subscribe: Posts | Comments | Email

Curahan Hati Seorang Ibu

5 comments

Dulu, aku begitu mudah memberi pengertian pada Ahmad, dan dia pun cepat sekali mengerti. Dulu, aku begitu mudah menasihatinya, dan dia begitu mudah memahami nasihat yang kuberikan ketika dia berbuat kesalahan. Dulu, aku begitu memaklumi tingkahnya yang sering membuat “euuuhhhh…..”, dan dia akan “menyadari” diri jika telah berbuat salah. Dulu, ketika ahmad ngeyel aku tertawa karena kengeyelannya yang menggelikan, tapi sekarang aku kadang emosi karena kengeyelannya lama-lama tak masuk akal dan kadang menjengkelkan. Dulu, dia begitu mudah bilang minta maaf, tapi sekarang dia selalu merasa benar…

Hampir setiap hari selama berminggu-minggu dia sering nangis karena minta kejadian-kejadian yang telah terjadi untuk diulang. Entah ide seperti ini dia dapat dari mana. Semisal pakaiannya basah ketika cuci tangan, dia mau pakaiannya itu kering seketika itu juga. Semisal dia pipis, sudah aku cebokin, tapi tiba-tiba dia terpikir ingin cebok sendiri, dan dia ingin saat itu juga dia langsung kebelet pipis dan cebok sendiri. Semisal dia ingin main laaamaaa dari pagi sampai siang, padahal saat itu hari sudah hampir malam, dia ingin mengulang main lama hari itu juga . Semisal tiba-tiba dia ingin es krim, dan dia nangis karena maunya dibelikan es krim oleh abinya saat itu juga padahal abinya lagi kerja. Semisal dia ingin telpon abinya, tapi tiba-tiba abinya sudah sampai rumah, dia mau abinya balik l

 

agi ke kantor hanya untuk dia menelpon (padahal saat itu sudah maghrib). Semisal lagi kajian, tiba-tiba dia rewel menginginkan sesuatu (ambil makanan di rumah misalnya), dia minta pulang dulu dan balik lagi ke masjid minta diulang lagi kajiannya (padahal saat itu kajian sudah selesai, waduh ya ga mungkin ya tadz?). Semisal pernah, dia minta main di masjid lama (padahal ya sudah cukup lama juga menurutku, jam 4- 5.30, sambil umminya kajian dia main maksudnya, dan dia sudah tahu itu perjanjian sebelum berangkat), eeee… selesai kajian dia ngadat minta main sampai jam 7 malam. Ya Allah, Rabbi…..

Bahkan kemarin malam dia minta dibacakan buku kisah tapi tidak jadi karena mati lampu (satu hal yang tak diharapkan). Tengah malam sekitar jam setengah satu waktu terbangun mau pipis, dia ingat belum dibacakan buku, dan dia minta dibacakan saat itu juga (bayangkan, jam 12.30…. dini hari, kalo tidak salah ingat ini kejadian yang ketiga kali, ndongeng tengah malam…)

Semisal…. semisal….. ah terlalu banyak kejadian serupa itu beberapa minggu lalu. Padahal ibarat delivery service, aku sudah berusaha mengantar pesanan secepatnya, dan berusaha membuat pembeli tak marah, ketika memin

 

ta sesuatu kuusahakan memenuhi secepatnya….

Selama beberapa minggu aku terlibat konflik serius dengan ahmad. Aku sering marah, emosi, ga sabar, dan tak jarang kehilangan “toleransi”, hampir-hampir kehilangan amunisi kesabaran. Aahhh, terlalu banyak yang berubah…. Aku tahu itu adalah salahku meskipun yang menyebabkan aku seperti itu adalah ulah anakku. Aku bersyukur, aku tak pernah gengsi untuk meminta maaf. Lucunya, setiap kejadian itu terulang aku dan ahmad saling bermaafan, berpelukan, dan nangis bareng…. Bagaimanapun, aku seorang ibu yang normal, yang punya sifat-sifat kekurangan sebagai manusia,dan sangat menyesal telah bersikap tak seharusnya padanya.

Ketika aku melihat anakku bertingkah super aneh seperti itu, kadang aku berpikir, kelakuan anakku yang aneh ataukah aku yang salah? Oalaah…. gara-gara ini, aku “stress”, tertekan ber

curahan hati seorang ibu

minggu-minggu. Hilang selera makan, susah tidur, rambut rontok, badan pegal-pegal dan linu-linu, temperamen….. persis ketika aku ngidam.

Tiap malam, aku pandangi anakku yang lagi tidur. Oalah nak, kamu tuh pintar, sampai-sampai kau buat ummimu kalang kabut setiap hari…. Kupandangi wajahnya yang lugu, aku pun sadar kau sangat baik dan pemaaf, kau sebenarnya selalu meminta maaf dan memaafkanku sehebat apapun aku marah padamu….

Tiap kali kupandangi wajahnya yang pulas tidur, aku tersenyum dan menitikkan air mata, aku baru sadar anak yang cakep dan polos ini bukan seorang dewasa yang bertubuh kecil, kau anak kecil….. Kenapa aku terlalu tinggi menuntutmu untuk menjadi dewasa seperti yang kuinginkan?

Tiap aku memandangimu dan merenungimu, akupun sadar betapa banyak kesalahan yang kulakukan seharian, dan betapa sedikit kesabaran yang telah kuberikan… Ibu macam apa aku ini???

Tiap bangun tidur, aku berdoa, ya Allah berikan aku kesabaran hari ini, kesabaran yang lebih dari hari kemarin…. karena aku ingin lebih bersabar dari sebelumnya…..

Tak kusangka, sabar itu mahal harganya, berat perjuangannya, sulit mewujudkannya, dan tak mudah mempertahankannya….

Ahmad butuh lebih banyak perhatian, pengertian, pengakuan, penghargaan, dan kesabaran kedua orangtuanya…….

 

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
  1. mbak, pny kisah ttg ibu tiri gak? share dong…sy seorang ibu tiri..pengen jd ibu tiri yg baik…3 anak cowok usia SD…makasi sebelumnya

  2. banyak pelajaran yang bisa kita ambil dr curahan hatinya umi. Thanks ya Ummii

  3. itu namanya ganti kunyah aja ciz. hehe….

  4. kekenmom says:

    Subhanallah. terharu bacanya. makasih atas inspirasi doanya ya

Leave a Reply