Diary

Andai ada orang
Yang sengaja menulis kekesalannya
Di selembar kertas
Lalu dia tempel kertas itu
Di gerbang rumahnya
Sekadar agar orang yang berlalu-lalang
Tahu bagaimana buncahan kesedihannya
Atau agar
Siapa pun tahu, betapa membara kejengkelannya

Apakah itu baik?

Dia sekadar berharap
Emosinya terlampiaskan
Atau orang lain tahu bahwa dia
Sedang marah
Sedang sedih
Sedang kecewa

Apakah akan datang solusi?

Dengan menempel kertas itu
Di depan gerbangnya
Dan membiarkan siapa pun
Yang berlalu lalang
Membacanya
Akankah ada solusi?
Akankah masalah yang ia hadapi
bisa selesai?

Ataukah mungkin
Justru dia mendatangkan masalah
Yang lebih besar bagi dirinya

Masalah apa itu?

Dia jadi pintu dosa bagi orang lain
Dia membuat orang lain
Tahu aib si A, si B, si C
Yang menjadi sumber kekesalannya

Atau orang akan menaruh beragam prasangka
Pada sebuah masalah
Yang dituturkan oleh satu belah pihak

Andai dia ingin emosinya tersalurkan

Betapa baik bila ia berwudhu
Lalu shalat
Dan menangis sepuasnya kepada Rabb-nya
Dia habiskan air matanya
Dalam sujud
Habis sudah kesedihannya
Dalam aduannya kepada Rabb yang Maha Mendengar

Andai dia ingin mendapat solusi

Dia tak akan menempel kertas
di gerbang rumahnya

Tapi dia datangi satu atau dua orang
Yang dia percayai kebijaksanaannya
Untuk bermusyawarah
Untuk meminta pendapat

Dan cukup dia ceritakan
Kepada orang-orang itu saja

**

Duhai wanita
Duhai muslimah
Duhai salihah

Ada orang yang berkata, “Dahulu kita menuliskan catatan hati kita di buku diary. Kita tutup dan kita gembok buku itu. Kita letakkan di tempat rahasia yang sangat aman. Supaya tak ada orang yang membacanya. Namun hari ini, dinding facebook adalah diary kita. Timeline twitter adalah diary kita. Laman blog adalah diary kita.”

Tentunya, ada hal-hal bermanfaat yang bisa kita bagi dengan berbagai kemudahan media. Namun tentunya, ada hal-hal yang tidak perlu kita buka ke ruang publik.

Bila kita sedang bermasalah dengan orang, sebaiknya jangan umumkan itu ke ruang publik. Meski dengan inisial atau bahkan tanpa sebut nama. Betapa banyak kita saksikan, para komentator yang mudah sekali melontarkan sumpah serapah atau tudingan miring kepada sebuah masalah yang tak ia pahami duduk perkaranya. Kepada sebuah masalah, yang baru ia ketahui dari satu belah pihak.

Mari kita bangun kebiasaan mengelola emosi dengan baik.

Dalam kesedihan yang begitu mendalam, Nabi Ya’qub tetap berusaha menahan letusan amarahnya,

وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).

قَالُواْ تَالله تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضاً أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ

Mereka berkata, “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.”

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ

Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

(QS. Yusuf: 84-86)

Dalam amarah yang akan segera meledak.
Dalam kesedihan yang akan segera meluap.
Dalam kekesalan yang akan segera membara.

Sejenak jauhi keramaian manusia.
Menyendirilah dan tumpahkan semuanya dalam sebuah aduan.
Angkat tanganmu, memelaslah kepada-Nya.
Kepada Rabb-mu yang Maha Mendengar lagi Mahakuasa.

Wahai Rabb-ku, Engkau Maha Mengetahui betapa kecewa hatiku.

Wahai Rabb-ku, Engkau Maha Mengetahui betapa dalam kesedihanku.
Air mataku tak tertahankan lagi.
Dan hanya di hadapanmu kesedihan ini kutumpahkan.
Tak ada hamba-Mu yang tahu.
Hanya kepada-Mu kuadukan segala luka di hatiku.

Innamaa asykuu batstsii wa huznii ilayk. Hanya kepada-Mu kuadukan kesusahan dan kesedihanku.

Wahai Rabb-ku, mohon sayangi aku.
Wahai Rabb-ku, mohon hapus kesedihanku.
Wahai Rabb-ku, jadikan hatiku hanya bergantung kepada-Mu.

Wahai Rabb-ku, mohon ganti kepedihan hatiku dengan kebahagiaan, mohon redakan amarahku, mohon hilangkan kekecewaan di hatiku.
Jika bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi aku bisa mengadu?
Jika bukan di hadapan-Mu, di hadapan siapa lagi aku akan menangis?

Wahai Rabb-ku, kutahan lisanku agar tak mengadu kepada manusia.
Wahai Rabb-ku, kutahan air mataku, agar kutampakkan semua perasaan ini hanya kepada-Mu.

Wahai Rabb-ku, mohon sayangi aku, mohon lapangkan dadaku, mohon jaga aku.

***

9 Ramadhan 1436 H (26/6/2015),
Athirah

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *