Cerita Donat : Membuat Donat Jadi Ingat Mendidik Anak

Cara dan resep membuat donat banyak kita jumpai di internet maupun buku-buku resep. Begitu pula teori mendidik anak; setumpuk buku dan artikel bisa kita jadikan rujukan.

Namun, akankah setiap buatan donat kita selalu sempurna? Dan hasil didikan kita berhasil mumtaz seperti dalam teori?

Tentu tidak!

Walau menggunakan teori yang sama, ternyata si X membuat donat bantat, si Y membuat donat keras, dan si Z masyaallah sempurna lezat donatnya.

Begitu pun ibu-ibu dalam mendidik anak; sama rujukannya tapi tetap berbeda-beda hasilnya.

Lantas, apa yang membuatnya beda?

1. Karunia Allah

Ada kalanya diberi keahlian ini tapi tidak bisa keahlian yang itu. Ini mutlak kuasa Allah. Dia yang akan memberi bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

2. Ilmu

Menyerap ilmu yang sama taip bisa jadi pemahaman berbeda.

3. Pengalaman

Seorang produsen yang sudah berkecimpung di dunia perdonatan akan lebih mahir dibandingkan pemula yang baru mencoba. Begitu pula ibu-ibu, biasanya anak pertama adalah awal pembelajaran.

4. Tabiat

Produsen dengan tabiat tidak sabaran, dalam membuat donat pun akan tergesa-gesa. Akibatnya, adonan yang seharusnya ditunggu 20 menit — karena tidak sabar — 5 menit langsung digoreng. Begitu juga ibu dalam mendidik anak; seharusnya anak belum siap terhadap suatu materi, sudah dijejali sampai membuat anaknya stres.

Padahal Allah suka kelembutan. Bukan berarti lembek ya …. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Bukankah setiap tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban?!

Kalau sekadar donat — yang diberi perlakuan — adalah benda mati, mau dikerasi seperti apa pun tak berpengaruh. Tapi jika ibu salah dalam mendidik anak, tidak hanya hasilnya yang fatal tapi kita juga harus siap-siap dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

 

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (Hadits shahih; lihat As-Silsilah Ash-Shahihah)

Kita adalah pemimpin bagi anak-anak kita di rumah, tatkala sang ayah mencari nafkah. Kita adalah madrasah paling pertama untuknya. Ibaratnya, surga atau neraka anak-anakmu dimulai dari pundakmu, wahai Ibu ….

 

Cerita donat : ingat membuat donat, jadi teringat mendidik anak

#cerita_donat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *