Kontrol Belanja Onlinemu

Zaman sekarang semua serba dimudahkan. Tinggal klik akun facebook atau BBM, seantero online shop siap untuk kita jadikan teman. Saya berteman dengan beberapa online shop/OS karena ada latar belakangnya, saya mempunyai bayi maka saya berteman dengan baby shop, saya adalah ummahat berjilbab lebar maka saya berteman dengan ummahat yang jualan setelan gamis dan saya juga jarang keluar rumah maka saya juga berteman dengan toko buku agama, toko herbal dan toko yang menjual kebutuhan ibu-ibu; semacam tas atau makanan sehat. Saya agak selektif memilih OS karena tawaran-tawarannya yang menggiurkan jelas akan membuat kita jadi ingin dan ingin terus, kalau tidak bisa menahan diri maka bisa-bisa kantong jebol deh. Semua seolah serba unyu-unyu, lihat-lihat barang OS ibarat pergi ke mall, semakin banyak toko yang kita lihat maka akan semakin banyak yang kita inginkan. Keinginan yang semakin bias dengan kebutuhan.

 Nikmat harta membuat belanja online jadi kewajaran. Apalagi bagi yang tak sempat keluar rumah atau tinggal di tempat yang jauh dari toko yang menjual kebutuhannya, maka tinggal klik atau telleon barang sudah bisa dikirim ke rumah. Saran saya, pikir beberapa kali sebelum memutuskan beli ini dan itu.

  • Apakah saya benar-benar butuh?
  • Apakah masih bisa ditunda?
  • Apakah barang yang saya beli mendorong saya untuk lebih taat kepada Alloh?
  • Ongkos kirimnya berapa?

Jangan sampai kita membelanjakan harta dengan sia-sia karena harta kita juga akan dimintai pertanggungjawabannya, darimana dan dibelanjakan untuk apa?  Jangan karena tergiur merk atau diskon, kita jadi lupa diri. Dalam hadits Rosululloh bersabda

“Sesungguhnya Alloh tidak menyukai bagi kalian tiga perkara… (diantaranya) idho’atul maal (menyia-nyiakan harta).” (HR. Bukhori (no.1407) dan Muslim (no.593))

Arti “idho’atul maal”(menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Alloh atau membelanjakannya secara berlebihan. Kita juga perlu ingat bahwa orang boros adalah teman syaithon. Kita perlu merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah: “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan):kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya”.

Ya, ya, di zaman yan g serba materialistis, kita sering dinilai karena bawaan kita, bukan karena kepribadian dan akhlakul karimah. Jika kita mempunyai Blacberry, tas Louis Vuitton, baju merk A atau sepatu merk B seolah nilai kepercayaan diri jadi meningkat. Toh, tetap saja itu semu karena benda benda “bagus” tak akan menambah ketenangan jiwa. Kita akan jadi semakin haus saja bila mengikuti selera pasar dan itulah yang kerap dilakukan OS, mereka menyodorkan barang-barang bagus yang seolah-olah kita jadi butuh akannya. Maka dari itu, batasi pertemanan dengan OS-OS yang tidak perlu, belanja sesuai kemampuan dan kebutuhan. Kita juga perlu melihat kepada orang yang lebih susah agar lebih bijak dalam berbelanja dan jangan lupa jadi smart shopper, dengan membandingkan harga antara toko online dan yang offline.

“Dan (hamba-hamba Alloh yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah) antara yang demikian.”(QS.al_Furqon:67).

Sayudian. Ibu rumah tangga yang kini tinggal di Ambon, dikaruniai putra dan putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *