Ibu Ini Bersusah Payah selama Belasan Tahun (Cara Mendidik Anak agar Berbakti kepada Orang Tua)

Sebuah kisah nyata.

*

Seorang ibu – yang berinisial “S” (61 tahun) – bisa menjadi inspirasi bagi para ibu masa kini. Perjuangan beliau dalam mendidik anak insyaallah menjadi renungan yang penuh makna.

Ketika orang tua zaman ini mengeluh, “Susahnya mendidik anak …,” Bu S telah berhasil mendidik putranya hingga tumbuh menjadi lelaki dewasa yang penuh bakti kepada orang tua.

Melihat latar belakang pendidikan Bu S rasanya kita akan malu. Jenjang pendidikan terakhir yang beliau tempuh “hanya” Sekolah Menengah Atas. Tidak ada titel kesarjanaan di belakang namanya. Beliau tak bergelar “pakar pendidikan”, namun ilmu pendidikan yang langsung beliau praktikkan sungguh luar biasa. Masyaallah.

Teori terbukti dengan praktik. Teori terbukti dengan hasil. Tanpa banyak celoteh, Bu S telah membuktikan kemahiran mendidik selama belasan tahun. Hasilnya bisa terlihat dari sosok seorang lelaki yang setia di dampingnya hingga kini, putranya.

Aku hadir, anakku pun bercerita

Sejak menikah pada tahun 1986, Bu S tak pernah merasakan seragam kantor. Hari-hari beliau jalani di rumah, dengan penuh kesetiaan pada suami dan kedua anaknya.

Tanpa pembantu, menjalani pasang-surut kehidupan. Beliau mencuci baju dengan kedua tangannya, memasak dengan kedua tangannya, menyapu dengan kedua tangannya, merawat anak dengan kedua tangannya, dan menyiapkan keperluan suami dengan kedua tangannnya. Tidak ada keluh kesah dari bibir. Beliau jalani semua dengan rasa ridha, semata mengharap surga Allah.

Pernah suatu kali beliau utarakan kepada suaminya, keinginan untuk bekerja kantoran. Berbekal ijazah SMA, mungkin beliau bisa mendapat posisi yang lumayan. Tentunya dengan harapan imbalan yang memadai. Ingin rasanya beliau membantu meringankan beban suami dalam mencari nafkah.

Namun, semata karunia dari Allah, suami Bu S menjawab, “Kamu di rumah saja. Biar saya yang kerja.

Cinta dan taatnya kepada suami, meneduhkan hatinya untuk tetap berdiam di rumah. Apalagi memang mereka telah dianugerahi buah hati. Semakin mantap jiwanya untuk berkomitmen kepada suami dan anak-anaknya.

Sebelum subuh tiba, Bu S sudah sibuk mondar-mandir di dalam rumah. Rutinitas pagi beliau meliputi memasak air, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal makan siang suami, menyapu, mengumpulkan pakaian kotor lalu mencucinya, dan sederet aktivitas lain yang begitu padat.

Hingga anak beliau memasuki usia sekolah TK (Taman Kanak-Kanak), Bu S selalu bersemangat menjalani rutinitas harian tersebut. Bagi orang lain, mungkin kegiatan yang sama setiap hari akan begitu membosankan. Namun bagi Bu S, kesungguhannya menyelesaikan semua tugas itu adalah wujud cinta dan dukungannya kepada suami dan anak-anaknya. Baju kantor yang bersih dan rapi, sarapan yang sehat dan bergizi, bekal makan yang nikmat dan lengkap … semua untuk suaminya. Seragam sekolah yang terawat, makanan dan minuman yang menyehatkan … semua untuk kedua anaknya.

Rutinitas siangnya beda lagi. Bila anaknya pulang sekolah, beliau duduk menemani anaknya menyantap makan siang. Setia sekali beliau mendengar cerita anak-anaknya. Mulai dari pelajaran sekolah, teman-teman, guru, hingga hal-hal yang mereka jumpai sepanjang jalan pulang ke rumah. Kebiasaan ini sudah menyatu dalam jiwa Bu S. Hingga anak-anaknya berstatus mahasiswa pun, menemani anak-anaknya makan siang adalah rutinitas yang beliau jalani tanpa jemu.

Tahukah Anda, itulah salah satu kunci kedekatan Bu S dengan anak-anaknya, terutama dengan putranya. Bila hari ini Anda dapati anak-anak begitu jauh dari orang tuanya, maka teladan dari Bu S adalah obat penawar. Bila hari ini Anda jumpai anak-anak lebih percaya teman yang badung dibandingkan orang tuanya yang baik, maka teladan dari Bu S adalah jawaban.

Bu S berhasil memenangkan hati anaknya. Tentu ini semua semata karunia dari Allah, walhamdulillah.

Sederhana. Bu S membentangkan sayap kasihnya, hingga anak-anaknya tahu bahwa ada pendengar yang selalu setia menunggu di rumah. Bu S benar-benar menyadari arti kehadiran sosok ibu di tengah tumbuh kembang anaknya. Bagi beliau, waktu yang dilalui untuk sabar mendengar semua cerita dan keluh kesah anak-anaknya adalah jalan untuk menciptakan generasi yang sehat secara rohani.

Anak-anak itu juga tahu bahwa ibu mereka akan siap mendengar. Maka tak ada alasan bagi mereka untuk lari mengadu kepada narkoba. Atau curhat dengan teman yang malah merusak. Mereka tahu, ibu insyaallah selalu ada. Siap duduk mendampingi, sabar mendengar, dan menasihati kala diperlukan.

Bagi kita, orang tua masa kini …. Ilmu parenting telah kita “genggam”. Maka, sudahkah kita menyadari hal sederhana yang telah dijalani Bu S selama belasan tahun itu?

Memenangkan hati anak-anaknya

Wajar, ada masa ketika Bu S berhadapan dengan periode pubertas anak-anaknya. Beliau sikapi dengan aura yang sama – aura seorang ibu, seorang sahabat, seorang pendidik. Bila ingin menasihati, beliau mengajak anaknya berbicara empat mata. Tanpa bentakan, beliau mulai percakapan dengan suara lembut khas seorang ibu.

Hati anak mana yang tak luluh dengan kesejukan semacam itu? Andaikan hati itu pun sudah sekeras batu, tetesan air kasih yang tiada henti insyaallah akan melubanginya. Memasuki pori-porinya, lalu membasahi jiwa yang kering … setahap demi setahap.

Sesosok lelaki dewasa

Sekarang, putra beliau telah berubah menjadi sesosok lelaki dewasa. Lelaki berusia 26 tahun yang dipercaya memegang jabatan penting di sebuah BUMN perminyakan ternama negeri ini. Dengan pakaian necis ia berangkat ke kantor, menandatangani izin usaha para pemohon, bertemu dengan mitra usaha, dan melakukan rapat evaluasi di berbagai kota.

Namun, tahukah Anda bagaimana sosoknya ketika berhadapan dengan ibunya?

Jika ia tak mengangkat telepon ibunya karena sedang rapat, sesegera mungkin setelah rapat ia menelepon balik. Ia minta maaf berkali-kali hingga ia mendengar sendiri dari lisan ibunya bahwa ia telah dimaafkan.

Jika ia mengantar ibunya berbelanja ke pasar, tak ia biarkan ibunya menenteng satu bungkus pun belanjaan. Meskipun itu hanya bungkusan kecil. Ia yang membawa semuanya. Ya, semuanya!

Jika ia akan bepergian dengan ibunya, ia bukakan pintu mobil untuk ibunya terlebih dahulu. Ia pastikan benar-benar bahwa ibunya telah duduk nyaman di jok mobil. Setelah itu, barulah ia menutup pintu.

Jika malam tiba, ia memijat ibunya dengan kedua tangannya. Kadang sampai larut malam hingga ia terkantuk-kantuk. Anda heran? Tak perlu heran, karena baginya itu biasa. Menurut dia, seseorang tak mungkin jadi bos di kantor bila bukan karena sebab jerih payah seorang ibu yang mengasuh sejak kecil.

Jika ia mesti bertugas dinas ke luar kota, ia akan pesankan kepada sopir, tetangga, pembantu, dan beberapa teman dekatnya untuk menjaga ibunya. Ia rutin menelepon ibunya setiap hari untuk bertanya kabar. Tak lupa pula ia meminta restu dan doa ibunya agar pekerjaannya berjalan lancar.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad, no. 11; Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)*

Telur dan shalat tahajjud

Bu S pernah menuturkan cara beliau mendidik anak. Prinsip beliau adalah telur. Beliau menjaga anak seperti menjaga telur. Jangan sampai pecah.

Telur diletakkan di tempat yang aman, supaya tak pecah.
Telur dipegang perlahan, supaya tak pecah.

Anak dibesarkan di rumah yang menenteramkan, supaya “tak pecah”.
Anak dirawat dengan cinta, supaya “tak pecah”.

Ada rahasia lain yang sempat beliau ungkap. Shalat tahajjud. Beliau sebisa mungkin menyempatkan diri shalat tahajjud, sepenat apa pun kondisinya. Beliau yakin, bila beliau berdoa dan beramal shalih maka Allah akan mudahkan urusannya, dan Allah akan menjaga suami serta anak-anaknya.

Menjaga istrinya sebagaimana menjaga ibunya

Putra Bu S telah menikah. Ia upayakan menjaga istrinya sebagaimana ia menjaga ibunya. Ia tunaikan hak-hak ibunya, dan ia tunaikan hak-hak istrinya. Seorang lelaki yang tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang pengasih itu paham betul arti menghormati wanita.

Mari kita perbaiki diri

Kisah nyata Bu S ini, semoga menjadi renungan. Menggamit jemari. Untuk lebih baik dalam menunaikan hak-hak anak yang telah Allah amanahkan kepada kita. Baik-buruknya generasi bangsa ini diawali dari baik-buruknya pendidikan anak-anak di dalam rumahnya masing-masing.

Mari, kita perbaiki diri. Dengan doa dan ikhtiar, insyaallah bisa. Bismillah.

#
(*) Terjemahan hadits dikutip dari http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html

Athirah Mustadjab

Artikel UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *