Hidup Damai Bersama Luka

Tidak ada satupun orang tua yang pernah membayangkan akan ditinggalkan terlebih dahulu oleh anak-anak mereka, entah saat mereka masih kecil maupun saat telah tumbuh dewasa. Begitu pun kami. Saat diijinkan untuk mengandung anak kedua pada tahun 2009, hanya puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT teriring ikhtiar maksimal untuk menjaga kehamilan ini. Saat putra kami, Rayi berusia 4 bulan, sebuah kejutan kami dapatkan. Ia baru terdeteksi memiliki kelainan jantung bawaan. Menurut dokter untuk kelainan ini, semakin dini dilakukan tindakan operasi, (diharapkan) semakin baik untuk kondisi anak. Setelah pemeriksaan beberapa kali hingga siap semuanya, pada usia 6 bulan Rayi menjalani tindakan operasi pertamanya.

sakit

Kejutan kedua kami dapatkan setelah operasi berlangsung. Jantungnya yang sempat berhenti beberapa saat di ruang ICU mengakibatkan Rayi mengalami cerebral palsy cukup berat. Menurut dokter, ini adalah salah satu risiko operasi (apapun), pikiran naïf kami hanya berkata, mungkin pada saat itu anak kami memang masih punya ‘jatah umur’, sehingga dia masih hidup – walaupun dengan ‘spesialisasi baru’ : anak CP dengan kelainan jantung.
Jangan ditanya masa-masa sulit, berat, sedih, marah dan apapun yang pasti dirasakan manusia, orang tua biasa saat mendapat musibah semacam ini. Berniat mengobati anak sakit, eh pulang dari rumah sakit ternyata membawa ‘peer’ baru yang sangat berat. Alhamdulillah, hanya hidayah Allah yang masih menjaga kami berdua khususnya agar tidak terjerumus menjadi orang tua yang ‘kufur nikmat’ saat mendapat ujian berat. Dukungan keluarga besar dan kerabat serta perkenalan kami dengan sesama orang tua yang ‘bernasib mirip-mirip’ juga turut menguatkan kami seraya kembali bangkit dan optimis menjalani hari-hari baru bersama Rayi.
April 2012, akibat spesialisasi yang ada pada Rayi sudah tak terhitung berapa kali anak kami keluar masuk opname di rumah sakit. Demam dan sesak nafas akibat lendir yang tidak bisa dikeluarkan dengan baik menjadi bagian dari hari-hari kami semua. Prosedur dan peralatan pertolongan pertama di rumah pun bisa dibilang cukup lengkap. Jumat pagi itu kami membawa Rayi ke UGD rumah sakit ‘langganan’ yang beberapa perawatnya pun sudah hafal dengan Rayi. Antibiotik yang diberikan DSA kemarin sepertinya tidak mempan, kami sudah siap untuk menemani Rayi diopname lagi. Hanya 1 jam di UGD, semua berlangsung dengan cepat, seperti mimpi. Jam 8 tiba di UGD, jam 9 kami kedua orang tuanya mendapat kejutan baru : hanya bisa mengucap Inna lillaahi wa inna ilaihi raa’jiuun…Rayi kembali dijemput Sang Pemilik di usianya yang belum genap 4 tahun.
Semua masih terekam jelas di memori, hingga hari ini. Kami memang tidak akan pernah bisa melupakan kenangan bersama Rayi, sejak masih di kandungan hingga hari ia berpulang. Satu-satunya cara adalah terus mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kami tidak larut dalam kesedihan. Hidup harus berjalan terus, apalagi kami masih dititipi sang kakak yang berusia 7 tahun. Alhamdulillah sang kakak sudah bisa paham ‘konsep kematian’ yang pasti terjadi pada siapapun juga dan kami juga berharap dan berdoa semoga diusianya yang masih belia ini, peristiwa menjadi kakak seorang adik istimewa hingga adiknya meninggal menjadikan dia anak yang istimewa juga, memberi dia hikmah arti kehidupan yang luar biasa saat ini hingga ia dewasa kelak, Aamiin.

 

Berbagai aktifitas sehari-hari juga membantu ‘mengalihkan’ kesedihan kami ditinggal Rayi. Meskipun demikian kami tidak pernah melarang diri kami untuk menangis saat kerinduan itu tidak bisa dibendung, untuk kemudian memohon pada Allah supaya Dia berkenan mengganti kerinduan kami pada Rayi dengan kebaikan apapun. Selain itu rupanya lagi-lagi Allah memberi kami kejutan baru, kehadiran calon adik Tama dan Rayi yang saat ini memasuki usia kandungan 4 bulan juga membutuhkan sambutan kehangatan dan aura positif dari kami semua.

 

Kami memang harus hidup dengan luka, namun semoga luka ini adalah salah satu bentuk kasih sayang dan cara Allah mendidik kami agar menjadi manusia yang lebih baik saat kembali pada-Nya.

 

 

Mamanya Tamarayi. Alias Apritania Naviantari, ibu 2 putera, tinggal di Jakarta

3 thoughts on “Hidup Damai Bersama Luka

  1. Assalamualaikum Wr, Wb
    Mohon diizinkan oleh Bu Prita, saya menyampaikan sedikit kata kata….

    Inna lilaahi wa inna ilahi raajiun……..dari lubuk hati yang dalam, ikut berduka cita atas meninggalnya putra tersayang ibu yang telah dipanggil oleh-Nya. Teriring doa semoga almarhum diterima segala kebaikannya di sisi Tuhan.

    Sabar, Ikhlas dan tetap bersyukur yang selalu ibu lakukan semoga menjadi amal sholeh dan hal itu pasti Tuhan membalas dengan kebahagiaan Dunia dan akhirat.

    Tuhan tidak akan memberikan cobaan, melainkan hanya kepada orang yang mampu untuk menghadapinya…..nasehat itu juga yang pernah ibu sampaikan kepada saya, dan saya percaya ibu dapat dan mampu menghadapi segala macam cobaan, dapat menghadapi segala luka dengan senyum kedamaian dan kebahagiaan.

    Terima Kasih. Bu Prita
    Salam Hormat saya kepada Ibu Prita.
    “erwan suherwana’

  2. Sepertinya kisah ini sama dengan apa yang kami alami, bedanya anak kami yang telah tiada adalah anak pertama kami.
    kami menunggu selama 5 tahun untuk dapat momongan, tapi Allah SWT memanggilnya ketika berumur 8 bulan.
    kini kami berusaha bangkit dari kesedihan

  3. Assalamualaikum…kami jg prnh mengalami musibah atas meninggalnya putri kami yg kedua,begitu terpukulnya kami ,tp Allah sudah mengobatinya dgn kehamilanku kembali .,lalu Allah menguji kami kembali dengan mengambil putra pertama kami..Ya Allah ….seakan dunia runtuh…saat ini aku gk tau diriku..nth aku sabar,ntah aku stress,ntah aku shock…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *