Gaya Belajar Anak

Berhubung habis baca 10 tips Homeschooler dari milis Home-Ed dimana salah satu point anjurannya kepada keluarga homeschooler adalah “Learn All You Can About Learning Styles.” Saya berusaha menambah ilmu saya mengenai learning style anak-anak kami.

Ada satu buku bagus yang saya dapat mengambil manfaatnya mengenai gaya belajar. Salah satunya adalah buku “Temukan dan lesatkan Kelebihanmu Anakku!” karya Dawna Markova, Ph.D. Sebenarnya ada juga banyak buku sejenis mengenai gaya belajar, tetapi entah mengapa ketika membaca buku ini saya merasa lebih siap menerima informasi didalamnya, jadi rasanya lebih pas.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama dengan judul temukan titik karunia anak anda. Bagian kedua, ikuti ritme anda dan anak anda. Bagian ketiga, ulurkan tangan jadilah pahlawan. Hmm… jadi pahlawan bagi keluarga, sepertinya saya akan tertarik pada bagian itu .

Dawna (penulis buku ini) menuliskan bahwa setiap anak memiliki potensi belajar KVA (Kinestetik-Visual-Audio), hanya saja dengan porsi yang berbeda-beda. Walau demikian tipe belajar setiap anak tidak selalu bertahan seperti itu. Memperkaya gaya belajar setiap saat itu sangat dianjurkan. Misalnya saja ketika kecil seorang anak lebih condong kepada gaya belajar kinestetik, setelah agak besar mungkin saja lebih condong dengan gaya audio, dan ketika dewasa bisa berubah menjadi visual.

Saya akan salinkan sedikit dari halaman 187- 189 mengenai dengan apa yang dimaksud KVA (Kinestetik-Visual-Audio) . Berfikir kinestetik artinya berfungsi melalui tangan, tubuh dan gerakan. Pengalaman-pengalaman dikumpulkan dengan perasaan-perasaan, rasa, tindakakan-tindakan, sentuhan, tekstur, temperatur/suhu, tekanan, kesadaran ruang, kepekaan pada energi, dan bebauan. Kreativitas kinestetik melibatkan penggunaan tangan dan tubuh untuk membuat patung, (yang ini dicoret oleh editor karena bertentangan dengan syariat :D) berkebun, menari, memahat, memasak, membangun dan sebagainya. Mode kinestetik reseptif: membaui, mencicipi, merasakan, menginderai, mengalami, lingkungan fisik. Sedang mode kinestetik aktif, berolah raga, menjalani, membangun, melakukan, bergerak dan membuat.

Berfikir visual berarti menggunakan mata dan “Pengetahuan” Anda sebagai jendela pikiran Anda. Pengalaman diproses melalui penglihatan dan pencitraan visual. Ketika otak Anda berfikir dengan cara ini, ia mengamati dan memandang warna-warna, gambar-gambar, garis-garis, peta-peta, daftar-daftar, pandangan-pandangan, perspektif-perspektif, visualisasi-visualisasi, lukisan-lukisan, kata-kata tertulis, diagram-diagram, film-film, bagan-bagan, televisi, dan foto-foto. Kreativitas visual melibatkan penempatan gagasan-gagasan ke atas kertas, kanvas, komputer, atau film. Mode visual resepsif: menonton, membaca, melihat, diperlihatkan. Mode visual aktif: menulis, menyunting, melukis, memotret.

Sedangkan yang dimaksud berfikir audio berarti menggunakan telinga Anda sebagai telepon bagi otak Anda. Pengalaman diproses melalui kata-kata dan bebunyian. Ketika otak Anda berfikir dengan cara ini, Ia mendengar dan berpartisipasi dalam percakapan-percakapan, nada-nada suara, lelucon-lelucon, bebunyian, musik, makna-makna dan pesan-pesan, puisi-puisi, kisah-kisah, perdebatan-perdebatan, pidato-pidato, kuliah-kuliah dan argumen-argumen. Kreativitas audio termasuk mengekspresikan kesadaran dengan bunyi dan/atau kata-kata. Mode audio reseptif: menyimak, mendengarkan. Mode audio aktif: Bercerita, berceramah, menyanyi, menceritakan lelucon, berbicara.

Setalah membaca gaya belajar unik yang dimiliki setiap anak berbeda-beda, saya juga membaca bagian Dawna mengkritik sekolah-sekolah konvensional yang memakai pola terstandarisasi untuk individu-individu unik yang disebut manusia. Memang kalau diperhatikan, dengan metode sekolah yang selama ini saya tahu. Tipe belajar yang sangat cocok dengan sekolah adalah seorang anak dengan tipe belajar audio. Sedang pada kenyataannya tidak setiap anak dikaruniai Allah gaya belajar seperti itu. Sehingga saya sering melihat anak kinestetik didalam kelas bisa terlihat yang paling aktif (atau banyak cap negatif yang diberikan) atau yang paling bosan dengan pelajaran yang disampaikan.

Dawna juga mencontohkan banyak tokoh-tokoh ternama yang memiliki kesulitan mengikuti ritme sekolah. Diantaranya adalah Thomas A. Edison yang kabur dari sekolah gara-gara gurunya memukulnya dengan sebatang rotan karena ia tidak memperhatikan dan menggerak-gerakkan kursinya. “saya selalu berada ditempat terbawah di dalam kelas,’ ujar Ia dikemudian hari. Albert Einstein, ilmuwan fisika, tidak bicara sampai Ia berusia tujuh tahun. Ditengah-tengah masa pendidikannya, ia berkata, “Saya lebih suka menjalani semua jenis hukuman daripada belajar bercakap-cakap dan menghafalkan.” Winston churchill dipandang sebagai orang tolol. Woodrow wilson, presiden Amerika Serikat, tidak membaca hingga ia berusia sebelas tahun. Marcel Proust, penulis perancis, tidak dapat menulis sebuah karangan disekolah. Agatha Christie, penulis kisah misteri dari Inggris, menolak untuk belajar menulis. Dan banyak lagi tokoh-tokoh yang ditulis oleh penulis ini. Saya pribadi tidak menampik banyak tokoh juga yang berkembang melalui sekolah. Tetapi kenyataan banyak manusia -pribadi-pribadi yang merasa tidak cocok dengan sekolah konvensional karena tidak sesuai dengan gaya belajarnya, itu patut untuk digaris bawahi.

Setelah merunutkan tokoh-tokoh tersebut Dawna pada halaman 107 menyatakan “…kalau saja mereka (tokoh-tokoh yang disebutkannya diatas) masih bersekolah hari ini, sebagian besar pasti akan mendapat label memiliki semacam kekurangan atau gangguan. Di Amerika serikat banyak diantaranya bakal menjalani pengobatan.”

Kembali ke keluarga Uliansyah ^^. Abbas dan Yasmin saya amati memiliki sifat dan gaya belajar yang berbeda. Saya takjub melihat bagaimana Allah Azza wa Jalla membuat manusia dari rahim yang sama bisa memiliki beragam perbedaan baik dalam fisik ataupun watak. Perbedaan ini menegaskan individu satu dengan yang lainnya adalah uniq. Bahkan sidik jari setiap manusia bisa berbeda-beda dari begitu banyaknya manusia dimuka bumi ini.

Abbas kebetulan lebih condong ke gaya belajar kinestetik. Seseorang yang memiliki gaya belajar kinestetik dituliskan dalam buku ini cara termudah baginya untuk belajar adalah dengan mengalami, melihat, mendengar. Begitupula cara berekspresi adalah dengan melakukan, menunjukkan, mengatakan. Biasanya gaya belajar kinestetik butuh waktu yang lama untuk menemukan kata-kata (ada jeda-jeda diantaranya), perlu ketenangan untuk menemukan kata-kata, bicara lebih banyak dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dibandingkan pernyataan-pernyataan.

Belajar mudah baginya bila melalui pendekatan praktik dan berdasarkan pengalaman, sangat sulit bagi pembelajar kinestetik untuk belajar dengan metode klasik atau ceramah.

Pikirannya tidak fokus dan bisa menjadi pembaca yang baik kalau diajari melalui pengalaman-pengalaman dan bukan suara-suara, punya kesulitan membaca dengan suara keras, punya kesulitan berkonsentrasi dalam kelas-kelas ceramah atau berpartisipasi dalam diskusi-diskusi besar. Memiliki kesulitan untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dalam kata-kata.

Belajar bagi orang dengan tipe kinestetis adalah dengan melakukan, pengalaman-pengalaman, bergerak bukan menghafalkan dan ceramah-ceramah.

Saya ingat saat saya kesulitan untuk mengetahui bagaimana cara yang terbaik untuk mengajar anak saya Abbas yang dominan kinestetik untuk membaca. Padahal cara yang selama ini saya tahu hanya cara yang saya peroleh disekolah-sekolah dulu, yaitu model belajar klasik dengan menekankan pada metode ceramah. Setelah membaca buku ini saya merasa tercerahkan bahwa dalam setiap suatu kendala (dalam hal ini mengajarkan membaca) pasti ada banyak cara untuk mengatasinya. Apakah ingin mengikuti cara orang kebanyakan walaupun itu tidak cocok untuk seoarang anak. Atau menempuh cara sendiri secara berbeda, walau panjang dan melelahkan terlihat lebih menjanjikan…

Seperti contoh yang disuguhkan, kisah mengenai seorang anak dimana para guru disekolahnya sudah angkat tangan untuk bisa mengajarkannya membaca, sungguh saya terinspirasi. Dawna (penulis buku ini) saat itu menjadi konsultan dalam sekolah tersebut kemudian mencari tahu bidang ketertarikkan anak ini. Usut punya usut ternyata anak ini merupakan seorang juara catur didaerahnya. Dawna berfikir tidak mungkin seorang juara catur adalah seorang yang bodoh. Dawna Mencari sebuah buku yang dapat memancing rasa ingin tahu anak. Singkat cerita anak itu demi untuk membaca buku yang ditunjukkan Dawna berusaha keras untuk belajar membaca. Saat itu Dawna menggunakan fonik ketika anak tsb sedang bergerak, menuliskan kata-kata dipunggungnya untuk dia temukan dalam buku dan kemudian menuliskannya. Saya sempat berfikir, pasti sangat melelahkan melakukan itu semua. Dawna mengakui hal itu melelahkannya, tetapi dia merasa dalam proses belajar tsb anak itu mengajarinya sebanyak Dawne mengajarkannya. Dan saya sepakat dengannya, begitu pula dalam proses belajar kami, Abbas dan Yasmin mengajarkan saya banyak hal mungkin lebih banyak dari apa yang saya ajarkan kepadanya. Kerja keras bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya, itu yang patut saya tiru.

Yasmin (3 tahun 2 bulan), menurut saya memiliki tipe belajar audio. Dibuku ini diceritakan seseorang yang memiliki gaya belajar audio cara termudah baginya untuk belajar adalah dengan mendengarkan, mengalami dan melihat. Cara termudah baginya untuk berekspresi adalah dengan mengatakan , melakukan dan memperlihatkan. Sang komunikator (seseorang dengan tipe belajar audio) ini kerap dianggap “cerdas” karena mampu mengutarakan pikiran-pikirannya secara verbal. Juga dengan mudah dan menyesuaikan diri dengan tempo percakapan apapun. Cenderung berbicara dalam bentuk pernyataan-pernyataan dari pada bentuk pertanyaan.

Ini adalah kebalikan dari anak pertama saya Abbas, misalnya ketika saya melewati terowongan yang diatasnya ada jalur kereta, yang dikatakan Abbas adalah, “Ummi diatas ada jalur kereta khan yha?” walaupun Ia sudah tahu diatas itu ada jalur keretanya. Sedangkan Yasmin akan mengatakan, “Lihat! ada kereta.”

Perbedaannya lagi misalnya ketika Abbas diusia tiga tahun dulu, lebih senang membangun dan membuat sesuatu. Puzzle, brick, balok adalah sahabatnya. Bila sudah asyik dengan mainannya atau benda-benda buatannya, Abbas tidak suka diganggu. Bahkan mungkin saat itu dia keberatan bila mendengar saya berbicara . Karena kesenangannya itu membuat kemampuan bicaranya kurang terasah. Sedangkan Yasmin sepanjang pengamatan saya tidak terlalu senang dengan brick, balok atau benda-benda yang Abbas dulu sangat gemari. Yasmin sangat senang berbicara, dia suka bercerita. Sekarang Yasmin suka berpura-pura seolah-olah sedang membaca sesuatu bila memegang buku, hal yang tidak pernah Abbas lakukan sekalipun hingga usianya sekarang ini.

Abbas juga adalah merupakan seorang pencinta alam yang luar biasa, khususnya minatnya kepada binatang-binatang. Ada satu contoh yang membuat saya geli ketika mengingatnya. Ketika itu kami bertiga sedang di toko buku mengelilingi sebuah buku yang bagus sekali. Berisi gambar-gambar kegiatan yang ada di sirkus. Abbas berkomentar mengenai jerapah, gajah dan semua binatang yang dia lihat. Sedang Yasmin saat itu mengatakan, “Lihat ummi, ada gambar es krim!” begitu Ia mengomentari gambar es krim yang sangat kecil tenggelam dengan gambar binatang disekelilingnya.

Anak-anak saya adalah tantangan yang saya miliki. Saya selalu mendo’akannya barakallahu fiik, semoga Allah memberkahimu. Saya sering mengelusnya kemudian membisikkan semoga Allah memperbaiki ummi dan kamu. Saya merasa dengan home-Ed ini ada banyak yang saya pelajari dari dua orang buah hati saya, saya banyak belajar dari anak-anak saya. Belajar untuk berjuang dan belajar untuk bersabar. Terima kasih, jazakumullah khoir (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan) guru-guru kecilku. Ummi mencintaimu karena Allah.

Tulisan asli ada di: http://tarbiyatulabna.wordpress.com/2010/01/16/gaya-belajar/

***

Catatan editor: Usia Abbas dan Yasmin sudah bertambah.

 

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

5 comments on “Gaya Belajar Anak

  1. ummu nabiilah siwi January 26, 2012 12:12 pm

    Baru baca sekilas, tapi ‘membuat patungnya’ bisa diganti sama membuat ‘patung’ (replika) mobil, rumah, sandal, dll yang bukan makhluk hdp kok. Pake clay, plastisin, atau kertas origami. Bikin semacam paper model gitu kaya pas di SD dulu…

  2. Cizkah January 29, 2012 10:08 pm

    betul juga wi…gak kepikiran pas ngedit artikel ini,

  3. Liha Ahliana January 30, 2012 3:55 pm

    ini ukhti Ary Susanti Ummu Abbas yg di SHS kah….salam kenal Ukh…
    baru tau kalo einstein dkk sempat dibilang lamban dlm bbrp hal, dan mereka “tdk tercambuk” unt mengejar ketertinggalannya sebelum mereka mau
    sy dulu jg khawatir waktu anak keduA sy perkembangan bahasany tdk secepat kakaknya. tapi belakangan si adek gemar skali bercerita, bernyanyi, berdo’a, diulang2 terus spanjang hari. sy sampe takjub kok bisa ya padahal akhir2 ini sy tidak begitu memberinya stimulus. simpul menyimpul rupanya dia telah menemukan “masanya”, saat yg paling tepat buat dia melakukan/belajar apa yg dia inginkan.

  4. BALIKOMPUTER February 28, 2012 9:20 pm

    Makasih tips nya ya, belajar dengan alam juga cara yg paling bagus di terapkan ke anak2. misalnya cara bercocok tanam. Kotor2an sih… tp ya belajar juga

  5. JSS INDO TRIPLER July 21, 2012 11:08 am

    Wah bagus informasinya, menamabah pengetahuan, saya baru tahu bahwa tipe pembelajar kinestetik dan audio dibagi antar reseptif dan aktif tapi kenapa yang visual tidak ada? Terimah kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>