Begitulah Kalau Ibu-Ibu Lagi Ta’lim

Latar: Habis pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu

Abu Asiyah (AA): Tadi kok ibu-ibu pada berisik? Suaranya kedengaran itu.

Ummu Asiyah (UA): Nah, begitulah kalau ibu-ibu lagi ta’lim. Gimana gak berisik, pas
lagi ta’lim, satu anak datang nangis. Yang satu pergi, datang lagi yang lain minta mimik. Belum lagi yang lain (datang pengen ikut-ikutan nulis, ngambil pulpen orang, rebutan mainan).

AA: Itulah yang bikin Bapak-bapak enggak mau ta’lim sama ibu-ibu. (Awalnya ta’limnya cuma buat bapak-bapak, tapi atas usulan seorang ibu, jadinya ta’lim ini dibuat terbuka untuk semua. Itu artinya, kalau ibu-ibu ikut ngaji, a

ibu-kajian

nak-anak juga mesti dibawa)

UA: Ya, supaya bapak-bapak sekalian tahu gimana kalau ibu-ibu pada ta’lim. Itulah makanya, suami juga perlu pengertian. Istri itu kalau mau ta’lim perlu perjuangan. Mesti fokus meskipun anak-anak ramai, rewel, minta ini, minta itu. Jadi suami itu bukan cuma memberi nafkah harta tapi juga mesti peduli sama kondisi agama istrinya.

Ummu Asiyah ngomong panjaaaaaaaaaaang lebaaaaaaar. Sekalian aja, mumpung Abu Asiyah yang memulai pembicaraan. Mudah-mudahan kalau lagi kumpul-kumpul dengan sesama bapak-bapak, curhatan Ummu Asiyah ini bisa jadi pencerahan buat para suami : )

Bener gitu ‘kan? Ayo para ummahat, mesti seneng banget ‘kan kalau punya suami yang bilang ke istrinya, “Mas enggak mau Sayang sering repot masak yang ribet-ribet. Sayang mesti punya banyak waktu buat belajar.”

Nah, gitu dong : ) Suami yang penuh pengertian (mengerti kata hati istri tanpa perlu istri ungkapkan dengan kata-kata)

Para istri juga enggak bakal sembrono dan seenaknya, insya Allah. Para istri juga bakal tetap menjaga rumah sedap dipandang dan nyaman dihuni, makanan siap santap, anak-anak terdidik dan terawat dengan baik. Akan tetapi, salah satu sifat wanita adalah: ingin dimengerti meski tidak dia ungkapkan. Suami yang bijaksana insya Allah bisa paham tabiat wanita yang satu ini. Jadi, berilah keluangan waktu bagi istri untuk belajar ilmu syar’i. Jangan melulu mondar-mandir dapur, jaga anak, megang sapu, nyeterika baju.

Kalau istrinya paham syariat insya Allah kebaikannya akan kembali ke suami juga. Contoh, kisah tahallul Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam. Saat itu, Ummu Salamah yang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mencukur rambut beliau tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya, para sahabat mengikuti perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam ini, padahal sebelumnya tak ada satu pun yang mau mengikuti perintah lisan Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam.*

Kalau istrinya paham syariat, insya Allah sifat qonaah akan menghiasi jiwanya. Menyenangkan bukan punya istri yang tak banyak menuntut materi dunia dari suaminya? Malahan, dia cemberut kalau suaminya pontang-panting cari uang siang-malam tapi meninggalkan majelis ilmu tanpa rasa kehilangan sama sekali.

Kalau istrinya paham syariat, insya Allah anak-anak terjamin berada dalam tarbiyah yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada acara ulang tahun, tidak ada jadwal nonton Doraemon dan Pockemon, tidak ada kesempatan nonton ke bioskop, tidak ada izin mendengarkan musik. Aktivitas anak-anak dijaga supaya hanya berkisar pada kegiatan yang akan mendatangkan limpahan cinta dan rahmat Allah.

Pernikahan adalah sebuah ta’awun ‘alal birri wat taqwa, tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, antara dua insan yang mengharap ridha Rabb-mereka.

*) Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan para sahabatnya dicegah oleh orang-orang kafir Quraisy di Hudaibiyah sehingga tidak bisa melaksanakan umroh kemudian Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mengadakan perjanjian Hudaibiyah dengan mereka yang isi perjanjian tersebut secara dzohirnya menguntungkan mereka dan merugikan kaum muslimin hal ini membuat para sahabat marah. Karena mereka tidak bisa berumroh maka mereka harus bertahallul di Hudaibiyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintah para sahabatnya untuk menyembelih sesembelihan mereka dan mencukur rambut mereka.

Namun tidak seorangpun dari mereka yang berdiri melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, bahkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam mengulang perintah tersebut tiga kali namun tidak seorangpun yang melaksanakannya karena saking marahnya para sahabat terhadap orang-orang musyrik.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam menemui Ummu Salamah dan menyebutkan hal tersebut. Maka Ummu Salamah berkata, “Keluarlah engkau (dari tendamu) dan janganlah engkau berbicara dengan salah seorangpun dari mereka kemudian sembelihlah untamu dan panggillah tukang cukurmu untuk mencukur rambutmu”.

Lalu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan ia tidak berbicara dengan seorang sahabatpun kemudian ia memanggil tukang cukurnya dan mencukur rambutnya. Tatkala para sahabat melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam tersebut maka merekapun segera berdiri dan memotong sembelihan-sembelihan mereka dan saling mencukur diantara mereka. [HR Al-Bukhari II/978 no 2581] Selengkapnya simak di http://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/166-suami-sejati-bag-11

 

Bandar Universiti, 10 November 2011,

Athirah

Athirah (Ummu Asiyah), ibu rumah tangga dari dulu sampai sekarang.

13 thoughts on “Begitulah Kalau Ibu-Ibu Lagi Ta’lim

  1. Ternyata di Malaysia kondisi ta’limnya sama aj y kayak di Indonesia? rame gitu barisan ummahatnya, hehe. Iya mb,,memang kalo ta’lim bawa anak (kecil apalagi) butuh perjuangan ekstra. Dan sy salut sama para suami yg mau berbagi peran sama istrinya. Misal abinya mau bawa anak yg laki2 atw yg udah gede dikit. Jadi umminya cukup njagain yg masih kecil/yg masih nyusu aj. Trus segera mau gantian pegangin anaknya,,giliran umminya yg sholat misalnya (di sini sy kajiannya malem,,motong waktu sholat Isya juga).
    #Jadi pingin segera pergi ta’lim sambil bawa baby sendiri…

  2. Hehehe… Kok y sm . Kalo disini ustadznya dah maklum ath, kalo ada ust yg nyaranin kaj ummht g boleh brisik atw g boleh bw anak, kmungkn besar ibu2 dsini pada g brangkat. Lha bisa dibilang sebagian bsar mpunyai anak minimal 2.plus jdwl kaj bersamaan dg hr efektif kerja. Jadinya gt deh,utk menenangkan anak bs jd ctatan si umm bcampur dg coretan2 ‘benang bundet’.
    Tapi salut dg ibu2 yg sdh sibuk dg anak2nya yg byk tetep nyempatin ta’lim.

    1. @ galuh

      sejutu galuh.. sejutu bangeet…

      akhwat2/ummahat2 yg sudah kokoh ilmunya boleh jg skali2 bikin ta’lim di rumahnya. jadi, baik ustadzah maupun peserta ta’limnya semuanya pada bawa anak… sama2 rame : )

      menurutku memang itu konsekuensi belajar untuk para ibu.

      sedari kecil ana2 juga perlu dibiasakan menghadiri majelis ilmu. setidaknya, sesekali mereka akan duduk mendengarkan pelajaran. pengalaman kl bawa asiyah belajar ke tempat temen di sini, asiyah gak bakal selamanya main dan lari2. ada kalanya dia duduk diam mendengarkan sambil saya kasih mimik. atau asiyah pegang2 alquran sambil dengar ustadzah ngomong.

      kl ibu gak belajar, apa yg bisa diajarkan ke anak? seperti perkataan dlm bahasa arab:
      فاقد الشيء لا يعطيه
      “Orang yg gak punya apa2 gak akan bisa memberi”

      ramenya anak2 memang bisa mengganggu konsentrasi ustadz/ustadzah. karena itu, semoga ALLOH memberi pahala yg besar kepada ustadz2/ustadzah2 yg tetap semangat membagi ilmu bagi para ibu yg suka bawa anak pas kajian…

  3. Senangnya denger ibu2 dengan mudahnya ke majelis ilmu.
    Di sini saya blm pernah ke majelis masyaikh.
    Suami pengen bgt ngajak tapi gak semua tempat kajian ada tempat buat wanita-nya.
    Alhamdulillah ada TV jadi bisa ngikutin program ceramah masyaikh setiap hari.
    Paling nyenengin jg ada channel “Bin Othaimeen”, isinya semua kajian Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah. Bahasa beliau juga cukup mudah dipahami. Alhamdulillah :)
    Di sekolah juga ada dirosah islamiyyah 2x sepekan.
    Pokoknya jangan sampai lalai-lah dgn kebutuhan yang satu ini bagaimanapun caranya.

    @ Ummu Sulaim Uul: Dek, sudah isikah? Gmn rencana belajar bhs Arabnya?

  4. “Pernikahan adalah sebuah ta’awun ‘alal birri wattaqwa, tolong-menolong dalam kebajikan dan
    ketakwaan, antara dua insan yang mengharap ridha Rabb-mereka.”

    Suka dengan kalimat ini :)
    Memang peran serta suami penting banget agar para istri bisa ngaji dengan tenang, dan…..konsentrasi :D

  5. sangat kita bangeeeet ya umm, seneng deh mbacanya…pernah to umm, waktu kami ta’lim tu anak2 pada ribuut sekali sampai ustadz-nya batuk2 di telepon (kami ta’lim live via telpon dengan ustadz di jogja)…hehehe…

  6. Masalah bawa ank k pngajian kykñ sdh jd mslh khilafiyah di antara asatidzah ;p
    Asal jgn merasa paling benar aja pendapatñ :-)
    Pernah nyoba bawa ponakan ke majlis ta’lim yg di rumah(bkn di msjd) subhanalloh,, kyknya 75% aja penjelasan ustadz yg bisa ditangkep sisañ ngeblank krn diajak ngomong ponakan dan jg lirikan ‘tajam’ dari sebagian ibu2,,walau tak sedikit yg memuji (ponakanku termasuk lumayan ga rewel dibanding ank2 seusiañ Alhamdulillah)
    Klo emang ank bisa utk ditinggal mending ditinggal aja kali ya, kcuali ta’limñ di masjid yg ukuranñ besar jd bisa jauhh2 dudukñ dari jamaah yg ga bawa anak spy mereka bisa konsentrasi
    Dah ada belum ya diantara ummahat yg ngamaalin perbuatanñ umar bin khoththob yg ganti-gantian jadwal ta’limñ sama tetanggañ
    Tapi agak gimana juga sama sebagian ummahat yg terlalu ‘melepas+cuek’ sama anakñ pas kajian semoga tidak termasuk zholim ke sesama penuntut ilmu yg lain

    Salam kenal, tetap semangaaat!

  7. sebuah ulasan yang bagus ^^d. memang bukan rahasia lagi, kalo lagi ta’lim mesti yang paling bikin gaduh itu ya anak2. tp, mau gimana lagi yhaa, namanya juga anak2..apalagi suasana ta’lim yang ngebetein buat mereka, plus dicuekin sama ibunya, jadilah mereka cari2 perhatian. ini yang bikin para ummahat ngga konsen dengerin ta’lim.belum lagi ramenya anak2 yg asyik bermain sama teman2nya *pusiiiinng..

    ada usul nih, terinpirasi dri pembagian tempat sholat khusus wanita di masjid nabawi yang memisahkan antara wanita yg membawa anak dan tidak. semoga bukan sebuah diskriminasi ant. ummahat dan bukan ummahat.jd yang tdk mmbawa anak di bgian depan yg kemudian diberi batas, dan ummahat yg membawa anak dibelakang. perlu penjaga juga,untuk mencegah anak2 yg mau nyelonong masuk ke bag.depan.
    insyaAllah para ummahat yg bawa anak tidak merasa d pinggirkan ya,,malah harusnya sadar dan memaklumi.
    Salam ukhuwwah..

  8. @ummu rozan
    di sebagian tempat, mgkn hal ini sdh diberlakukan, baik itu formal dr penyelenggara ta’lim seperti ketika diselenggarakan daurah di PP Jamilurrahman, Wirokerten, Bantul, Jogja dan secara tidak formal (Inisiatif peserta sendiri, karena memungkinkan utk terpisah dg peserta yg tdk membawa anak atau bawa anak ttp msh tenang)seperti pada kajian Ust. Aris Munandar, Sabtu pagi di Masjid Pogung Raya, Yogyakarta.
    Bila ada tempat kajian yg hendak memberlakukan hal ini, hendaknya tetap memperhatikan apakah suara msh bisa terdengar oleh ummahat yang terpisah tadi. Jadi, meski yang masuk di kepala hanya sekian persen, diharapkan persentase lebih besar daripada kalau suaranya tidak terdengar/samar2 oleh ummahat.

  9. alhamdulillah,klu ada daurah di pekanbaru di sediain tmpt khusus buat yg bawa ank umm.jadi ruangan terpisah antara yg bw anak dg yg gak.klu kjian harian biasanya yg bw ank tau sndri umm,dduk dteras msjid.

  10. subhanallaah…jd ngiri bc comen para ummahat ttg ta’lim.kepingiiin banget tau rasanya ta’lim. Selama ini bisanya cuma ta’lim sndri dirumah dg dengerin radio streaming dan kajian2 di internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *