Belajar tentang Putus Asa dari Toilet Training

Setelah belajar tentang sabar dan lembut dari interaksi dengan si buah hati. Kali ini saya belajar tentang putus asa :).

diaper

Sewaktu menjalankan toilet training pada Ziyad, proses menuju keberhasilan toilet training sangat terasa. Setiap bulan ada peningkatan keterampilan. Baik itu tidak pipis di celana, sampai akhirnya bisa memberi tanda bahwa dia mau pipis. Saya ingat bagaimana Ziyad jarang sekali pipis di kasur. Bahkan tidak sampai hitungan jari.

Saat menjalankan proses toilet training pada Thoriq, entah bagaimana rasanya antara tidak ada perkembangan atau malah memburuk. Bayangkan, bukannya semakin pintar memberi tanda ketika hendak pipis. Bahkan lebih parah. Dia semakin suka untuk pup di celana. Hampir seluruh area kasur kamar kami penuh dengan bekas pipisnya.

Lalu saya merasa hampir putus asa.

Apakah bentuk keputusasaan itu?

Rasanya saya ingin memakaikan lagi diaper dan menjalani kehidupan lebih santai, kasur lebih bersih, cucian yang lebih sedikit. Dan kemudahan-kemudahan lainnya ;D.

Tapi saya tahu dan meyakinkan diri sendiri untuk tidak putus asa! Bahkan TIDAK BOLEH putus asa!

Dari hal “kecil” ini, lalu saya merenungi tentang putus asa ini.

Ah…sepertinya saya terlalu cepat berharap dengan sebuah keberhasilan. Hal itu kemudian membuat saya lalai untuk lebih telaten dan berusaha.

Setelah itu saya memikirkan berbagai kemungkinan penyebab toilet training ini tidak berjalan sesuai harapan. Baru setelah itu berusaha memperbaikinya.

Seringkali orang yang putus asa itu karena tidak sabar dan mengharapkan percepatan pada apa yang dia inginkan bukan?

Mungkin kita hampir putus asa karena keluarga yang belum mendapatkan hidayah.
Atau karena sang pangeran yang tidak kunjung datang.
Atau belum hadirnya sang buah hati.
Atau belum memiliki rumah sendiri.
Atau karena sebab lainnya…

Padahal kalau sabar dan tidak berputus asa dan bersabar, bisa jadi Allah membalikkan seluruh keadaan dalam waktu sekejap mata. Dan tercapailah apa yang kita harapkan.

Ketahuilah, bahwasannya pertolongan akan datang bersama kesabaran. Jalan eluar akan datang dengan adanya kesulitan dan bahwasannya bersama kesulitan ada kemudahan. (HR. Ahmad 1/307, shahih)

Dan semoga segala kesusahan, kesedihan yang kita dapatkan menjadi penghapus dosa. Aamiiin.

cizkah
24 November 2014

IRT. Homeschooler dari tiga anak (Ziyad, Thoriq dan Luma). Web dan graphic designer. Suka membuat media belajar anak (khususnya untuk pendidikan anak Islam) yang dapat dilihat di www.lumalumi.com.

8 thoughts on “Belajar tentang Putus Asa dari Toilet Training

  1. Mengena sekali tulisannya, Mbak. Pas sy jg lg berusaha noilet training si Abdurrahman. Kdg2 mikir enakan dipakein pampers, kita bs ngapain2 tanpa kuatir ada kecelakaan. Ayo semangat lagi..

  2. tulisan2 ummi menginspirasi.. khususnya toilet training anak pertama ana :) di usia pas 3th ini, perkembangannya semakin menurun, kemarin di usia 2.5 tahun sudah mulai mandiri, bahkan sudah jarang sekali pipis di celana, tapi ga tau kenapa ko’ ada sedikit perubahan, apa mungkin meminta perhatian lebih umminya yah.. pipisnya selalu bocor, sampe2 ana ngelus dada.. khususnya pup, sama sekali ng’ga mau ke kamar mandi, pasti minta pake celana dan berdiam di sudut rumah tdk mau diganggu.. ana sampe bingung mo pake usaha apa, bujukan sudah sering.. tapi insyaAllah ana tetap semangat, dan memcoba hal2 yg terbaik tanpa menyakiti amanah Allah ini

  3. Umm, saran yang pernah berhasil saya lakukan..
    Pernah dengar potty trainer yang bentuknya lucu2 dan warna warni? saya mencoba potty trainer utk putri saya saat berumur 2 thn. Diletakkan dekat pintu kamar mandi. Dan memintanya untuk pipis di potty nya itu ketika dia ingin pipis. Lama2 tiap mau pipis dia lebih suka di potty. Dan tidak mau melewatkan kesempatan untuk pipis disitu. Lama2 berhasil mengajarkan dia untuk pipis ke kamar mandi.

    1. @indah tau mba indah :) hehe. Udah pernah beli juga. Tapi anak gak mau. Malah dipakai mainan mahkota2an haha terus udah pecah gak beli lagi deh. Belinya kemarin juga pas Thoriq…coba-coba. Tapi memang pada dasarnya pingin langsung ajarin ke kamar mandi. Kalo pas Ziyad memang sengaja gak beli.

  4. Disiplin, kesabaran, ciptakan suasana yg tenang, menyenangkan dan beri pujian berhasil saya terapkan pada anak pertama saya. Kaka yg punya latar belakang alergi susu sapi yg menyebabkan diare, ruam kulit. Susu soya yg saat itu ada berefek sembelit. Karena trauma dg b.a.b, dia selalu menahan b.a.b hingga bisa 4 – 5 hari meskipun sudah diberikan pencahar melalui dubur, minum jus pepaya hilang efeknya karena dia berusaha menahan b.a.b hingga keringat dingin & tidak mau mengakui kalo dia sedang mulas pengin b.a.b, malam pun tidur selalu gelisah, tidur siang pun begitu. Saat yang sangat menyedihkan adalah saat mukodimah tidak sabar dan memukul pantat serta memaksa Kaka utk mau ke closed. Sejak saat itu Kaka ga mau sama sekali b.a.b sama mukodimah, sebagai wanita yg bekerja di luar rumah, saat tiba di rumah adalah saat yg sangat privacy antar Kaka dg umminya dlm soal b.a.b. Pintu kamar saya tutup dan hanya kami berdua yg boleh ada.
    Setiap pulang kerja, sebelum saya memasukkan pencahar melalui dubur, saya selalu bilang dulu, awalnya dia merasa dipaksa & berusaha berontak tapi dia juga menyadari rasa nyaman di perut setelah b.a.b. Awalnya saya biarkan dia b.a.b masih di celana, karena dia juga belum mau masuk kamar mandi sekalipun.
    Berikutnya dia sendiri yang meminta utk diberi pencahar meski kurang nyaman saat dimasukkan. Saya selalu beri pujian & pelukan cium untuknya, dan hari demi hari ada kemajuan.
    Kemudian hari berikutnya saya lepas celananya setelah masuk pencahar, masih juga belum mau masuk kamar mandi, dan berceceran di lantai sudah pasti, tapi saya sadarkan dia bahwa pup yg di lantai itu bau khan… jijik khan… nanti lalat pada datang lho…(saat itu usia 2thn 3 bln).
    Besoknya sudah mulai mau ke kamar mandi meskipun belum mau di closed, sudah pasti berceceran di lantai kamar mandi. Tapi tetap saya puji dia sekaligus saya sadarkan bahwa itu ga baik, jijik ih…! Di dalam kamar mandi saya ajak ngobrol bercerita tentang hewan2 kesukaan dia, nyanyi, sehingga dia relaks. Besoknya lagi ada kemajuan sudah mau naik ke closed, tapi tidak mau jongkok ataupun duduk. Tidak apa…. tetap saya puji & bernyanyi, saya sadarkan dia bahwa kalo b.a.b di closed langsung disiram hilang ga bau kaya pup di lantai.
    Keesokannya lagi saya ajak lihat sendiri (maaf) bagaimana saya b.a.b, beberapa hari baru dia bersedia mempraktekkan seperti yang saya contohkan. Tepuk tangan serta pelukan bahagia sangat berharga buat dia. Tampak dia sangat bangga & merasakan nyamannya b.a.b di closed.
    Hari demi hari akhirnya dia mengerti, tanpa pencahar dan tidak mengelak lagi saat perut merasakan mulas tandanya mau b.a.b.
    Hingga akhirnya Kaka tidak lagi menahan b.a.b meskipun kadang masih b.a.b di celana/diapers. Hari- hari berikutnya sudah bisa merasakan nyamannya bebas dari diapers. Utk b.a.k malam selalu kita bangunkan 2-3 x hingga terbiasa tidak ngompol.
    Suatu kemajuan demi kemajuan yang sangat berarti, sangat mengharukan bila dikenang bagi kami berdua.
    Kaka yang dewasa, mudah minta maaf, semangat yang lumayan bagus, semoga sukses menjalani pilihan Kaka utk belajar di Boarding School meskipun baru kelas 1 SD kini sudah memilih utk di sana.
    Doa umi & abi serta Dede dari sini utk Kaka adalah cara umi memelukmu dari jauh.

  5. proses TT Harun sering sekali terhenti di tengah tengah hampir keberhasilannya. ketika Harun hampr bisa memberi sinyal untuk ke Km, saat itu Harun sakit. mungkin masuk angin yah? terlalu sering diajak ke Km ? akhirnya ibunya mengalah ditunda dulu TT nya. kadang kendala sering ke rumah eyangnya juga sehingga gak enak klo berceceran. sekarang mau ngajak TT lagi kendala mau punya adik.., tapi anehnya sejak usia 23 bulan Harun sudah behasil BAB di KM, hanya belum bsa mengontrol BAK nya saja. Semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *