Daar Adh-dhikr School: Sekolahnya Ibu Rumah Tangga

Angin musim dingin membelai lembut wajahku pagi itu. Sweater tebal serta hijab yang menutupi tubuhku tak mampu menghalangi dingin yang merasuk sampai ke pori-pori kulit. Kuayunkan langkahku perlahan memasuki gerbang sekolahku, Daar Adh-Dhikr School, tempat aku mereguk nikmatnya ilmu selama di Riyadh.  Masih terlalu pagi, suasana pun masih sepi. Di pelataran sekolah hanya dua atau tiga siswa yang terlihat dengan aktivitasnya masing-masing.  Selama musim dingin ini aku tak pernah mau berlama-lama menikmati suhu 10 sampai 7 derajat di pelataran sekolah. Setelah melempar salam kepada beberapa siswa yang kutemui, segera aku masuk ke bangunan utama sekolah. Mengucapkan salam menjadi kebiasaan setiap orang di sekolah ini pun di luar lingkungan sekolah.

Aroma parfum segar menyapa hidungku ketika tiba di pintu bangunan utama sekolah (parfum ini hanya dikenakan di gedung sekolah -ed)*. Aku menduga ini pasti parfum mu’allimah (guru) di sini. Guru-guru di sini memang senang berminyak wangi sebelum mengajar. Jadi bukan hal yang mengherankan jika aroma wangi menyeruak ke sudut-sudut ruangan di waktu pagi.  Dugaanku ternyata tak meleset. Selang kemudian aku bertemu Mu’allimah Su’ad. Perempuan Palestina ini adalah pengajarku di kelas Qur’an, Mustawa Saadis (Level Enam). Beliau biasanya datang lebih pagi dibandingkan guru-guru lain. Setelah bertukar senyum dan salam dengannya, aku pun berlalu ke lantai dua menuju ruang  Mustawa Tsaani (Level Dua), kelas bahasa Arabku.

Nursery Service dan Siswi “Gado-gado”

Di Daar Adh-Dhikr, kelas Bahasa Arab dibedakan dengan kelas al Qur’an. Setiap calon thalibah (siswi) akan dites kemampuan baca al Qur’an dan bahasa Arabnya ketika mendaftar. Selanjutnya mereka akan ditempatkan di level yang sesuai dengan kemampuannya. Khusus Bahasa Arab, secara prosedur, calon siswa tetap harus ditempatkan terlebih dahulu di Mustawa Awwal (Level Satu). Jika dia ingin langsung melanjutkan ke Mustawa Berikutnya, dia harus ikut ujian tertulis terlebih dahulu serta lulus dengan nilai minimal delapan puluh.    Seluruh siswi di Daar Adh-Dhikr berkebangsaan non Arab. Mayoritas dari India dan Pakistan, sisanya dari berbagai negara semisal Indonesia, Malaysia, Pilipina, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Nigeria, Somalia, Turki dan Rusia.

Sekolah kaum hawa yang berdiri 20 tahun silam ini memang dikhususkan untuk negara-negara non berbahasa Arab. Jika anda berkunjung ke sekolah ini, di dekat gerbang sekolah ada papan pengenal bertuliskan, Daar Adh-Dhikr School: Department of Da’wah and Islamic Education For Non-Arabic Speaking Women. Perlu diketahui, Daar Adh-Dhikr didirikan oleh Ummu Abdil Aziz, seorang pengajar dari Universitas Islam Imam Bin Su’ud, Riyadh Saudi Arabia.

Sebagian besar siswa di sekolah ini berlatar belakang Ibu Rumah Tangga (IRT). Jadi tidak ada alasan bagi IRT di Riyadh untuk tidak bersekolah. Anda mungkin berpikir, bagaimana dengan anak-anak para IRT tersebut? Untuk anak-anak disediakan nursery service (layanan perawatan) lengkap dengan beberapa pengasuhnya. Nursery service hanya diperuntukkan bagi anak 0 bulan sampai 2 tahun. Biaya untuk layanan ini minimal 300 Riyal per semester.  Adapun anak-anak yang berusia 3 sampai 6 tahun disekolahkan di Taman Kanak-Kanak (TK) Daar Adh-Dhikr yang sekompleks dengan bangunan utama. Di TK ini kelasnya dibagi dari Mustawa Tamhidi sampai Mustawa Tsalits. Setiap kelas diajari oleh satu mu’allimah dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Jika nursery service-nya penuh, sang ibu juga terancam tidak bisa belajar di Daar Adh-Dhikr. Kecuali dia mau menitipkan anaknya di penitipan yang ada di luar sekolah. Hal semacam ini dilakukan salah seorang temanku. Alasannya sih bukan karena nursery service-nya penuh. Dia memang ingin memasukkan anaknya di tempat penitipan yang lebih terkurikulum. Kegiatan belajar para siswa diadakan tiga kali sepekan pada hari Ahad, Selasa dan Rabu, mulai jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Khusus hari Rabu, kegiatan belajar hanya sampai jam 11 siang. Sedangkan thalibaat (siswi-siswi) yang mengambil kelas sore kegiatan belajarnya dimulai jam 4 sore sampai jam 8 malam pada hari Sabtu, Senin dan Rabu.

Selain pelajaran Bahasa Arab sebagai subyek utama, thalibaat juga mendapat pelajaran aqidah ,fikih, Tafsir, Hadits, dan hapalan Qur’an. Semua pelajaran disampaikan dengan bahasa Arab. Jika punya persoalan dalam pelajaran, siswa hanya diperkenankan bertanya dalam Bahasa Arab. Khusus pelajaran Fikih, beberapa mu’allimaat yang berkemampuan Bahasa Inggris mengizinkan thalibaat bertanya dalam bahasa Inggris, untuk menghindari kesalahpahaman tentang masalah yang ditanyakan. Namun jawabannya tetap disampaikan dalam bahasa Arab.  Sesuai penuturan Mudirah (Direktris) Daar, Mudirah Layla, penguasaan bahasa Arab adalah hal yang paling ditekankan di sekolah ini. “Dengan menguasai Bahasa Arab seseorang bisa memahami kandungan al Qur’an, hadits serta pengetahuan Islam. Sebab kita tahu bahwa referensi-referensi asli agama Islam ditulis dalam Bahasa Arab”.

Ngomong-ngomong, jangan berpikir bahwa aku mewawancarai Kepala Sekolah dengan bahasa Arab ya. Meski sudah menjabati Direktris selama 18 tahun, tak pernah sekalipun aku mendapati beliau menyampaikan informasi di kelas kecuali dengan Bahasa Inggris. Bingung? Intinya beliau tak pernah berbahasa Arab. Hebatnya, putri kembar beliau, Mu’allimah Fadwa dan Hajar, menjadi pengajar Tafsir dan Fikih di sekolah ini khususnya di kelasku Mustawa Tsani.

Guru-guru yang Memesona dan Bersahabat

Daar Adh-Dhikr memiliki lebih dari 20 guru, 1 pegawai Front Office, 1 pegawai perpustakaan dan beberapa pegawai administrasi. Mereka berasal dari negara-negara sekitar Saudi Arabia, seperti Yaman, Palestina, Yordania, Mesir dan India. Hampir semua pengajar Bahasa Arab berkebangsaan Yaman.  Ketika akan mendaftar di Daar Adh-Dhikr, bayanganku tentang guru-gurunya tidak jauh berbeda dengan pengajar bahasa Arabku di Indonesia. Berjilbab rapi dengan penampilan sederhana dan bersahaja. Setelah masuk sekolah, bayanganku ternyata jauh dari kenyataan. Guru-guru di sekolah ini memang tidak berjilbab.  Namun dengan rok panjang—sepertinya ini baju bawahan yang wajib untuk semua guru di sini—dan atasan yang stylish serta make-up natural yang enak dipandang, penampilan mereka tetap terlihat sopan, rapi, dan sangat berwibawa. Para thalibaat sepertinya kalah jauh dari mereka dalam hal gaya dan penampilan.

Secara pribadi aku senang sekali melihat penampilan guru-guru tersebut. Teman-teman di kelasku pun ternyata sama senangnya seperti aku. Kami sangat bersemangat belajar dengan keadaan seperti itu. Apalagi di musim dingin seperti saat ini, guru-guruku bagaikan bunga-bunga cantik nan wangi berwarna-warni dengan kostum musim dingin mereka. Subhanallah.

Namun setelah jam pulang sekolah, ketika di luar gerbang sekolah, sosok-sosok berwarna-warni tersebut langsung lenyap di balik hijab mereka masing-masing. Melihat mereka aku jadi ingat gambaran wanita-wanita Anshar dalam hadits Ummu Salamah setelah perintah hijab turun. “Seakan-akan diatas kepala-kepala mereka itu terdapat gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan.” Ya, aku bahkan susah sekali mengenali mereka sebab guru dan siswa keluar dengan warna pakaian yang sama, hitam.      Aturan berpakaian bagi mu’allimaat dan thalibaat di Daar Adh-Dhikr dibuat sangat tegas sesuai dengan syari’at Islam.

Di lobi sekolah dipasang peraturan beserta gambar-gambar pakaian yang dilarang secara syari’at untuk dipakai baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Misalnya dilarang memakai celana pantalon di dalam sekolah sebagai pakaian luar, baju ketat yang menampakkkan seluruh lekuk tubuh, rok mini, gamis hitam yang perhiasannya sangat mencolok jika dipakai keluar, serta sepatu hak tinggi. Pun dilarang keras mengambil gambar dalam bentuk apapun di sekolah.     Soal perekrutan guru di Daar Adh-Dhikr, Mudirah Layla menjelaskan, “Tidak semua guru bisa diterima di Daar.  Selain dilihat dari latar belakang pendidikan dan tingkat pemahaman agama Islam mereka, faktor paling utama bisa diterima sebagai guru di sini adalah sikap kerja sama yang baik mereka dengan orang-orang asing. Mereka dikarantina selama dua bulan dalam hal pergaulannya dengan para siswa. Sebab tidak semua orang yang berpendidikan bisa berbaur akrab dengan orang-orang dari berbagai bangsa.” Hmm, pantas saja semua guru dan pegawai di sini sikapnya sangat ramah, bersahabat dan murah senyum.

Thabakhul Khair yang Mengenyangkan dan Menyenangkan

Setiap sekolah identik dengan kegiatan ekstra kurikulernya. Tak terkecuali Daar Adh-Dhikr. Sekolah ini punya beberapa kegiatan, seperti musabaqah (lomba) hapalan Qur’an, “Only Arabic” yaitu kegiatan berkomunikasi dalam bahasa Arab selama seminggu di area sekolah dengan siapapun dan kapanpun, serta kegiatan “Thabakhul Khair” yang digelar setiap Selasa dan Rabu.  Kegiatan yang disebutkan terakhir adalah bazar makanan yang diadakan para siswa di samping bazar pakaian dan pernak pernik lainnya yang bertujuan menggalang dana untuk sekolah. Selama empat bulan masa belajar, setiap kelas mendapat sekali giliran menjual berbagai makanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Pembelinya pun dari kalangan sekolah sendiri. Semua hasil penjualan disumbangkan untuk sekolah.

Ketika giliran kelasku aku tentu saja bawa yang praktis dan tidak merepotkan. Ya, donat dan muffin yang aku beli di toko terdekat rumahku.  Hahay, praktis sekali.  Satu lagi, di Thabakhul Khair inilah kesempatan terbaikku untuk bergastronomi yaitu kegiatan mengenal budaya sebuah bangsa dari cita rasa kulinernya (sumber, wikipedia.org). Makanan yang dijual ketika Thabakhul Khair biasanya makanan khas dari berbagai negara, seperti nasi Biryani India, Salad Mesir yang sangat khas rasa limaunya, Halawiyaat (manisan) Arab yang manisnya sangat menggigit, juga Sambousa yaitu gorengan dengan filling daging bercita rasa jinten dibalut dengan sejenis kulit lumpia, pizza gurih dengan topping irisan buah zaitun, serta pastel Indonesia yang aku sendiri tak pernah mencicipinya karena sudah diborong duluan. Untung aja sudah sering makan pastel di Indonesia.      Tentu saja yang selalu teringat adalah American chocolate cookies buatan Basma’—teman bule sekelas di Mustawa Tsani—yang menjadi incaran warga sekelas dan paling cepat laku saking enaknya. Catatan resepnya sampai beredar di kelas lho. Maklum, warga sekelas  kan ibu-ibu semua. Hehe…

Semua makanan di atas dijual dengan harga yang sangat terjangkau berkisar 1 sampai 6 Riyal. Cukup mengenyangkan dan menyenangkan karena dengan membeli makanan tersebut kita bisa sekaligus berinfak untuk sekolah.   “Thabakhul Khair adalah salah satu cara sekolah untuk menggalang dana. Secara finansial, Daar tidak mendapat bantuan dari Pemerintah Kerajaan. Dana sekolah bersumber dari siswa, partner sekolah, dan para donatur umum lainnya,” tutur Mudirah Layla menambahkan.  Aku pikir, cukupkah dana-dana itu menghidupi sekolah? Sebab biaya hidup di Riyadh termasuk cukup tinggi. Sekolah pun punya dua atau tiga bis—ini termasuk fasiltas sekolah yang berbayar untuk para siswa yang ingin menggunakannya—yang butuh biaya perawatan yang pasti tidak sedikit. Sementara menurut penuturan beberapa thalibaat, biaya sekolah kami yang 250 Riyal per semester itu terhitung sangat murah bagi ukuran sekolah non formal di Riyadh.

Akhirnya aku sadar aku bukan di Indonesia. Aku sekarang di Saudi Arabia, negara kaya yang selama musim dingin saja tidak tanggung-tanggung mau mendatangkan bunga berwarna-warni yang mungkin berharga mahal, berikut membiayai tukang-tukang tamannya hanya untuk menyulap Kota Riyadh menjadi kota cantik di musim dingin. Meski kemudian semua bunga itu mati mengering menjelang musim panas.      Benar, aku sekarang hidup di negara makmur yang pemerintahnya saja tidak kesulitan menggaji para penuntut ilmu seperti suamiku dan rekan-rekannya yang belajar di kota ini atau di kota-kota lain di daratan Saudi Arabia. “Ah, para donatur sekolahku pasti orang-orang kaya,” simpulku kemudian.

Empat Bulan Hapal 5-7 Juz Al Qur’an

Sekolahku tidak saja untuk belajar Bahasa Arab dan Islam. Program khusus tahfidz Qur’an selama dua tahun juga dibuka di sini. Biaya untuk program ini sekitar 400 Riyal per semester. Hampir dua kali lipat biaya program Bahasa Arab. Beberapa teman Indonesia sudah bergabung di program tersebut. Selama satu semester target hapalan Qur’an mereka minimal lima juz. Teman-temanku itu bahkan sudah sampai tujuh juz. Setiap Ahad dan Selasa mereka harus menyetor empat halaman Qur’an.      Siswi yang ikut program ini sama sekali tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Arab. Aktivitas mereka hanya menghapal, menghapal, dan menghapal. Di setiap akhir semester, sekolah selalu mengadakan acara minyimak hasil hapalan thalibaat Program Tahfidz, yang di gelar di aula utama dan dihadiri seluruh warga sekolah. Acaranya juga diisi dengan penyampaian kesan-kesan para siswa selama belajar di Daar Adh-Dhikr.

Selamat Tinggal Mustawa Tsani

Selasa, 2 Safar 1433 Hijriah, adalah hari terakhir bagi  thalibaat Mustawa Tsani di sekolah karena semua ujian akhir pelajaran sudah selesai kami ikuti. Haflah (pesta) kecil pun digelar di kelas. Kami membawa makanan dari rumah sebagaimana yang telah direncanakan. Ini adalah haflah perpisahan untuk sebagian teman-temanku yang tidak akan melanjutkan belajarnya di Daar. Mu’allimaat pun tak lupa kami undang.  Beberapa siswa mewakili seluruh kelas memberikan bunga mawar kepada guru-guru kami sebagai hadiah. Setiap lisan mu’allimaat berdoa untuk semua thalibaat, “Jazakunnallahu khair yaa akhawaat,” “Allah yubaarik fikunn jami’a,” “Nas-alullaha an yajma’anaa jami’an fil jannatil a’laa.” Masya Allah, rasa bahagia terpancar jelas di setiap wajah saat itu.         Seselesainya haflah masih dengan rasa bahagia dan wajah berseri aku menuju meja kerja Jamilah, pegawai Front Office sekolah yang berkebangsaan Pilipina. “Assalamu’alaikum Jamilah. I want to register for the next level of Arabic class…”
Ummul Hamam, Riyadh, 13 Safar 1433 H.*

Semoga menginspirasi pemerhati pendidikan Ibu Rumah Tangga

***

*

أيما امرأة استعطرت ثمّ خرجت، فمرت على قوم ليجدوا ريحها فهي زانية، وكل عين زانية

“Wanita mana saja yang berwangi-wangian lalu keluar, dan melewati satu kaum sehingga mereka mencium baunya, maka wanita itu penzina,dan setiap mata berbuat zina.”

(HR.Nasaai, kitab Az-zinah bab: maa yukrahu linnisaa min at-thiib, Abu Dawud kitab:At-Tarajjul, bab :ma jaa fil mar’ah tatathyyabu lilkhuruj, Tirmidzi kitab: Al-Adab an rasulillah Shallallahu alaihi wasallam bab: ma jaa fii karahiyati khuruujil mar’ah muta’aththirah, Al-Hakim (2/396), Ahmad (4/400), dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu. Dinilai hasan Al-Albani dalam jilbab al-mar’atil muslimah (137))

 

Artikel UmmiUmmi.com

Verawaty Lihawa. Ibu rumah tangga dan penuntut ilmu di Daar Adh-Dhikr School Riyadh. Asal Gorontalo. Saat ini tinggal di Riyadh medampingi suami (Muflih Safitra) studi.

40 thoughts on “Daar Adh-dhikr School: Sekolahnya Ibu Rumah Tangga

    1. ma’had ali gak seperti itu ya?
      tapi ngrasain ada ma’had ali di jogja..bisa kebayang kalo pun di sana blum tentu bisa…hehe..
      bekalnya mesti banyak (biaya) dllnya ya…apalagi kalo anaknya dah 2 : D

  1. Jazakillah khairan mba ella atas sharing ilmunya. Sampai nangis karena terharu… Sekolahnya benar2 taman surga^^ Semoga kelak ada juga di Indonesia. Amin

  2. Mgkin kurikulumnya agak mirip Ma’had Alli, Mba Ciz. Bedanya di daar ada t4 penitipan bayi&play groupnya. Jdi pas istirahat ibunya bsa ngumpul sama anaknya.
    Tetangga sbelah rumah ana malah bawa 3 anak sekalian. Orang Indonesia juga. Berangkatnya bahkan selalu lebih pagi. Masya Allah! Kebayang ya gmn serunya pagi2. Ibu anak pergi selolah ^^

  3. Iya, pengen ada review juga dari ma’had ali. Dulu leil pernah cerita ada 8 ma’had di indo yang fokus dengan pendidikan bahasa arab, yayasan yang membawahi 8 ma’had itu sama. Leil juga lagi belajar di salah satu ma’had tersebut. Di dekat sini ada ma’had utsman di jaktim tapi khusus ikhwan mba. Tapi ga tahu yang khusus akhwat dan ada tahfidznya di mana.

  4. Ana lagi mikir2, kayaknya di Jogja insya Allah bisa banget buat ma’had kayak Daar gitu. Yang mau belajar kayaknya banyak, yang ngajar juga insyaAllah ada.
    Sebenarnya Daar Adh-Dhikr yg buat ibu2 itu cuma cabang dari sekolah TK Daar Adh-Dhikr. Jadi yg resmi itu ya TK Dar Adh-Dhikr.
    Sapa tau TK Zanjabila Jogja mau bikin Daar Zanjabila untuk Ummahaat dari murid-muridnya. Atau YPIA mungkin mau bikin? *nglirik-mba-cizkah* ^^

    1. he…kok ypia trus ngelirik sama ana hehe..ana kan gak ada hubungannya sama ypia…ngliriknya sama uus tuw..
      apalagi suami uus juga yang megang badar-online hehe.
      masalahnya tapi di biaya juga kayanya el…kalo di sana donasinya mungkin banyak..kalo di sini kita gak bisa mengharapkan donasi apalagi yang sifatnya kontinyu dan butuh dana banyak. Harus orang yang bener2 memang niat sekali.
      btw..ust subhannya kan juga lagi di malaysia… : D

  5. Madrasahnya hampir mirip dgn madrasah yg sy ikuti skrg ini di Madinah. Namanya Markaz Al Baramij An Nisaaiyyah, milik Yayasan Rabitha Al ‘Alam Al Islam. Lokasinya dekat Jabal Uhud. Tapi, di Markaz Nisaa ini ga dpungut biaya speserpun, dengan fasilitas 4 bus utk antar jemput, muqarrar maddah disediakan (malah Alhamdulillah kdg dpt pbagian kitab, buku2, kaset2 atau alat tulis), tempat pnitipan anak usia 3-5thn, belajarnya mulai hari sabtu-rabu (tiap rabu ada nasyath) mulai dr jam 07.45-12.00. Ga dibolehin mmakai bhs lain slain bhs arab jika b’ada di kelas atw b’interaksi dgn mu’allimah, utk thalibah yg krg mampu, dpt mdaftarkn diri ke pihak madrasah utk mdptkn bantuan (macam2 jenisnya), maddahnya : bhs arab, tajwid, qur’an+tafsir, fiqh, hadits, aqidah, dll (akn btambah ssuai mustawa’). 80% mu’allimahnya asli saudi dan…hal lain yg mbuat sy kagum di markaz nisaa ini..subhanallah…thalibatnya didominasi (kurleb 50%) oleh muslimah eropa spt : rusia, kosovo, aljazair, prancis, belanda, amerika, australia, bosnia, bgitu besar ghirah mrk dlm mnuntut ilmu dan cita2 mrk kelak jika sls mnuntut ilmu di markaz nisaa ini (jd iri sama mrk). Mrk bkn muslimah single, namun istri jg ummuhat muda yg cukup modis (usia mrk skitar 20-25thn) dr 1 anak (plg sdkt) hgg 3 anak (plg byk yg sy tahu). Selainnya dr nigeria, ethiopia, liberia, cina, maldives, singapura (1org), malaysia (2org), indonesia (4org).

    Alhamdulillah dberi kesempatan utk mnimba ilmu dsini..

      1. Assalamu’alaikum….
        Afwan, baru bisa hadir lagi ~senyum~

        Sebenarnya pengen sekali nulis ttg markaz nisaa tsb di blog sy, tapi sampai skrg blm sempat sbb sdg hamil (Alhamdulillah skrg dah 34 pekan, mhn doanya yah).
        Tapi, insyaAllah klo sdh mmungkinkan akan mencoba menulis apa saja ttg markaz nisaa.

        1. masyaAllah…sebentar lagi ya insyaAllah…wah…mendingan nulisnya sekaraaannngg….*pengalaman punya anak…apalagi anak pertama*.
          Nanti udah tambah susah nyari waktu luang…apalagi bulan2 awal masih adaptasi menjadi seorang ibu huihuhu….

  6. Subhanalloh…alhamdulillah ketemu website ini…bacanya jadi ngiri…pengen banget. @mutianova : ma’had tahfidz di jakarta ada di Senen, Jakpus, namanya Ummahatul Mu’minin, kebetulan ana sebelum nikah mondok disana. Dulu peraturannya yg sdh nikah boleh mondok, biasanya para ummahat yg baru nikah dan ditinggal zaujahnya kuliah ke Madinah, atau yg zaujahnya kuliah di LIPIA. Tapi sekarang yg mondok banyak anak2nya, sekitar usia lulus SD-SMU dan yg sudah nikah ga boleh lagi……Aduh ngiri (ghibthoh) bangeet deh, jadi ibu RT dan tetap menghafal. Ana rasakan kalau sendirian begini jadi nggak semangat….Jadi menghayal (dan berdo’a) semoga ada sekolah yg seperti ini di Indonesia. Oh ya, mbak mutianova tinggal dekat Usman bin Affan? Di mananya? Ana juga deket situ.

  7. masyaAllah..baca tulisannya mb ella,mbuat tak sabar mnunggu “jemputan”…

    1. Hayuk Dek gabung di sini. Seneng banget bisa ketemu banyak orang Indo di Daar. Kemarin thalibah Indo-nya nambah lagi (adik ipar Ust. Dzulqarnain yang dari Makassar). Insya Allah jadi kesini kan dek? Salam buat Nabilah.

  8. Setuju sama Mba Cizkah ^^ Bagus banget memang kalo dibikin tulisan. Biar yg membutuhkan infonya jadi tahu.

    @Ummu Hasanain: Salam kenal y Umm. Ana sempat diceritain juga sama temen Indo di Daar yg pernah mondok di madrasahnya anti. Katanya ada program i’dad mu’allimah ya? Ayo umm dibikin tulisannya. Dari ceritanya temen sih kayaknya menarik bgt. Suka bikin muhadharah yang diisi syaikh juga kan y?

    @Dek Lani: Semoga dimudahkan ke sini y Dek. Kasihan suaminya. Eh, dua-duanya dink. Hehe…

    1. Na’am, markaz nisaa tsb mmg tujuannya utk mpersiapkan thalibaat-nya mjadi mu’allimah ketika mereka pulang ke negaranya masing2.

      Benar juga setiap pekan banyak muhadharah dari masyaikh yg tsebar di berbagai tempat di Madinah, klo di markaznya sendiri sy blm pernah dapatkan (mgkn sebelumnya pernah), tapi selama sy belajar di markaz tsb yg ada hanya pamflet2 yg mengabarkan bahwa hari ini di tempat ini/salah satu masjid di Madinah akan diadakan daurah oleh syaikh ini dgn tema ini, jadi kita bebas milih mau ikut majelis ilmu yang mana.

      InsyaAllah smg dlm waktu dekat dapat menulis ttg markaz nisaa, agar lebih banyak yg tau, sbb dari sekian byk org indo di Madinah, hanya 2 org yg belajar di markaz tsb. Wallahua’lam. Boleh jadi yg lain belajar di tempat lain, tapi sepengetahuan sy tempat belajar yg seperti markaz nisaa ini tdk ada di Madinah kecuali ma’had2 tahfidz, kelebihan dari markaz nisaa sendiri selain belajar Al quran, kita juga belajar bhs arab, fiqh, hadits, tafsir, aqidah, sirah, dll. Kegiatan2 ekskulnya juga sangat bermanfaat (setiap hari rabu di jam terakhir ada kegiatan ekskul, yg terakhir ini ada program dari para mua’llimah utk mustawa 4 keatas utk mberikan dars kepada kami (thalibaat yg lain) dgn menggunakan bahasa mereka, misalnya yg baru2 ini mgunakan bahasa albania, selanjutnya inggris, prancis, dll), setiap pekannya juga thalibaat diberikan kesempatan mengisi rubrik2 yg ada di mading markaz nisaa atau ada kuis yg diberikan utk setiap mustawa, yg tulisannya bagus atau dapat mjawab kuis dgn benar, maka di akhir pekan berikutnya akan diberikan hadiah. Intinya thalibaat tdk hanya diberikan pelajaran dan tugas2, tapi thalibaat diberikan waktu dan tempat utk mengembangkan diri agar kelak insyaAllah jika telah menyelesaikan pdidikan di markaz tsb, benar2 dpt bmanfaat buat perkembangan dakwah di negara masing2.
      Subhanallah…sy pribadi sangat2 bsyukur bisa mnjadi salah satu bagian dari markaz nisaa ini.

  9. @ Ummu Hasaanaiin : waahh, itu t4 ana sekolah juga ^^, tapi skrang ana lg cuti, sempat ambil intishab, tpi qadarullah program intishab dihapuskan, jd berhenti dulu sampai madrasah membuka kembali hadhonah utk bayi, inshaAllah..gimana kabar madrasah? kalau boleh tau,anti siapa yhaa..? teh lia kah?

    1. Perkenalkan, ukht, nama saya Dewi Sartika. Sy baru setahun di Madinah, masuk markaz nisaa September 2011, mulai dari mustawa ta’sisi, sbb sy ga punya basic bahasa arab.

      Org Indo yg sy kenal di markaz nisaa tsb cuman 3 org, ukht, yg pertama Kak Nisa (istrinya Ust. Sanusi, skrg kak nisa lg cuti krn melahirkan), yg kedua Kak Karimah (isrtinya Syaikh Shalih As Suhaimi, kak karimah sekelas dgn sy di mustawa awwal alif), yg ketiga Ukhti Mulia/Ummu Hasan (zaujuha belajar di Ma’had Haram, mustawa awwal juga tapi kelas ba, skrg ukhti mulia ga pernah dtg sejak kurleb 2 bln terakhir, setelah anaknya Hasan sakit, sy ga tau apa beliau masih mau lanjut atau tdk). Sebelumnya (jauh sebelum sy masuk/kira2 setahunan), ada juga Mba Ella/Ummu Rayhan, tapi sdh ga lanjut lagi krn sesuatu dan lain hal.

      Klo anti, terakhir (sebelum cuti) di mustawa berapa?
      Anti tglnya dimana?

      MasyaAllah…markaz nisaa dgn kegiatan2nya semakin baik dari hari ke hari, semakin seru dan semakin mbuat sy bsyukur bisa mjadi bagian dari markaz tsb.
      Pekan lalu baru selesai musabaqah hadits arba’in dan hari ini (rabu) baru selesai musabaqah al quran (surah an nuur).
      Alhamdulillah sy sempat ikut dlm musabaqah al qur’an.

      Kemarin saat kelas kami menang kuis, di tengah2 acara jamuan makan kecil2an, mu’allimah munirah bertanya apa saja yg kami inginkan dari markaz ini utk kami dan anak2, ada beberapa yg menyarankan di bukanya hadhonah, namun mu’allimah belum bisa menjanjikan utk yg satu ini sbb bdasarkan pengalaman sebelum2nya (saat masih ada hadhonah) dgn ruang yg kurang memadai dan jumlah bayi yg dititip juga cukup banyak, tdk sedikit bayi yg sakit (krn usia2 mereka mmg mudah sekali tertulari penyakit), maka setelah dikonsulkan ke dokter, dokter menyarankan hadhonahnya ditutup saja dan sampai skrg blm ada kejelasan apakah kelak akan ada hadhonah atau tdk. Wallahua’lam.

  10. Terima kasih anda berbagi pengalaman, Insa Allah akan saya coba mendirikan yang senada dengan itu di Indonesia tepatnya di lingkungan Ponpes Darul Athfal Kertayasa. Kini yang tengah kami garap adalah TRQ (Taman Remaja al Quran) yang kusuguhkan buat para remaja agar menjadi generasi Qurani di Indonesia. Mohon bantuan do’a, moril dan materil pada pembaca dan semua yang berminat membantu.

  11. Salam,
    Seneng banget baca artikelnya,mohon info alamatnya dimana Daar Adh-Dhikr School tuh sekalian minta no tlpnya trus bisa daftar setiap hari ga atau harus nunggu pas semester?makasih.

  12. Salam kenal untuk Mba atau Bu Siti(?).
    Afwan, sekarang di Riyadh juga ya?
    Kalau iya, ini alamatnya Daar Adh-Dhikr:

    Hay Sulaimaniyyah, Riyadh, Saudi Arabia 220530.
    Telp: 4624366 / 4163012.

    Semoga bisa bergabung dengan teman2 Indonesia di sini ya. :)

  13. Salam kenal juga mba vera,terserah mau panggil saya mba atau ibu karena saya sudah menikah tp belum punya momongan heee…
    Iya saya tinggal di riyadh daerah abi bakr as siddiq,sebelumnya makasih atas infonya tp kayanya belum bisa bergabung disana.saya pengen sekali bisa berkumpul dgn orang indonesia jd klo ada info2 kabarin yah…

  14. Daerah Abi Bakr As-Siddiq itu di mana ya Mba?
    Kalau Mba Siti punya akun Facebook, bisa bergabung di Grup Permataku-Saudia. Anggotannya ibu-ibu yang berdomisili di Riyadh. Biasanya kalau ada kegiatan, selalu diumumkan di situ. Jumat dua pekan lalu baru bikin acara latihan merajut di rumah istri Atase KBRI, di Hayy Sifarah.
    Selanjutnya kita kontak-kontakan via email aja ya Mba.

  15. Alhamdulillah ukhti….ana senang mendapat kabar ukhti, mudah2an tidak lupa sama ana ^^

  16. Bismillaah. Subhanallaah…. Benar kata mbak cizkah..Pengeennn… Baarokallaahu fiikunna.. Di jogja juga sudah ada kok mbak ciz. Tapj di dekat ma’had Jamil. untuk ummahat. Kata Ummu Muhammad ada bahasa Arab sama tahsin ummahat, lengkap dengan ujian, rapor, dan hadiah bagi yang nilainya baik. Sedangkan untuk tahsin, pada belajar (yg belum nikah tapi) pada Syaikhah di Bin Baz, beliau punya sanad untuk itu. Tapi untuk pelajaran lainnya belum tahu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan kita semua untuk menuntut ilmu demi meraih surgaNya…

    1. iya…pengen juga ikut ma’had ali..makanya ana bilang….kalo pun udah ada di sana (di madinah maksudnya *tsahh…kapan ya*) belum tentu juga bisa. Masih sibuk dengan anak2 ni…

  17. Buat teman-teman ummahat di wilayah Jeddah, KSA, yang mungkin sempat mampir ke situs ini, dan lagi nyari tempat belajar al Quran, Agama Islam, atau Bahasa Arab, berikut infonya.

    # Dar Al-Huda Quran School. Phone: 6694282

    # Centre for Arabic Studies. Ph: 0506628277

    # Al Hamra Dawah Centre (ladies section). Ph: 6917533

    # As-Salaamah Dawah Centre (ladies section). Ph: 6829898

    # International Association for New Muslims. Ph: 6622522

    # Mushrefah Dawah Centre. Ph: 6730431 / 6731754

    1. Assalam alikoum ya ukhti

      Saya kepingin sekali belajar di sana tapi terlalu banyak dirasa untuk ditempuhi kerana saya tinggal di Perancis dan tidak tau berbahasa Arab. Namun Saya berharap berdoa moga ada jalan untuk saya dan anak saya lelaki berusia 8 tahun menimba ilmu di Madinah mahu Di Mekah. Kami ingin sekali menghafal Quran sebelum ajal menjemput inchaAllah …;
      Mungkin uhkti dapat membantu saya inchaAllah

  18. assalamu’alaekm.salam kenal ana ummu huwaena dari lombok,mau tanyak apa ummu tau mulazah ato ma’had ali usus akhwat dan ummahat di madinah?.jazakillahu khaer

  19. assalamu’alaekm.ana mau nanyak ke ummu hasanaiin,apa ukht tau alamat ma’had alquran wa as sunnah di madinah yg mudirohnya ustazhah majda,kalo ukht tau,tlg di infokn ya.jazakillahu khaero

  20. masya allah sangat menginspirasi….
    dulu di surabaya sempat ada mahad kecil2an u para akhwat & ummahat. tp karena berbagai hal tidak bisa eksis….
    semoga kelak ada Daar Adh-Dhikr di indonesia…

    btw…minta saranx para ummahat
    ana ingin sekali bs belajar seperti di Daar Adh-Dhikr ato semacamx. mgk kl diindo semacam mahad ya…tp keadaan ana yg single parents belum memungkinkan u mondok. ada sarankah supaya ana bs tetap istiqomah dlm belajar meski sendirian & tidak mondok. barakallahufikunna :)

  21. wuih, nice thread mba ela, gambarnya izin ngopi ke blog maya ya mba, ini linknya juga maya masukinke blog maya ya mba…syukron sdh dishare…baarokallaahufiik…mudah2an kl ada kesempatan bisa lanjut lagi…

  22. Wa fiiki baarakallaah.
    Tafadhdhaliy dek may. Ditunggu lagi kehadirannya di Daar kita tercinta.
    Btw, perhatiin deh foto paling atas. Ada sedan di blakang bis daar. Itu kan sedannya Abu Rumaisha.
    Ngambil gambarx pas numpang mobil anti pagi-pagi ke Daar. Hehe…

  23. Assalamu’alaykum ukt, klo d daerah dahran ada jg g tempat spt ini?

  24. Assalaamu’alaykum.. Masya Allaah.. Kepingin mbaa, tapi ana belum nemu di jakarta, hehe.. Adanya sekolah di grup tolibat whasap aja nih T.T

    Ikut share ya mba, baarakallaahu fiik ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *