Kami Pulang karena Kami Sayang

Mudik adalah ungkapan kerinduan seorang perantau. Kembali ke kampung halaman, berjumpa orang tua, sanak saudara, dan karib kerabat. Mudik untuk berhari raya bersama orang-orang terkasih di kampung halaman.

Hari raya memang istimewa. Pertama, Allah jadikan hari itu untuk para hamba-Nya sebagai hari untuk bersuka cita. Kedua, suasana di antara kaum muslimin terasa berbeda dibanding hari-hari biasanya, lebih akrab dan lebih hangat.

Bila sekadar ingin menyantap opor buatan emak, tentulah sia-sia rasa capek kita menggulung beratus kilometer. Bila sekadar ingin bernostalgia, tentulah percuma lembaran uang yang disisihkan.

Mudik adalah sebuah ungkapan sayang, “Kami pulang karena kami sayang.”

Kita pulang untuk berbakti kepada orang tua
Membantu Ayah memperbaiki pompa air yang rusak
Membantu Emak membeli obat salep untuk lukanya

Kita pulang untuk membahagiakan sanak saudara
Membantu Abang mengurusi anak-anaknya
Mengajari keponakan membaca Al-Quran
Mendengar cerita Kakek dan Nenek tentang kebunnya

Kita pulang untuk memperluas pergaulan
Berdiskusi dengan kawan tentang pekerjaan yang syar’i
Bercerita dengan tetangga tentang sekolah yang bagus
Ikut dalam gotong-royong bersama masyarakat

Mulai dari cara berpakaian kita,
Ucapan salam kita,
Senyum kita.

Mulai dari tutur kata kita,
Muamalah kita,
Akhlak kita.

Mulai dari cara kita mendidik anak,
Cara kita menghormati mertua,
Cara kita bergaul dengan ipar.

Mulai dari pengetahuan kita,
Wawasan duniawi kita,
Ilmu agama kita.

Mudik adalah sebuah ungkapan sayang, “Kami pulang karena kami sayang.”

Kita ingin dekatkan cahaya Islam kepada keluarga terkasih di kampung halaman. Karena internet saja tak cukup. Karena sapaan online belum memadai.

Mudik adalah ungkapan sayang kita, kepada keluarga tercinta. Di setiap oleh-oleh, di setiap muamalah, di setiap bincang-bincang … selalu ada rasa sayang yang terselip.

Semoga Surga Firdaus jadi tempat berkumpul kembali.

***

Athirah Mustadjab

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *