Jazakallahu Khayran, Suamiku

Gas habis. 60 menit lagi sudah maghrib, saatnya Abu Asiyah berbuka puasa, Masih ada dua menu yang belum selesai dibuat, tapi tidak ada cukup pulsa untuk menelepon Pak Cik penjual gas (biasanya saya singkat dengan “Pak Cik Gas”).

“Insyaalloh masih ada cukup waktu untuk ke kedai,” estimasi saya. Segera bersiap-siap. Setelah semua beres, saya dan Asiyah berjalan kaki ke kedai.

Qadarullah Pak Cik penjual gas sedang tidak ada. “Harus menunggu Abang pulang, trus pakai hape Abang telepon Pak Cik penjual gas.”

Malam harinya

Dalam perjalanan pulang dari Pasar Rabu. Pukul 20:00.

Telepon Pak Cik gas pakai hape Abu Asiyah, “Pak Cik, boleh pesan gas tak?”

Pak Cik Gas, “Dekat mane?”

Saya, “U14 nombor 20.”

Pak Cik Gas, “Oke, tapi saya sekarang ada dekat RPE.”

Saya, “Tak ape.”

Pak Cik Gas, “Insyaalloh saya hantar.”

45 menit menunggu ….

Sedang menyuapi Asiyah makan malam, tiba-tiba, “Assalamu ‘alaykum.”

Cepat-cepat saya pakai kerudung, tidak lupa menutup cadar, “Sekejap, Pak Cik.”

Membuka pintu. Betul, itu Pak Cik Gas sudah datang. “Maaf lambat,” kata Pak Cik Gas.

Saya memaklumi, “Oh, tak pe.”

Selesai gas dipasang, saya sempatkan bertanya sambil menunggu uang kembalian, “Tadi sebelum magrib saya pergi kedai tapi Pak Cik tak de.”

Pak Cik Gas menjelaskan, “Oh, saya balik omah. Salat magrib sekali rehat. Maaf.”

Saya lanjut bertanya, “Pak Cik ada dekat sini sehingga pukul berape?”

Pak Cik Gas, “Pukul 10:30 (malam). Maaf ya lambat datang. Lambat atau cepat, insyaalloh akan tetap hantar.”

“Tak pe, tak pe,” jawab saya.

Pak Cik Gas mengucapkan salam lalu berpamitan pada Asiyah.

Tanggung jawab para lelaki

Pukul 6:15 subuh sampai pukul 22:30 malam. Dengan meluangkan waktu untuk shalat dan sedikit istirahat tentunya. Saya bayangkan Pak Cik Gas menjawab telepon pelanggan, lalu dengan sigap menyalakan mesin kendaraan menuju rumah pemesan. Pak Cik mengangkat masuk tabung gas berpuluh kilogram ke dalam rumah pelanggannya, lalu beliau membawa pulang tabung gas yang sudah kosong.

Hati saya serasa berbisik, “Inilah tanggung jawab lelaki.”

Suami kita mungkin sama seperti Pak Cik Gas; bekerja dengan kekuatan fisik. Atau mungkin suami kita tak seperti Pak Cik Gas; bekerja dengan memeras otak dan pikiran.

Apa pun jenis pekerjaan halal yang mereka jalani, satu yang pasti, itulah bentuk tanggung jawab mereka sebagai seorang suami, seorang kepala keluarga.

Saya bayangkan betapa lelahnya otot-otot tubuh Pak Cik Gas karena seharian mondar-mandir mengantar gas dan mengangkat tabung gas yang sangat berat. Itu beliau lakukan seharian; mungkin beliau sudah terbiasa. Dan sebagaimana lelaki pada umumnya, itu bentuk ikhtiar beliau dalam memenuhi segala kebutuhan anak dan istrinya.

Betapa besar kebaikanmu

Kelelahan suami pantas kita bayar dengan sikap santun penuh pengertian. Tak banyak membantah ketika diperintah dalam perkara mubah, sunnah, maupun wajib. Cukup diam mendengarkan saat beliau menegur kesalahan kita. Tak perlu kita imbuhi dengan jawaban-jawaban konyol yang bisa membuatnya naik pitam.

Cukuplah kelelahan fisik dan pikiran mereka menyadarkan kita betapa besar cinta mereka kepada istri dan anaknya. Butiran nasi yang kita lahap, tegukan air segar yang mengalir di tenggorokan kita, cemilan manis yang memanjakan lidah kita, aliran listrik yang menghidupkan komputer di rumah kita, sinyal internet yang menjadi kawan sehari-hari kita. Andai kita sadari bahwa itu semua dibeli oleh suami kita dengan bulir keringatnya dan perasan otaknya, pastinya kita akan termangu, “Betapa besar kebaikanmu pada kami. Namun betapa sedikit rasa terima kasihku padamu.”

Penuhi haknya, maklumi kekurangannya. Para suami memiliki kekurangan, kita pun punya kekurangan. Diri kita memiliki kelebihan, para suami pun pasti punya kelebihan. Hindari banyak menuntut kebaikan dari mereka sedangkan kita lupa mendoakan kebaikan untuk mereka.

Ini adalah pengingat untuk saya. Yang banyak lalai, yang banyak lalai, yang banyak lalai.

قال صلى الله عليه و سلم : … وأريت النار فلم أر منظرا كاليوم قط أفظع ورأيت أكثر أهلها النساء

Beliau (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.

قالوا بم يا رسول الله ؟

Mereka (para shahabat) berkata, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?

قال : بكفرهن

Beliau bersabda, “Karena kekufuran mereka.”

قيل : يكفرن بالله ؟

Dikatakan oleh mereka, “Karena kekufuran mereka terhadap Allah?”

قال : يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى أحداهن الدهر كله ثم رأت منك شيئا قالت : ما رأيت منك خيرا قط

Beliau bersabda, “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikan mereka. Andai engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka dalam waktu yang panjang, kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak disukainya), niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu.‘” (Muttafaq ‘alaih)

Satu lagi:

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

Jika seorang wanita mendirikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), dia menjaga kemaluannya, dan dia menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana pun yang engkau mau.’” (Shahih; h.r. Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah)

Jazakallahu khayran, Suamiku …

Belum pernah mengucapkan kalimat indah itu di hadapannya?

Sampaikan kepadanya malam ini.

Malu untuk mengucapkannya langsung?

Saat tidur lelap telah mengistirahatkan rasa lelahnya seharian, bisikkanlah ke telinganya  “Jazakallahu khayran, Suamiku.”

Sertakan sebuah kecupan manis di keningnya.

Bandar Universiti, 18 November 2011,
Athirah

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

13 thoughts on “Jazakallahu Khayran, Suamiku

  1. bagus sekali tir, semoga kita bisa menjadi istri shalehah yang senantiasa bersyukur pd suami. kalau saya ingat banyak kekuranganku sbg istri, saya takut cintanya padaku akan berkurang, takut dia diambil sm orang lain, buru-buru sy memperbaiki diri. memang kita harus rajin-rajin menyiram pohon cinta itu, karena ia tidak kekal, bisa mati sewaktu-waktu klo ga dijaga.

  2. Subhanallah, sukaaaaa sekali, jazakallahu atas tulisannya, sangat mengingatkan untuk saya, kok ” ……bangeD” semoga Allah memberi kemudahan untuk selalu berbakti pada suami

  3. Subhanallah,…
    semoga dapat menggugah hatiku dan hati para istri yang lalai atas kebaikan suaminya

  4. subhanalloh,
    ya Allah,
    lindungilah suamiku,
    ampunilah dosa-dosax,
    berikanlah Rahmat dan Hidayah-MU,
    jadikanlah dia (suamiku) bermanfaat di manapun dia berada
    amiin….

  5. alhamdulillah klo kita sbg istri bisa sadar ttg keadaan suami…
    Tapi lihatlah ada beberapa istri merasa penghasilan suami blm/tdk cukup memenuhi kebutuhan klrg…dg alasan masa depan anak gmn?sekolah butuh biaya banyak…klo nanti suami meninggal duluan..siapa yang akan mencarikan nafkah…?dll alasan lainnya yg membutakan perintah Alloh spy istri menetap di rmh,menjaga&mendidik anak2,menyiapkan perbekalan suami…shg istri plg kerja sdh capek…anak2 dititipkan neneknya/pembantu…tdk sempat mengurusi anak2,suami&rumah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *