Kiat Memilih Rumah Kontrakan yang Baik dan Benar

Siapa sih yang enggak pengen punya rumah sendiri? Anda? Saya?

Tapi, kadang ada satu-dua alasan sehingga akhirnya kita … kontrak sana, kontrak sini. Pindah sana, pindah sini.

Kita anggap saja pindahan itu sebagai pengalaman yang seru. Setidaknya, kita bisa tahu perbedaan detail untuk berbagai bentuk bangunan, bahan bangunan, tipikal pemilik kontrakan, tipikal tetangga, dan lokasi tempat tinggal.

Berikut ini beberapa kiat memilih rumah kontrakan yang baik dan benar.

“Baik” artinya nyaman dari segi lingkungan, akhlak pemilik kontrakan, bangunan, dan lokasi.

“Benar” artinya sesuai isi kantong kita. Enggak lucu toh, kalau naksir kontrakan yang cakep, tapi akhirnya mesti ngutang sana-sini untuk bayar kontrakan. Atau malah rela menipu pemilik kontrakan dan menunggak berbulan-bulan. Wah … wah … ndak bener ini!

Bagi para kontraktor atau siapa saja yang berniat menjadi juragan rumah-kontrakan, yuk simak kiat-kiat berikut ini! Cekidot!

1. Lingkungannya baik. Sebisa mungkin cari lingkungan yang baik. Hindari tempat tinggal para pemabuk, penjudi, pelacur, atau semacamnya. Demi alasan keamanan dan pergaulan anak-anak. Apalagi bila Anda sering ditinggal suami di rumah. Lebih baik lagi bila tipikal tetangga Anda adalah yang perhatian, nengokin kalau lama tak ketemu, atau minimal memberitahu Anda bila Bu Penjual sayur sudah lewat. Dalam hadits disebutkan, “Al-jaru qabla ad-dar.” Lihat-lihat siapa calon tetangga Anda sebelum Anda memutuskan memilih rumah tersebut.

2. Pemilik kontrakannya menjaga amanah. Ada juga tipikal orang yang tidak amanah. Misalnya, ada bagian rumah yang rusak, tapi di awal perjanjian tidak disebutkan ke kita. Ada juga yang tipikal menyulitkan, misalnya main-ancam demi menaikkan uang kontrakan tiba-tiba.

3. Sesuaikan bentuk rumah dengan iklim sekitar. Untuk wilayah yang panas, sebaiknya pilih rumah yang ventilasinya bagus. Lebih bagus lagi kalau langit-langitnya tinggi. Bentuk rumah ini juga sangat penting untuk Anda yang menderita alergi atau penyakit pernapasan, seperti alergi debu atau asma.

4. Kalau Anda punya anak bayi, sebaiknya pilih rumah yang ber-plafon. Jika tanpa plafon, debu dari kuda-kuda rumah bisa langsung terjun bebas ke hidung bayi Anda. Ini berakibat buruk bagi kesehatannya.

5. Lokasi dan fasilitas di sekitarnya. Bagi sebagian orang, rumah yang dekat dari tempat kerja suami atau sekolah anak adalah kenikmatan tersendiri. Meski ada kendaraan pribadi, tapi kedekatan tempat tinggal dengan lokasi-lokasi yang sering dikunjungi bisa menghemat waktu Anda. Fasilitas di sekitar kontrakan yang menjadi “kandidat” juga patut diperhatikan, seperti masjid, pasar, toko kelontong, bahkan rumah sakit atau kantor polisi.

Sebenarnya masih banyak lagi kiat yang lain, tapi kita cukupkan sampai di sini saja.

Bagaimana pun, pengalaman pindah kontrakan memberi kita pengetahuan-pengetahuan baru tentang rumah yang ideal dan sesuai dengan keluarga kita. Mbok menowo besok Allah kasih rezeki berlimpah, lalu kita akhirnya bisa membangun/membeli rumah sendiri. Siap-siap-lah dari sekarang gitu. Setidaknya, sudah tersimpan cantik blue-print bangunannya di kepala.

Selamat berharap dan berkhayal! Toh berharap dan berkhayal itu gratis : )

~
4/8/2016,
Athirah Mustadjab

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *