Hemat Waktu dengan Grinder

Hemat waktu dengan grinder

Grinder/Penghalus Bumbu Kering

Grinder yaitu alat penggiling elektrik bentuknya semacam tabung kecil yang memiliki dua mata pisau. Fungsinya menggiling bumbu-bumbu dan bahan-bahan makanan tertentu menjadi lebih halus sesuai yang kita inginkan. Alat ini biasanya dijual sepaket dengan blender.

Pastinya saya sedang tidak beriklan merek grinder tertentu di sini. Apalagi mencoba memengaruhi pembaca yang tak punya grinder untuk memaksa suami-suaminya harus membeli alat yang satu ini. Tidak pula berkampanye untuk meninggalkan cobekan kemudian beralih ke penggiling elektrik. Sebab sampai kini cobekan tentu tetap punya tempat tersendiri di hati pembaca, termasuk saya pribadi.

Saya sekedar ingin berbagi pengalaman. Terutama dengan mereka yang baru menikah dan sedang membangun pengalaman berumah tangga. Atau kepada mereka yang super sibuk, mungkin karena banyaknya anak, sehingga tak sempat meluangkan waktu untuk memasak. Juga kepada kaum hawa yang masih menganggap bahwa memasak adalah kegiatan yang ribet dan menguras banyak waktu dan tenaga.

Aih, masih lekat betul di kepala ini bagaimana keadaan saya di awal menikah. Mau bikin masakan yang sedikit istimewa saja harus menghabiskan banyak waktu di dapur. Sudah saya orangnya lamban, ditambah pula tak terbiasa masak. Jadilah saya berjibaku sesiangan dengan bumbu-bumbu dapur yang kadang tidak saya kenali namanya. Maklum, dari SMP sampai kuliah sudah hidup nge-kost. Alhamdulillah Allah masih menganugerahi kesempatan untuk tetap belajar hingga kini.

Ketika pindah ke Riyadh kondisi memaksa saya untuk lebih kreatif dan cekatan khususnya dalam urusan dapur. Hidup di sini tentu berbeda kondisinya dengan Indonesia. Terutama untuk masakan. Apa-apa harus dibuat sendiri. Selain alasan pengiritan juga rasa masakan di luar jarang ada yang cocok dengan dengan lidah kami yang Indonesia. Mau nunggu tukang mie ayam lewat depan rumah, bertahun-tahun pun mungkin tak akan ada.

Mohon maaf jadi agak berpanjang lebar ceritanya. Kembali ke topik semula, salah satu pengalaman yang ingin saya bagi kali ini adalah pengalaman saya “berteman” dengan grinder. Ya, alat ini terpilih menjadi sahabat terbaik saya di dapur. Sebenarnya di Indonesia juga sudah punya alat ini tapi tidak terpakai. Mungkin kalah bersaing dengan cobek. Bisa jadi juga karena saya belum punya pengalaman waktu itu.

Di Riyadh cobekan khas Indonesia termasuk barang langka. Adanya cobekan khas Pakistan atau India yang saya pikir lebih tepat untuk menumbuk obat-obatnya. Bentuk seperti lesung kecil dilengkapi penumbuknya yang terbuat dari besi, kuningan, atau stainless.

Awalnya dari hasrat ingin makan sambal yang tak tak terbendung sedangkan saya tak punya cobekan, akhirnya si grinder ini terfungsikan juga untuk membuat sambal yang saya inginkan saat itu yakni sambal hijau a la Padang.

Lama-lama grinder tidak saja saya manfaatkan untuk membuat sambal. Bumbu-bumbu dasar untuk masakan lain, semisal soto, ikan bumbu Bali, atau saus salad sayur pun saya haluskan dengan alat ini. Tentunya semua ini saya ketahui berselancar sanasini di dunia internet.

Apa saja yang bisa dilakukan dengan grinder?

1. Menghaluskan bumbu kering

Merica, jinten, ketumbar, serta kemiri merupakan bumbu kering yang saya haluskan dengan grinder. Masing-masing bumbu tersebut disangrai terlebih dahulu agar hasilnya lebih enak. Setiap bumbu yang sudah halus kemudian saya tempatkan di wadahnya masing-masing yang kedap udara. Untuk wadahnya, saya pakai botol kaca bekas kemasan ‘ashir (jus) yang harganya sekitar dua real. Bentuk botolnya kecil dan unik hingga sayang untuk dibuang. Di Indonesia bisa juga menggunakan botol-botol bekas selai. Setiap wadah dilabeli nama bumbu-bumbunya dalam bahasa Arab dan Inggris. Kreatif bukan?

2. Menghaluskan bumbu basah

Adapun bumbu basah, tidak semua saya haluskan. Hanya kunyit, jahe, cabai, dan bawang putih saja yang saya haluskan dengan grinder. Bagi penyuka bawang putih, mungkin bawang putihnya dirajang halus sudah cukup. Berikutnya bumbu-bumbu basah yang sudah halus ini saya simpan di lemari pendingin setelah dimasukkan ke wadahnya masing-masing. Untuk tomat, bawang merah, dan bawang bombay bagi saya lebih enak tanpa dahaluskan, cukup dirajang atau diiris halus.

3. Menggantikan parutan kelapa

Meskipun sempat beberapa kali menggunakan santan jadi, namun saya lebih memilih santan buatan sendiri. Di Riyadh santan instan lebih umum dikenal dalam bentuk bubuk (coconut milk powder). Bentuk dan warnanya mirip sekali dengan susu bubuk. Adapula santan encer instan semacam Kara di Indonesia, tapi hanya satu atau dua merek saja yang pernah saya lihat. Itupun dalam kemasan kaleng.

Hampir dua bulan ini saya akhirnya bisa membuat santan sendiri karena hypermarket tempat saya belanja kebutuhan dapur ternyata menjual kelapa utuh. Kelapanya baru dipecah di rumah dan isinya digiling sendiri pakai grinder atau blender.

Jika hanya untuk santan, kelapanya saya blender dengan air panas. Seperti membuat jus dengan blender gitulah pokoknya. Cara ini lebih cepat bagi saya. Tapi jika kelapanya untuk isi atau taburan kue, seperti Dadar Gulung dan Klepon, kelapanya digiling pakai grinder. Jadi sama sekali tidak butuh pemarut.

Dulu saya sempat coba bikin empat bumbu dasar hasil referensi internet. Empat bumbu dasar tersebut yakni bumbu putih, bumbu kuning, bumbu merah, dan bumbu oranye. Setiap bumbu bisa digunakan untuk dua atau lebih jenis masakan tergantung jenis bumbunya. Misalnya bumbu kuning, dapat dipakai sebagai bumbu soto, nasi kuning, juga pesmol ikan, dll. Namun pada kasus saya, setiap jenis masakan ternyata memerlukan takaran bumbu yang berbeda. Jadi tidak lantas diseragamkan begitu saja dengan satu bumbu dasar yang sudah jadi.

Akhirnya saya memutuskan membuat bumbu halus untuk masing-masing jenis bumbu. Tak apalah lemari pendingin saya penuh dengan wadah bumbu. Kelebihannya dari cara seperti ini kita bisa memutuskan sendiri takaran bumbu yang kita inginkan untuk menghasilkan masakan yang sesuai selera. Selebihnya, kita juga bisa menggunakan beberapa bumbu tadi tadi untuk minuman. Contohnya ketika butuh minuman penghangat di musim dingin dan musim hujan, tinggal ambil jahe yang sudah dihaluskan tadi lalu dimasak dengan air dan gula merah, terakhir ditambah susu kental manis (ini resep mertua, pen).

Contah lainnya, ketika maag saya terasa mau kambuh, biasanya saya tinggal mencampur kunyit yang sudah dihaluskan dengan air panas setengah takaran sampai airnya berwarna kuning, kemudian airnya disaring dicampur dengan air biasa sampai hangat, ditambahkan madu, lalu diminum. Alhamdulillah dengan cara ini maag saya hampir tak pernah kambuh. Praktis bukan? Para ibu yang punya bayi pun bisa mengolah makanan halus dengan grinder jika buah hatinya sudah mulai belajar makan. Benar-benar praktis.

Sebagai penutup, perlu saya tekankan bahwa inti tulisan ini sebenarnya bukan pada grinder yang saya ceritakan. Tapi pengalaman saya membuktikan bahwa dengan alat ini alhamdulillah waktu saya tidak habis di dapur saja. Dengan bumbu-bumbu praktis yang dihasilkan alat tersebut saya bisa memasak lebih cepat. Sehingga saya punya banyak waktu untuk menulis, membaca, belajar, menghapal qur’an, atau aktivitas-aktivitas lain yang juga bermanfaat.

Semoga kita termasuk orang yang bisa menjaga waktunya dalam ketaatan.

Riyadh, 25 Dzulhijjah 1432 H.
Penulis: Verawaty Lihawa



5 comments on “Hemat Waktu dengan Grinder

  1. umm_abdirrahman December 19, 2011 8:39 am

    kalo boleh tahu, untuk grinder ini apa bumbu / kelapa nya harus dipotong kecil2 dulu supaya bisa halus rata? saya sering coba grind tapi hasilnya kurang halus, kira2 salah pakainya di mana yaa?

  2. ummi'e 2F December 25, 2011 1:04 am

    siip…boleh dicoba deh kayanya. Tapi klo disni masih kalah saing ama warung sayur ga perlu repot2 masak didapur tinggal makan :p . warung sayurnya pun murah meriah lo bisa beli 3rb aja per jenis sayur hehehe… maaf yah klo not available in riyadh :(

  3. Verawaty Lihawa December 26, 2011 8:33 pm

    @Umm Abdirrahman: Untuk kelapa, kalo mau dihalusin pakai grinder memang harus dipotong kecil2 dulu biar grinder-nya tdk terlalu bekerja keras. Hehe. Tapi kalo untuk ngambil santannya mending pake blender aja. Santannya saya bekukan di freezer. Kalo butuh baru dipanasin. Tetap enak juga kok.

    @Umi: Kirimin dunk sayurnya ke sini. Eh, tiba2 jadi kepikiran mo bisnis sayur jadi buat mahasiswa Indonesia yang tinggal di sakan. Secara mereka tiap hari makan di math’am yang notabene masakan Saudi gitu. Jazakillah khairan Umi ^^

  4. Fatihdaya Kh. January 3, 2012 3:01 pm

    Sebetulnya banyak juga kok mba yang jual cobek. Cobek ana kedua-duanya beli di Riyadh dan di dua toko yang berbeda. Cobeknya ala Indo, namun bahan dasarnya bukan seperti batu “candi” asli seperti di Indo. Bahannya lebih mirip semen, dengan harga kisaran 20 real sebuah.

  5. Ummu Rumman Ella January 8, 2012 4:22 pm

    Dek Fa2: Iya dek, pernah dipinjemin tetangga juga, tapi nggak jadi makenya. Agak2 gmnaa gitu ngliat bahan semennya itu. Jadinya nggak tertarik buat beli. Insya Allah pas mertua ke sini baru bisa nitip dibawakan cobek asli.
    Oia, dek Fafa disalamin Mba Dela. Katanya, kok nggak pernah hub. beliau lg?
    Kamis kemarin kami piknik rame2 ke hadiqah. Sama Ita, Dek Eid, Dek Maya (se’imarah dgn Ita dan dek Eid)& dek Rini-nya Ust Abduh. Juga temen2 lain di sini.
    Coba dek Fa bisa bareng2 kami juga ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>