Bila Anda atau Teman Anda Mengalami Baby Blues Syndrome

Secara fitrah, seorang perempuan diciptakan dengan sifat yang berbeda dengan lelaki. Perempuan biasanya cenderung perasa dibandingkan lelaki. Hal-hal kecil kadang bisa jadi percikan api yang menyulut emosi. Mulai dari masalah momongan, kehidupan cinta bersama suami, prestasi anak, sampai urusan dapur.

Jadi, banyak sekali faktor potensial yang bisa menyebabkan seorang istri/ibu stres. Apa saja di antaranya?

Ada yang bilang: karena pola asuh; perempuan tersebut tidak dididik oleh orang tuanya untuk menghadapi kehidupan rumah tangga, mengelola perasaannya, bagaimana menghadapi masalah, bagaimana berkomunikasi, dst.

Ada juga yang bilang: karena faktor suami; suami ini cuek dan tidak mau membantu pekerjaan istri, atau suami tidak dididik oleh orang tuanya untuk jadi suami yang perhatian sama istri, menghargai dan membantu istri, dst.

Stres bisa menimpa perempuan yang baru saja menikah,
Yang sudah lama menikah,
Yang belum punya momongan,
Yang sudah punya momongan.

Dan …
Bila dikaitkan dengan baby blues syndrome, tentu masalahnya lebih rumit lagi.
Lebih kompleks lagi.

Tapi …

Ketika nasi sudah menjadi bubur.
Waktu tak bisa ditarik mundur ke belakang,
Suami-istri yang sudah besar itu mustahil dibuat kembali menjadi anak kecil, sehingga orang tuanya bisa memperbaiki pola asuh kepada anak-anak mereka ini.

Maka …

Apa solusi aplikatif yang bisa kita lakukan sekarang?

Bila Anda adalah seorang istri atau ibu yang tengah stres

(1)

Percayalah, bahwa Allah memberikan karakter yang berbeda kepada setiap orang.
Ada orang yang diberikan karakter melankolis yang perasa.
Ada orang yang berkarakter plegmatis yang cuek.
Ada orang yang berkarakter sanguinis yang ceria.
Ada orang yang berkarakter koleris yang kuat.
Ada orang yang memiliki perpaduan beberapa karakter yang saling melengkapi.

Maka …

Percayalah bahwa setiap karakter itu punya sisi baik dan sisi buruk. Sisi baik ini adalah potensi kita, sedangkan sisi buruk adalah kelemahan kita maka inilah yang harus kita perbaiki.

Kita mengenali kelemahan diri bukan untuk tenggelam dalam lautan penyesalan. Tapi, kita mengenali agar kita bisa memperbaikinya. Setiap manusia tak ada yang sempurna, namun setiap orang punya kesempatan untuk menata hari esok yang lebih cerah.

Bagaimana caranya?

Salah satu cara paling “praktis” adalah cari teman yang punya sifat yang bisa melengkapi kelemahan kita.

Pernahkah kita merasa terlalu stres bila rumah seperti kapal pecah karena mainan anak-anak? Nah, coba bergaul dengan teman yang cenderung plegmatis dan cuek. Kita bisa belajar dari mereka tentang cara agar tetap santai mondar-mandir di rumah yang penuh mainan.

Pernahkah kita merasa kesepian karena suami pergi pagi pulang sore? Malam lanjut ta’lim? Nah, coba bergaul dengan teman kita yang cenderung ceria. Kita bisa melihat bagaimana mereka tidak larut dalam kesedihan, tapi cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang yang menyenangkan.

Teman-teman bergaul yang punya sifat baik yang tidak kita miliki insyaallah akan membantu kita menatap dunia dari sisi yang berbeda.

Teman-teman yang dewasa dan berpemahaman-agama yang baik insyaallah bisa membantu kita melihat setiap takdir Allah dari segi yang bisa menenangkan hati.

(2)

Berdoa kepada Allah.

Terdengar klasik memang, tapi bagaimana pun inilah senjata ampuh yang telah berhasil diterapkan banyak orang shalih.

Ketika Nabi Ya’qub sangat sedih karena kehilangan Yusuf, apa yang dikatakan Nabi Ya’qub?

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Ketika Nabi Yunus ditelan oleh ikan, Nabi Yunus berdoa kepada Allah.
Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ditimpa kesedihan yang bertubi-tubi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa kepada Allah.
Ketika Aisyah difitnah, Aisyah menyerahkan semuanya kepada Allah.

Doa? Apa doanya?

Anda bisa berdoa seperti doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, misalnya doa agar diberi kelapangan, doa bila tertimpa musibah, doa bila mendapati urusan yang sukar, dll.

Apalagi doanya?

Anda bisa mengadu kepada Allah tentang seeeemuaaanyaaaa. Semua perasaan Anda.

“Ya Allah, suamiku cuek. Aku sudah tidak tahan. Mohon beri hidayah kepada suamiku.
Ya Allah, aku capek. Badanku sakit-sakit, tapi nggak ada yang mau bantu aku.
Ya Allah, anakku nangis terus, rewel. Aku nggak tahan dengar dia nangis terus. Pekerjaanku banyak. Aku harus nyuci. Aku harus masak. Ya Allah, mohon bantu aku. Ya Allah, hilangkan kesedihanku. Kepada-Mu aku bersandar. Kalau bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi aku bisa mengadu sepuasnya? Ya Allah, mohon bantu aku.”

Anda ingin menangis dalam doa?
Menangislah, Bu.
Sepuasnya keluarkan keluh kesah Anda di hadapan Allah.
Allah Maha Mendengar.
Allah menyambut setiap hamba-Nya yang datang mengadu.

Mungkin doa Anda akan segera terkabul. Pulang kantor, suami Anda tiba-tiba membantu Anda membereskan rumah dan momong anak.

Atau mungkin, suami Anda tidak drastis berubah, tapi ternyata Allah berikan ketabahan dan ketegaran di hati Anda, sehingga mental Anda menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.

Jangan putus asa, Bu.
Kita menatap ke depan.
Kita menuju masa depan yang lebih baik, insyaallah.

(3)

Bila Anda sedang dalam masa awut-awutan dan perlu dukungan moral, coba hindari melihat postingan medsos atau blog yang cenderung menunjukkan kesempurnaan: rumah yang rapi, menu yang sempurna, anak yang anteng, dll.

Coba Anda baca tulisan tentang orang-orang yang pernah menghadapi masa stres seperti Anda dan dia bisa melewatinya biidznillah.

Lihatlah, betapa banyak orang yang mungkin seperti Anda tapi bisa melewatinya. Kuatlah dan bertawakallah kepada Allah.

(4)

Bila Anda merasa perlu teman ngobrol, sedangkan suami Anda cuek bebek, coba telepon teman Anda, ibu Anda, ayah Anda, dll.

Selain menceritakan isi hati Anda, Anda juga bisa meminta mereka datang berkunjung.

Ya, katakan saja, daripada Anda pendam. “Bu, main ke rumahku ya, Bu. Aku pengen makan ini, makan itu. Aku pengen dipijet, apa Ibu punya kenalan tukang pijet?”

(5)

Lakukan hal yang Anda sukai, sebagai variasi kegiatan. Bila Anda punya waktu luang, merajutlah, membaca bukulah, luluran-lah, maskeran-lah.

Bila Anda punya teman sesama ibu yang terlihat stres atau berpotensi stres

Belajarlah peka dengan orang-orang di sekitar Anda. Terhadap tetangga Anda, terhadap teman Anda di dunia nyata atau di dunia maya.

Bila ada istri yang kelihatan stres, hibur dia, meski dia tak mengatakan kesedihannya. Belajarlah peka. Bila Anda punya kelebihan harta, coba kirimi dia makanan, hadiah, baju, buku, atau barang bermanfaat yang bisa menyenangkan hatinya.

Bila ada ibu baru di sekitar rumah Anda, jenguk dia. Tawarkan bantuan.

Bila pagi hari Anda lewat di depan rumahnya, sempatkan mampir. Tanyakan kabarnya.

>> Baca juga http://ummiummi.com/pengalamanku-mengatasi-baby-blues-syndrome

Pengalaman

Ketika melahirkan anak pertama, teman-teman Indonesia dan tetangga sangat membantu saya. Kasihan juga kalau mau meminta ini-itu ke suami, karena beliau pun sibuk.

Begitu tahu saya sudah tiba di rumah, sekitar 30 menit setelahnya, ibu-ibu Indonesia sudah datang ke rumah. Ada yang memandikan bayi saya. Ada yang memasakkan makanan. Ada yang nemani saya ngobrol.

Besok paginya, kalau ibu-ibu selesai mengantar anaknya sekolah, mereka mampir ke rumah saya untuk sekadar bertanya kabar. Bertanya apa yang bisa mereka bantu. Ada juga yang mampir khusus untuk mengantarkan lauk pauk.

Tetangga sebelah kiri, suatu siang pernah mendengar bayi saya menangis. Beliau mengetuk pintu rumah saya, lalu menawari bantuan. Beliau bilang, “Pergilah makan. Kakak yang gendong anakmu.”

Ketika tetangga tahu bahwa bayi saya masuk rumah sakit, sepulang dari RS, mereka langsung menjenguk saya. Menawari bantuan untuk menjaga bayi saya. Mereka bilang, “Pergilah mandi. Nanti kami yang jaga.”

Berbeda dengan cerita anak pertama, setelah melahirkan anak kedua, hanya ada satu orang yang menjenguk saya. Yaitu, asisten dokter obsgin yang menangani saya. Waktu itu memang suasananya beda dengan kota yang dulu. Jadi, bisa dimaklumi.

Yang saya lakukan biasanya belanja sayur dekat rumah. Dari situ, saya bisa ketemu orang-orang, bisa ngobrol dengan ibu penjual sayur. Bila suntuk, baca buku atau mendengar si sulung mengoceh. Kalau si bayi tidur, saya mengajak si sulung tidur juga. Menelepon Ibu juga jadi obat tersendiri. Disemangati, dinasihati, diceritakan tentang kabar keluarga.

Bagaimana pun, banyak sekali faktor yang berperan dalam jejaring emosi di hati seorang perempuan, utamanya yang sudah berkeluarga atau yang baru/sudah punya anak.

Tapi bila kita renungi, semuanya berkisar pada dua hal:
1. Motivasi dan kekuatan dari diri sendiri, biidznillah.
2. Dukungan dan kepedulian dari lingkungan sekitar.

Semoga Allah menjaga para muslimah di mana pun berada, dengan beragam masalah yang mereka hadapi.

Mohon maaf bila ada salah kata. Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fikum.

5 Oktober 2016,
Athirah

UmmiUmmi.Com

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *