoga bermanfaat. Barokallohu fik.

  14. Sy terharu membaca tulisan mb…terutama puisinya begitu menyentuh kalbu…hati sy terketuk tak dpt dipungkiri iri melihat anak orang lebih pesat dr pd anak kita …inilah ranjau hati yg hrs segera sy singkirkan jauh2…fokus n terus berdoa…Allah Maha Mengabulkan setiap doa yg baik aamin

    1. Barakallahu fik, mba reni.

      Bener, mba. Fokus. Kita fokus membenahi kekurangan anak dan fokus mengembangkan potensinya. Allah Maha Adil. Pasti Allah sudah mengaruniakan potensi khas untuk tiap anak. Semangat, mba :)

      Di mana ada kemauan, insyaallah di situ akan ada jalan.

  15. masyaAlloh
    terharu membayangkan anakku tidak seperti anak lain
    tetapi aku beryukur kepada Alloh dia mempunyai kelebihan yang tidak di miliki anak lainnya
    keep think positif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *