Doa untuk Orang Tuaku

Di antara simpanan terbaik orang tua semasa hidup maupun sepeninggalnya adalah anak shalih yang senantiasa mendoakannya.

Bahkan sedari kecil, mayoritas orang tua akan mengajari anaknya dengan sebuah doa,

رب اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

Wahai tuhanku, ampuni aku dan kedua orang tuaku. Sayangi mereka sebagaimana mereka merawatku ketika aku kecil.

Orang tua, meski mereka bukan ustadz atau ustadzah, akan semangat sekali menyiapkan anaknya yang berangkat mengaji ke masjid. Mereka membelikan buku iqra’, baju koko bagi anak lelaki, jilbab bagi anak perempuan.

Tujuan mereka satu, anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah.

Orang tua, meski mereka bukan ustadz atau ustadzah, berusaha tegar untuk anak-anaknya. Menyuapkan setiap hal yang halal ke mulut mereka.

Mungkin sewaktu kita masih kecil, lantunan doa itu mengalir begitu saja dari lisan kita. Terbiasa, tapi belum paham benar maknanya.

Dan kini, setelah kita sangat mahir membaca dan menulis, apakah kita masih sama … berdoa dengan lisan tapi tak memahaminya dengan hati?

Ketika melantunkan doa itu, mungkin terlintaslah memori yang tak kunjung terputus. Tentang letih dan pedihnya perjuangan orang tua membesarkan kita. Tentang jasa-jasa mereka yang entah bilakah mampu kita bayar.

Apakah di benak kita, terlintas harapan agar Allah membangunkan rumah megah untuk mereka berdua di dunia? Atau besar harapan agar Allah mengasihi mereka dengan harta yang tak henti mengalir? Atau tak pernah mereka rasakan lagi perihnya kelaparan di hari tua?

Namun pernahkah kita menangis memelas kepada Allah, agar Allah limpahi mereka dengan sebuah kasih yang tak Dia berikan kepada sembarang orang? Sebuah kasih yang Dia berikan hanya kepada orang-orang yang istimewa.

Kasih Allah itu ada dua. Kasihnya yang umum diberikan kepada semua hamba-Nya, entah itu kafir atau muslim. Kasih itu berupa sinar mentari, udara untuk dihirup, air yang sejuk, makanan yang lezat, pakaian yang layak, dan segala nikmat duniawi yang menyenangkan raga.

Dan ada kasih Allah yang khusus; hanya Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Itulah kasih berupa hidayah taufik.

Dia bimbing hamba-Nya di atas jalan keselamatan dan kebahagiaan. Rumahnya mungkin hanya ngontrak, tapi perutnya selalu terisi dengan makanan yang penuh berkah. Kendaraannya mungkin hanya sepeda motor biasa, tapi hatinya selalu dipenuhi rasa puas dan tenteram.

Jiwanya dipenuhi semangat untuk menjaga iman. Jari-jemarinya menjadi saksi zikir-zikir yang ia ucapkan selepas shalat. Matanya menjadi saksi atas deretan ayat-ayat Al-Quran yang ia baca.

Umur yang dipenuhi dalam ketaatan kepada-Nya. Itulah wujud kasih terbesar Allah kepada hamba-Nya.

**

Kasih sayang terhadap seluruh makhluk-Nya

Ar-rahmah al-‘ammah: Kasih sayang yang Allah berikan secara umum kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali.

Sifat ini dikaitkan dengan sifat “al-‘ilmu” dalam firman Allah berikut ini,

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً

Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu ….” (Q.s. Ghafir/Al-Mu’min: 7)

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Dengan demikian, rahmat (kasih sayang)-Nya juga dirasakan oleh segala sesuatu tersebut sebab Allah menggandengkan antara ilmu-Nya dan rahmat-Nya. Kasih sayang jenis ini dirasakan oleh badan selama di dunia, seperti: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya.

Kasih sayang Allah terkhusus bagi orang-orang beriman

Ar-rahmah al-khashshah: Kasih sayang Allah yang khusus diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Kasih sayang jenis ini bersifat imaniah diniah duniawiah ukhrawiah, berupa taufik untuk mengerjakan ketaatan, kemudahan dalam beramal kebajikan, keteguhan di atas iman, petunjuk menuju jalan yang lurus, serta kemuliaan dengan dimasukkan ke dalam surga dan dibebaskan dari siksa neraka.

Di akhirat kelak

Rahmat Allah bagi orang-orang kafir hanya terbatas di dunia. Dengan kata lain, tak ada rahmat sejati bagi mereka. Lihatlah keadaan mereka nantinya di akhirat,

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ

Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.
(Q.s. Al-Mu’minun: 107)

Tak ada rahmat bagi mereka pada hari itu. Yang ada hanya keadilan! Allah berfirman kepada mereka,

قَالَ اخْسَؤُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

Allah berfirman, ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.’” (Q.s. Al-Mu’minun: 108)

Demikianlah kondisi orang kafir di akhirat. Lalu, bagaimana keadaan orang-orang beriman?

Di akhirat kelak, Allah akan mengkhususkan rahmat, keutamaan, dan kebaikan dari-Nya bagi orang-orang mukmin. Allah juga akan memuliakan mereka dengan ampunan dan penghapusan dosa. Saking luasnya segenap karunia itu, sampai-sampai lisan tak mampu menceritakannya dan pikiran tak mampu membayangkannya.

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

http://muslimah.or.id/aqidah/kasih-sayang-allah-kepada-hamba-nya.html

**

Maka, selepas ini, jika kita serta-merta mengingat ayah dan ibu, doakan mereka dengan doa,

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Wahai tuhanku, ampuni aku dan kedua orang tuaku. Sayangi mereka sebagaimana mereka merawatku ketika aku kecil.

Agar Allah berkenan menyayangi keduanya dengan semua bentuk kasih-Nya. Keduanya cukup dalam urusan dunia, dan selalu Allah jaga dalam urusan akhirat.

Hidayah, itulah impian terbesar kita untuk ayah dan ibu di rumah. Semoga kita dan mereka menghadapi kematian dengan jiwa yang muthmainnah.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Wahai jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam kumpulan hamba-hamba-Ku,
Masuklah ke dalam surga-Ku.

(QS. Al-Fajr: 27-30)

 

***

Jogja, 18 Rajab 1436 H (07/05/2015 M),
Athirah

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *